Viral Penganiayaan Anak Bos Toko Roti Diduga “Brain Rot” Akar Penyebab Pelakunya Menjadi mem Babi Buta

Viralnya video seorang anak bos toko roti di Cakung, Jakarta Timur, berinisial GSH, yang melakukan penganiayaan terhadap pegawainya, DAD, menyorot isu serius mengenai kesehatan mental anak muda. Dalam video yang beredar luas, GSH terlihat melemparkan kursi ke arah DAD hingga menyebabkan luka serius di kepala. Perilaku agresif tersebut memicu spekulasi bahwa GSH mengalami gangguan mental yang disebut “Brain Rot”, sebuah fenomena yang muncul akibat konsumsi konten media sosial secara berlebihan dan tidak sehat.

Brain rot adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan dampak negatif konsumsi konten digital yang tidak berkualitas terhadap otak, terutama pada anak muda. Fenomena ini ditandai dengan menurunnya kemampuan berpikir logis, pengendalian emosi yang buruk, dan kebiasaan hidup tidak produktif akibat terlalu sering menghabiskan waktu menonton konten yang tidak mendidik di media sosial.

Dalam kasus GSH, ia diduga tumbuh sebagai anak yang terlalu dimanjakan oleh orang tuanya. Dengan segala kebutuhannya yang selalu tercukupi, ia terbiasa hidup nyaman tanpa perlu menghadapi tekanan atau tantangan berarti. Pola asuh seperti ini sering kali berujung pada pembentukan karakter yang rentan terhadap frustrasi dan emosi negatif. Ketika dipadukan dengan kebiasaan menyendiri dan mengonsumsi konten digital berkualitas rendah, kondisi mental seperti brain rot menjadi semakin mungkin terjadi.

Pola asuh yang terlalu memanjakan anak tanpa memberikan batasan yang jelas sering kali membuat anak tumbuh tanpa kemampuan untuk menghadapi konflik secara sehat. Dalam kasus GSH, membuktikan ketidakmampuannya untuk mengendalikan amarah. Ditambah lagi, kebiasaannya mengisolasi diri di kamar dan terpapar konten tak mendidik di media sosial memperburuk kondisi mentalnya.

Kita juga melihat bagaimana teknologi yang seharusnya bermanfaat malah menjadi bumerang ketika digunakan tanpa kendali.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi orang tua, pendidik disekolah, dan masyarakat luas. Perlakuan yang terlalu memanjakan anak tanpa mengajarkan nilai-nilai kedisiplinan dan tanggung jawab dapat berdampak buruk. Orang tua perlu lebih aktif memantau konsumsi digital anak-anak mereka, memastikan bahwa apa yang mereka tonton adalah konten yang membangun, bukan merusak.

Selain itu, penting juga memberikan ruang kepada anak untuk belajar menghadapi tantangan, mengelola stres, dan memahami konsekuensi dari tindakan mereka. Intervensi seperti konseling keluarga, terapi perilaku, atau bahkan pembatasan akses terhadap media sosial dapat menjadi solusi untuk mencegah terulangnya kasus serupa.

Kasus GSH seharusnya menjadi peringatan bagi semua pihak tentang bahaya brain rot. Kehadiran media sosial dan teknologi tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan dengan pengawasan yang tepat. Membatasi konsumsi konten yang tidak berkualitas, memberikan edukasi tentang literasi digital, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan nyata adalah langkah-langkah konkret untuk melindungi generasi muda dari masalah mental yang mengancam.

Hukum mungkin bisa memberikan sanksi pada GSH, tetapi akar masalahnya ada pada pola asuh dan kebiasaan sehari-harinya. Kasus ini adalah cerminan dari tantangan besar di era digital, bagaimana membentuk generasi yang tidak hanya melek teknologi tetapi juga memiliki kepribadian yang sehat dan bertanggung jawab. Jika kita tidak bertindak sekarang, “generasi brain rot” mungkin menjadi realitas yang menyedihkan di masa depan.

[ Catatan Niko ]

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *