Oleh: Syahril Syam *)
Saat seorang insinyur ingin membangun sebuah rumah, maka terlebih dahulu rumah tersebut sudah selesai dibangun di dalam mentalnya. Dan kalau sekiranya di tengah pembangunan rumah tersebut, tiba-tiba ada perubahan yang dilakukan – seperti mengganti jenis bahan bangunan, jenis kaca yang digunakan, atau warna cat dinding rumah – maka perubahan tersebut tidak akan pernah terwujud kecuali telah mengalami perubahan pada mentalnya. Artinya, si insinyur tidak akan pernah melakukan perubahan di tengah proses pembangunan, kecuali ia juga telah memikirkan dan telah tercipta perubahan tersebut sebelumnya pada mentalnya.
Setiap tindakan kita tidak akan pernah terwujud di kenyataan hidup, tanpa terlebih dahulu tercipta pada mental kita, baik itu kita sadari maupun tidak disadari. Kenyataan mental adalah kenyataan yang hadir pada diri kita tanpa ada pemisah antara diri kita dengan objek kenyataan mental, baik berupa perasaan ataupun gambaran mental. Apapun yang ada di kenyataan mental, semuanya tersimpan dalam bentuk program-program di bawah sadar kita. Dan kita jarang mengetahui berupa apa saja program di bawah sadar kita. Kita hanya sesekali menyadari bahwa kita merasakan sesuatu atau hadir gambaran mental, yang dengan itu mendorong kita bertindak.
Uniknya, kenyataan mental kita tidak dipengaruhi oleh waktu. Kita bisa membuat (baca: memprogram) kenyataan mental kita kapanpun dan dimanapun, tanpa dibatasi waktu dan tempat. Seperti halnya si insinyur di atas dalam menciptakan rumah di mentalnya yang samasekali tidak dipengaruhi waktu. Namun untuk mewujudkan rumah di dalam mental ke kenyataan hidup (realitas eksternal) tentu saja membutuhkan waktu karena kenyataan hidup senantiasa dipengaruhi waktu.
Jadi pada prinsipnya semua yang terjadi pada diri kita di kenyataan hidup (realitas eksternal), telah terlebih dahulu mewujud di mental kita. Dan perwujudannya berupa berbagai program yang tersimpan di bawah sadar kita. Dan seringkali program tersebut hadir sebagai akibat dari umpan balik yang kita terima ketika masih kecil hingga tumbuh dewasa. Sehingga dengan menyadari kenyataan ini, kita sudah semestinya belajar untuk menciptakan (baca: memprogram) diri kita sendiri dengan membuat program-program konstruktif di mental kita, agar hidup yang dijalani adalah hidup yang penuh makna di tengah gelombang kehidupan.
@pakarpemberdayaandiri












