banner 728x250

Naikkan harga BBM, pemerintah abai terhadap suara rakyat

foto ilustrasi akurat.co

KINERJAEKSELEN.co, Jakarta –  Keputusan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi ‘pil pahit’ bagi masyarakat, di tengah situasi ekonomi yang hingga kini belum pulih akibat terpaan badai Covid-19.

Akibat kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM per 3 September 2022 tersebut,  bisa dipastikan akan diikuti kenaikan bahan-bahan kebutuhan pokok. Bahkan,  pengusaha mulai menyesuaikan kenaikan produk dan jasa yang ditawarkan kepada masyarakat. Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mengumumkan kenaikan tarif angkutan barang sebesar 25% mulai hari ini, Senin (5/9/2022)

Anggota DPR RI dari Partai Demokrat, Irwan mengatakan, Presiden Joko Widodo telah mengabaikan suara rakyat.

Menurut Irwan, kenaikan BBM ini adalah bentuk abai dan tidak pedulinya pemerintah terhadap derita dan kesusahan rakyat.

Menurut dia, Presiden Jokowi lebih memilih menambah masalah rakyat dibandingkan memenuhi amanat konstitusi untuk mensejahterakan rakyat.

Irwan menyebut, Jokowi tak peduli pada suara publik yang menolak kenaikan harga BBM bersubsidi. Ia pun mengingatkan, bahwa kenaikan harga BBM subsidi, akan berdampak langsung kepada masyarakat kecil, dan akan berdampak pula pada kenaikan harga di sektor-sektor lain.

“ Presiden telah abai mendengarkan suara rakyat. Dengan kenaikan BBM ini akan berdampak langsung bagi rakyat kecil menengah seperti UMKM, buruh, tani, nelayan, bahkan karyawan-karyawan swasta  maupun pegawai pemerintahan sendiri,” kata Irwan, dikutip dari CNN Indonesia.

Diungkapkan Irwan, sektor-sektor lain yang akan berdampak pada kenaikan BBM seperti biaya pendidikan, kesehatan, pariwisata, infrastruktur dan lain-lain.

“ Pemerintah tidak konsisten dan komitmen untuk menjaga inflasi yang mereka targetkan yaitu 3,3 persen. Kenaikan BBM ini akan menaikkan inflasi dan serta merta menambah kemiskinan,” ujarnya.

Keputusan naikkan BBM, masyarakat tak terima sampai kiamat

Senada dengan Irwan, Wakil Ketua Partai Gelora Fahri Hamzah menilai kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, merupakan keputusan yang tidak akan pernah diterima masyarakat sampai kiamat.

Menurut mantan Wakil Ketua DPR RI ini, kebijakan itu hanya akan menambah beban hidup masyarakat, yang masih terpukul akibat pandemi Covid-19.

“ Hal itu tidak akan pernah diterima rakyat sampai kiamat. Rakyat menganggap pencabutan subsidi akan menambah kesulitan hidup mereka,” kata Fahri dalam keterangannya, Minggu (4/9).

Alasan pemerintah yang menyebut BBM bersubsidi selama ini salah sasaran dan hanya dinikmati kelas menengah atas, menurut Fahri, hanya retorika.

“ Pemerintah hanya mencari-cari alasan,” ucap dia.

Fahri pun mengingatkan agar pemerintah tidak tunduk pada pelaku usaha yang menolak subsidi BBM.

“ Mereka kaum kapitalis, ingin kompetisi berlangsung sempurna, tidak ingin ada subsidi-subsidi, semua harus diserahkan ke mekanisme pasar,” kata Fahri

Sebelumnya, pemerintah secara resmi mengumumkan kenaikan harga BBM pada Sabtu (3/9). Dalam pengumuman itu disampaikan, harga Pertalite naik dari Rp 7.650 menjadi Rp 10 ribu per liter. Pertamax dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter.

Presiden Jokowi mengatakan, anggaran subsidi dan kompensasi BBM pada 2022 telah meningkat tiga kali lipat dari Rp 152,5 triliun menjadi Rp502 triliun, dan angkanya diprediksi akan terus meningkat.

Menurut Presiden Jokowi,  keputusan untuk menaikkan harga BBM subsidi menjadi pilihan terakhir untuk mengurangi beban subsidi yang semakin besar.

[Jgd/red]

 

 

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *