Opini  

Benarkah Telah Ikhlas Memaafkan?

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Ada begitu banyak kasus terapi yang pada akhirnya terkuak bahwa selama ini para klien yang diterapi belum benar-benar memaafkan orang-orang yang pernah menyakitinya. Kebanyakan orang seringkali berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia harus rela dan move on dari peristiwa traumatik. Mereka juga berusaha untuk melupakan peristiwa dan orang-orang yang telah menyakiti hati mereka. Juga berusaha berpikir positif. Harapannya adalah agar bisa kembali menjalani hidup dengan normal tanpa mesti dihantui oleh peristiwa dan orang-orang dari masa lalu yang menyakitkan hati.

Salah satu cara mengenal diri adalah dengan mengenal berbagai perasaan/emosi yang kita rasakan. Ini penting karena setiap sikap dan perilaku kita adalah dari dorongan perasaan/emosional. Sayangnya, semua perasaan kita tersimpan rapi di bawah sadar sehingga agak sulit untuk dideteksi perasaan apa saja yang kita rasakan yang menjadi penyebab munculnya sikap dan perilaku destruktif. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa jika kita menyadari adanya masalah pada sikap dan perilaku tertentu pada diri kita, maka itu berarti ada perasaan/emosi tertentu yang kita rasakan yang terkait dengan masalah sikap dan perilaku tersebut.

Tangan dan kaki yang sering berkeringat tanpa sebab, sebenarnya disebabkan oleh adanya perasaan tertentu yang dirasakan dan biasanya perasaan itu hadir karena adanya peristiwa traumatik masa lalu. Tiba-tiba menjadi orang yang mager – padahal dulunya ceria dan rajin – adalah juga karena adanya emosi tertentu yang muncul akibat peristiwa traumatik masa lalu.

Suka menggigit kuku, sulitnya mendapatkan promosi padahal sisa selangkah lagi, pekerjaan yang tanpa sebab tiba-tiba menjadi gagal padahal telah dibantu oleh orang yang memiliki pengaruh sekalipun, dan masih banyak lagi sikap dan perilaku yang bermasalah, serta kejadian-kejadian yang entah bagaimana menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Semua itu karena adanya emosi yang pada dasarnya hadir dan menjadi sebab itu semua.

Dan karena perasaan destruktif itu hadir akibat peristiwa traumatik, maka selama perasaan destruktif itu masih ada, selama itu pula seseorang belum benar-benar memaafkan siapapun yang telah menyakitinya. Karena perasaan yang mendorong untuk memaafkan akan selalu diblokir oleh perasaan destruktif tersebut. Baru-baru ini ada kasus yang dibantu tangani karena tanpa sebab ia menjadi orang suka bermalas-malasan (padahal dulunya ia gila kerja), target yang biasanya mudah dicapai menjadi sangat sulit dicapai, dan banyak pekerjaan yang entah bagaimana menjadi berhenti di tengah jalan.

Awlanya ia mengira ada pengaruh guna-guna, sehingga telah banyak orang pintar yang ia kunjungi. Dan seperti biasa, para orang pintar itu selalu memberikan jawaban yang kurang lebih sama, yaitu ada yang mengirim pengaruh mistis. Mungkin juga benar bahwa ada pengaruh mistis dari orang lain, namun tanpa kita sadari, pengaruh mistis itu sebenarnya telah memengaruhi perasaan/emosi dan kemudian hadir emosi destruktif dan menjadi sebab bagi sikap, perilaku, dan pekerjaan yang cenderung mandek. Jadi, ada atau tidak adanya pengaruh mistis, masalahnya adalah pada perasaan destruktif.

Dan dalam mengubah masalah ini mesti mengacu pada prinsip dasarnya, yaitu hanya perasaan yang bisa menggantikan perasaan. Perasaan destruktif hanya bisa digantikan dengan perasaan yang konstruktif, dan bukan oleh pikiran positif. Karena pengaruh pikiran positif terhadap perasaan hanya sekitar 1% – 5%.

Dengan demikian, langkah pertama adalah kita mesti jujur dengan diri kita sendiri, jujur dengan apa yang kita rasakan saat menghadapi peristiwa traumatik tersebut. Jangan lari dari masalah dan jangan berusaha melupakan peristiwa dan orang yang terkait masalah itu. Karena hal itu justru – tanpa disadari – membuat emosi destruktif mengendap di kedalaman bawah sadar dan akhirnya menjadi pemicu bagi lahirnya sikap dan perilaku yang destruktif.

ita harus mengakui berbagai perasaan yang menyakitkan itu dan tahu cara melepaskannya, agar pada akhirnya kita benar-benar tulus memaafkan siapapun yang pernah menyakiti kita. Karena hanya dengan tulus memaafkan orang-orang yang terkait peristiwa traumatik, kita baru benar-benar bisa move on. Dan bukan dengan berusaha menghindari dan melupakan segalanya yang terkait peristiwa traumatik itu.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *