Oleh: Syahril Syam *)
Tidak sedikit orang yang merasa bahwa semua keberhasilan yang mereka capai sepenuhnya berasal dari usaha dan kerja keras mereka sendiri. Tanpa disadari, mereka menganggap diri sebagai satu-satunya penyebab utama di balik pencapaian tersebut. Pandangan ini tampak masuk akal di permukaan, karena memang ada usaha yang dilakukan, waktu yang dikorbankan, dan strategi yang diterapkan.
Namun, jika dicermati lebih dalam, pandangan ini mengabaikan banyak faktor lain yang sebenarnya turut andil dan bahkan sangat menentukan. Dalam ilmu pengetahuan sosial maupun filsafat, pandangan yang hanya menekankan pada usaha individu disebut sebagai bentuk kesadaran parsial, karena hanya melihat sebagian dari kenyataan.
Padahal, dalam realitas yang utuh, pencapaian seseorang adalah hasil dari rangkaian sebab-akibat yang saling terkait, dan tidak mungkin berdiri sendiri tanpa kontribusi dari faktor-faktor eksternal dan tak kasatmata. Mengakui hal ini bukan berarti mengecilkan usaha diri, tetapi menyadari bahwa keberhasilan adalah hasil dari taufik Sang Maha Sempurna yang turun kepada usaha manusia yang selaras dengan hukum alam. Kesadaran semacam ini membuka ruang bagi rasa syukur, kerendahan hati, dan pengakuan terhadap kekuatan yang lebih besar dari diri sendiri.
Dalam pandangan Filsafat Hikmah, diyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini memiliki tingkatan keberadaan. Artinya, “ada” bukan sesuatu yang datar atau sama rata, melainkan berjenjang – mulai dari tingkat yang paling lemah hingga yang paling sempurna dan mutlak.
Setiap makhluk – entah itu manusia, hewan, benda mati, bahkan pikiran dan cahaya – memiliki kadar eksistensi atau derajat keberadaan yang berbeda-beda. Puncak dari segala wujud adalah Wujud Mutlak, yaitu Sang Maha Sempurna. Berbeda dengan makhluk yang keberadaannya bergantung pada sebab lain, Sang Maha Sempurna adalah satu-satunya yang tidak bergantung pada apa pun. Justru, seluruh makhluk ada karena bergantung kepada-Nya.
Ini bisa diibaratkan seperti tingkatan cahaya: ada cahaya lilin yang redup, cahaya lampu yang sedang, dan cahaya matahari yang terang benderang. Semuanya adalah cahaya, tetapi kualitas dan kekuatannya tidak sama. Lilin tidak bisa menyinari seluruh ruangan seperti lampu, dan lampu tidak bisa menyinari bumi seperti matahari. Namun, semuanya tetap berasal dari hakikat yang sama: cahaya. Dalam analogi ini, Sang Maha Sempurna bisa dipahami sebagai “Matahari Mutlak”, sumber dari semua cahaya. Tanpa-Nya, tidak akan ada cahaya apa pun.
Dengan kata lain, tanpa Wujud Mutlak, tak akan ada wujud lain yang bisa muncul. Semua yang ada hanyalah pantulan, pancaran, atau bayangan dari keberadaan-Nya yang sempurna. Semua selain-Nya adalah bergantung dan menerima wujud, bukan memilikinya secara mandiri. Maka setiap hal yang “ada” pasti sedang diberi “ada” oleh-Nya.
Selain sebagai sumber awal penciptaan, Sang Maha Sempurna juga berperan sebagai penopang keberadaan segala sesuatu setiap saat. Artinya, makhluk tidak hanya membutuhkan Sang Maha Sempurna ketika pertama kali diciptakan, tetapi juga membutuhkan-Nya secara terus-menerus agar tetap ada dan berlangsung. Keberadaan segala sesuatu di alam semesta ini bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan selalu bergantung pada kehendak dan dukungan aktif dari Wujud Mutlak.
Untuk memahaminya, bayangkan sebuah layar putih tempat film diputar. Gambar-gambar yang tampak di layar itu hanya bisa muncul karena adanya proyektor yang menyinari layar dengan rangkaian gambar bergerak. Jika proyektor itu dimatikan walau satu detik saja, maka semua yang tampak di layar akan langsung lenyap. Tidak ada gambar, tidak ada cerita – hanya layar kosong.
Begitu pula dengan realitas kehidupan: seluruh gerak, peristiwa, dan keberadaan setiap makhluk adalah seperti gambar dalam film yang sedang berlangsung, yang hanya bisa ada karena “proyektor Ilahi”, yaitu kehendak dan dukungan Sang Maha Sempurna – terus menyinari dan menopangnya setiap detik. Dengan pemahaman ini, kita menyadari bahwa setiap napas, langkah, dan bahkan lintasan pikiran bukanlah sesuatu yang otonom atau berdiri sendiri, melainkan selalu berada dalam pengawasan dan daya cipta Sang Pencipta. Setiap detiknya adalah wujud yang sedang ditopang oleh kasih dan kekuasaan Sang Maha Sempurna.
