Pendidikan adalah fondasi utama dalam pembangunan sebuah bangsa. Tidak hanya dari sisi akademik, namun juga dari pembentukan karakter dan mental generasi muda. Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, merencanakan jalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Januari 2025.
Program ini bertujuan memberikan makanan bergizi untuk anak-anak sekolah dan ibu hamil guna mengatasi masalah gizi buruk dan stunting yang kerap menjadi hambatan kesehatan di Indonesia. Meskipun niat program ini baik, ada aspek lain yang juga tak kalah penting untuk mendukung masa depan bangsa yaitu, pembentukan mental dan psikologis siswa. Salah satu solusi yang patut dipertimbangkan adalah penerapan hipnoterapi massal di sekolah sebagai pendamping, guna menciptakan generasi yang kuat secara fisik dan mental.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Antara Niat Baik dan Potensi Penyimpangan
Program MBG mengusung anggaran besar dengan tujuan baik dalam memperbaiki kualitas gizi anak-anak di sekolah. Makanan bergizi yang disediakan diharapkan dapat meningkatkan kesehatan siswa, yang pada gilirannya mendukung keberhasilan mereka dalam pendidikan dan kehidupan. Namun, dengan anggaran yang besar dan pengelolaan yang melibatkan banyak pihak, ada potensi penyimpangan yang mengancam keberhasilan program ini.
Banyak ditemukan yang mengindikasikan kemunculan berbagai organisasi external baru, yang mengklaim berhubungan dengan pemerintah, atau dibentuk langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, yang menawarkan program kerja mengurusi program MBG dan tiap anggotanya akan peroleh penghasilan besar tiap bulannya, namun legalitas dan kejelasan mereka belum dapat dipastikan.
Fenomena ini mengindikasikan adanya potensi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang bisa merugikan negara dan menurunkan kualitas pelaksanaan program ini. Dengan anggaran yang besar, program ini berisiko mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, baik dalam pengadaan bahan baku makanan maupun distribusinya.
Penyalahgunaan anggaran ini dapat berujung pada pemborosan dan rendahnya kualitas makanan yang disajikan. Hal ini tentu merugikan negara. Dan siswa yang justru membutuhkan makanan bergizi untuk mendukung konsentrasi belajar dan perkembangan fisiknya, akan berbeda cerita, karena para oknum tertentu bisa memanipulasi bahan baku, misalkan salah satunya demi dapatkan keuntungan besar dengan alasan bahan makanan bergizi, pelaku membeli telur infertil dengan harga sangat murah, alhasil bukan makanan bergizi yang didapat, tetapi sumber penyakit yang didapat.
Sementara itu, hipnoterapi massal di sekolah bisa menjadi pendekatan yang jauh lebih berkelanjutan dan berdampak jangka panjang. Di tengah derasnya arus informasi dan efek negatif dari media sosial yang semakin sulit dikontrol oleh orang tua maupun guru, anak-anak sekolah membutuhkan lebih dari sekadar makanan bergizi. Mereka memerlukan cara untuk mengelola tekanan mental dan emosional yang datang dari berbagai sumber eksternal, seperti pergaulan bebas, bullying, dan pengaruh media sosial.
Meskipun Program Makan Bergizi Gratis dapat memberikan kontribusi besar terhadap kesehatan fisik siswa, faktor psikologis dan mental mereka juga sangat penting. Program ini akan lebih efektif jika didukung oleh metode yang memperkuat karakter dan mental siswa. Makanan yang bergizi memang penting, tetapi pola pikir yang sehat dan karakter yang kuat akan memastikan bahwa gizi yang diterima dapat diserap secara maksimal oleh tubuh dan menjadi dasar untuk kesuksesan akademik dan sosial siswa.
Hipnoterapi, dengan biaya yang lebih efisien dan dampak jangka panjang, berpotensi menjadi solusi yang lebih baik dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga mental. Dengan meningkatkan daya tahan psikologis siswa terhadap tekanan dan pengaruh negatif, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan positif di sekolah. Ini akan mengurangi potensi permasalahan seperti tawuran pelajar dan perilaku negatif lainnya yang kerap mengganggu proses pendidikan, serta kondisi psikis individu siswa.
Pemerintah perlu memastikan bahwa program MBG dapat dijalankan dengan transparansi dan akuntabilitas yang tinggi, mengingat potensi penyimpangan yang ada. Namun, pemerintah juga harus mempertimbangkan solusi lain yang lebih berfokus pada pembentukan karakter, seperti penerapan hipnoterapi massal di sekolah. Dengan kombinasi keduanya, Indonesia dapat membangun generasi muda yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks.
Semoga di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kebijakan yang diambil tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik siswa, tetapi juga memberikan perhatian lebih pada kesejahteraan mental dan psikologis mereka.
[Catatan Niko]











