Kinerjaekselen.co – Sebuah kecelakaan tragis menimpa rombongan pelajar SMP IT Darul Qur’an Mulia (DQM) Gunung Sindur, Bogor, di KM 77+200 A Tol (23/12/24). Pandaan-Malang arah Surabaya-Malang. Kejadian ini menjadi sorotan tajam terkait pengawasan dan pelaksanaan kegiatan sekolah yang mengabaikan imbauan pemerintah, khususnya study tour, yang diduga masih diwarnai unsur bisnis terselubung antara pihak sekolah dan pengusaha perjalanan.
Menurut laporan awal, insiden ini mencerminkan lemahnya ketegasan Dinas Pendidikan terhadap himbauan pemerintah mengenai pelaksanaan kegiatan study tour. Seringkali, pihak sekolah berdalih bahwa kegiatan tersebut telah disetujui oleh komite sekolah atau kesepakatan orang tua siswa, namun fakta di lapangan menunjukkan banyaknya pelanggaran terhadap regulasi yang seharusnya menjamin keselamatan siswa.
Pemerintah telah mengeluarkan sejumlah himbauan untuk memperketat pelaksanaan study tour, terutama di daerah seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah. Salah satu poin penting adalah larangan perjalanan ke luar kota demi meningkatkan keselamatan siswa. Pemerintah juga menyarankan agar kegiatan edukasi dilakukan di dalam kota dengan fokus pada nilai kebudayaan lokal. Sayangnya, pelanggaran terhadap kebijakan ini masih kerap terjadi.
Kecelakaan seperti ini bukan yang pertama kali. Beberapa tahun lalu, tragedi di Subang yang menewaskan 11 pelajar juga menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan. Pemerintah telah mengatur bahwa kegiatan seperti study tour tidak boleh membebani orang tua secara finansial, dan harus mendapatkan persetujuan yang benar-benar transparan.
Sejumlah pihak menduga adanya unsur bisnis antara pihak sekolah dan pengusaha tour dan travel dalam pelaksanaan study tour ini. Kegiatan yang seharusnya bertujuan edukatif seringkali berubah menjadi ajang komersial. Dalam banyak kasus, kesepakatan antara sekolah dan pihak ketiga dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek keselamatan siswa.
“Kami sering mendapat jawaban standar dari pihak sekolah, bahwa kegiatan ini sudah disetujui oleh komite sekolah dan orang tua siswa. Namun, siapa yang benar-benar mengawasi? Apakah keselamatan siswa menjadi prioritas utama?” ungkap awak media tiap meminta konfirmasi kepada pihak kepala sekolah yang mengadakan kegiatan study tour keluar kota, biasanya tujuan ke Yogyakarta.
Pemerintah perlu segera mengambil langkah tegas terhadap sekolah-sekolah dan Dinas Pendidikan yang melanggar aturan ini. Penegakan sanksi bagi pelanggar harus dilaksanakan untuk memberikan efek jera. Selain itu, audit terhadap kerja sama antara sekolah dan pengusaha perjalanan juga harus dilakukan untuk memastikan tidak ada kepentingan komersial yang membahayakan siswa.
Tragedi ini seharusnya menjadi momentum bagi semua pihak untuk introspeksi. Keselamatan siswa adalah prioritas utama yang tidak boleh dikompromikan oleh alasan apapun, termasuk keuntungan bisnis. Regulasi yang sudah ada harus diterapkan secara ketat, dan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan sekolah perlu ditingkatkan demi mencegah tragedi serupa terulang.
[ NIKO]