Oleh sebab itu, Sang Maha Sempurna disebut sebagai Sebab dari Segala Sebab. Maksudnya, di balik semua sebab yang tampak di dunia – seperti hukum alam, manusia, teknologi, atau waktu – ada satu sebab utama yang menggerakkan dan menopang semuanya, yaitu Sang Maha Sempurna. Tanpa-Nya, tidak ada sebab lain yang bisa bekerja, dan tidak ada akibat yang bisa terjadi. Untuk memahaminya secara sederhana, bayangkan sebuah sistem kelistrikan besar di sebuah gedung. Di dalamnya terdapat banyak alat: lampu menyala, mesin beroperasi, AC berfungsi. Semuanya tampak hidup dan bekerja. Namun, semua itu hanya mungkin terjadi karena ada arus listrik utama yang mengalir ke seluruh sistem. Jika arus utama itu terputus, maka seluruh alat, meskipun masih utuh secara fisik, akan langsung mati dan tidak bisa berfungsi sama sekali.
Dalam ilustrasi ini, arus listrik utama adalah lambang dari peran Sang Maha Sempurna dalam keberadaan semesta. Sang Maha Sempurna tidak hanya menciptakan makhluk lalu membiarkannya berjalan sendiri, tapi terus-menerus mengaliri, menghidupkan, dan menopang segala sesuatu agar tetap “ada” dan “berjalan”. Tanpa arus Ilahi itu, seluruh jagat raya akan lenyap seketika.
Keberhasilan seringkali terlihat seolah-olah sepenuhnya merupakan buah dari usaha pribadi. Namun, jika ditelaah lebih jujur dan dalam, banyak faktor penting yang menyertainya sebenarnya berada di luar kendali manusia. Kita memang berusaha – belajar, bekerja keras, mengambil keputusan – tetapi semua itu berlangsung di dalam kerangka anugerah yang lebih besar yang tidak kita ciptakan sendiri.
Pertama, kesehatan adalah fondasi utama untuk bisa berusaha. Tapi bisakah kita menciptakan sendiri jantung yang berdetak, paru-paru yang bekerja, atau sel-sel otak yang berfungsi? Tidak. Semua itu diberikan, bukan diciptakan oleh kehendak kita. Kedua, waktu dan peluang – dua hal yang krusial dalam keberhasilan – juga tidak bisa kita atur sesuka hati. Kita tidak bisa memilih dilahirkan di tempat dan zaman tertentu, atau menentukan siapa yang akan kita temui dan kapan sebuah kesempatan akan muncul. Ketiga, dukungan orang lain – baik keluarga, teman, guru, atasan, bahkan orang asing – selalu punya andil dalam keberhasilan kita, walau kadang tidak disadari.
Dan yang menarik, bahkan ide atau inspirasi yang sering menjadi titik awal dari kesuksesan pun sering datang begitu saja, bukan hasil dari pemikiran logis yang kita atur sepenuhnya. Dengan kata lain, keberhasilan bukan semata-mata hasil dari kehendak pribadi. Logika sederhananya begini: jika kita saja tidak mampu menciptakan denyut jantung kita sendiri, maka bagaimana kita bisa mengklaim bahwa seluruh keberhasilan adalah murni karena kita? Bahkan hidup itu sendiri adalah pemberian, bukan hasil karya kita. Mengklaim keberhasilan sebagai hasil mutlak dari diri sendiri – dengan berkata, “Ini karena aku” – secara tak sadar berarti mengangkat diri sebagai sebab utama dari suatu akibat.
Kita menempatkan diri seolah-olah kita adalah pusat dari segala yang terjadi, dan melupakan bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang menopang segala keberadaan. Pandangan ini bukan hanya keliru secara spiritual, tetapi juga bertentangan dengan logika wujud dalam filsafat. Dalam pandangan ontologi Filsafat Hikmah, segala sesuatu yang ada (makhluk) tidak pernah berdiri sendiri. Tidak ada akibat yang terlepas dari sebab utamanya. Tidak ada makhluk yang mandiri dari Sang Pencipta. Segala yang kita sebut “hasil” atau “pencapaian” hanyalah mungkin terjadi karena keberadaannya ditopang terus-menerus oleh Tuhan, Sang Wujud Mutlak. Maka, saat seseorang mengklaim, “Keberhasilan ini murni karena usahaku”, ia sebenarnya sedang membangun ilusi egois yang bertentangan dengan hakikat eksistensial.
Mengklaim keberhasilan sebagai milik sendiri sama saja dengan mengklaim bahwa cahaya bisa bersinar tanpa matahari. Padahal, cahaya hanyalah mungkin ada karena bersumber dari matahari. Tanpa matahari, cahaya tidak akan pernah muncul. Begitu pula keberhasilan – tanpa Sang Maha Sempurna sebagai penyebab utama, segala usaha tidak akan menghasilkan apa-apa. Bahkan keberadaan usaha itu sendiri bergantung pada-Nya. Dengan kesadaran bahwa Sang Maha Sempurna adalah Sebab dari Segala Sebab membawa kita pada pandangan hidup yang lebih dalam: bahwa di balik semua pencapaian, keberhasilan, peristiwa, dan hukum-hukum alam, selalu ada tangan tak terlihat yang menjadi kekuatan utama.
Maka, klaim keberhasilan karena diri sendiri adalah bentuk kemelekatan ego dan kebodohan eksistensial. Sebaliknya, kesadaran bahwa kita hanyalah saluran manifestasi-Nya akan membebaskan jiwa, menundukkan ego, dan meninggikan maqam spiritual. Membuat kita menjadi lebih berserah, lebih bersyukur, dan lebih bijak dalam menjalani kehidupan. Usaha tetap penting, tapi kita tidak menjadi sombong karenanya. Justru, kita menyadari bahwa berada dalam posisi untuk bisa berusaha saja sudah merupakan bentuk kasih sayang dan limpahan dari-Nya.
@pakarpemberdayaandiri










