Di era digital, istilah “brain rot” mulai mendapat perhatian sebagai fenomena yang semakin meluas. Meski sering dianggap remeh, kondisi ini ternyata memiliki dampak serius, tidak hanya pada anak-anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang, tetapi juga menyerang pada orang dewasa. Brain rot adalah istilah tidak resmi yang digunakan untuk menggambarkan penurunan kondisi mental akibat konsumsi berlebihan terhadap konten digital tidak berkualitas, terutama dari media sosial.
Fenomena ini mencerminkan dampak buruk scrolling media sosial tanpa tujuan. Aktivitas ini mungkin terlihat sederhana, walaupun dianggap sebatas sensasi hiburan, namun efeknya dapat mengikis kemampuan otak untuk berpikir kritis serta mengurangi daya fokus. Brain rot sering kali memperlihatkan gejala seperti:
1. Penurunan kemampuan kognitif, termasuk kesulitan berkonsentrasi dan daya ingat yang melemah.
2. Penurunan produktivitas, dengan meningkatnya kebiasaan menunda pekerjaan dan seringnya bermalas-malasan.
3. Gangguan suasana hati, seperti kecemasan, mudah tersinggung, hingga depresi.
4. Ketergantungan pada informasi tidak valid, seperti mudah percaya pada berita hoaks atau konten setingan..
Langkah preventif sangat penting untuk menghindari dampak buruk dari brain rot. Beberapa strategi yang bisa diterapkan adalah:
1. Batasi waktu penggunaan media sosial: Maksimal 1-2 jam sehari. Disarankan para orang tua bisa membatasi anak dalam penggunaan android.
2. Tetapkan jadwal rutin: Gunakan media sosial pada waktu yang sudah ditentukan.
Meskipun brain rot bukan diagnosis medis resmi, fenomena ini sangat nyata dan bisa berdampak fatal jika tidak ditangani. Dalam menghadapi derasnya arus informasi digital, masyarakat perlu lebih selektif dalam memilih konten yang dikonsumsi. Dengan mengenali gejala dan penyebabnya, langkah pencegahan bisa dilakukan sejak dini, sehingga kita dapat menjaga kesehatan mental dan produktivitas di tengah era digital yang penuh tantangan.
[ Opini NIKO ]













