Catatan Untuk UMKM: Dari Ingin ke Menjadi

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam

Kalau dipikir-pikir, siapa sih yang tidak mau sukses? Hampir semua orang pasti punya keinginan itu. Banyak yang kemudian memutuskan untuk memulai bisnis atau usaha, berharap jalan menuju kesuksesan akan terbuka lebar. Namun, yang sering tidak disadari adalah mereka terjebak dalam kondisi mental yang hanya sebatas “ingin”. Kalau kita bedah, “meng-ingin-kan” itu sebenarnya berarti kita merasa belum punya atau belum menjadi sesuatu, sehingga fokusnya adalah berusaha “mengambil” atau “mendapatkan” dari luar diri. Secara psikologis, energi di balik “ingin” biasanya lahir dari rasa kurang atau rasa tidak cukup (sense of lack).

Misalnya, ketika kita berkata, “Aku ingin kaya”, secara tidak langsung kita sedang mengakui bahwa saat ini kita miskin atau belum mencapai kondisi yang diinginkan. Masalahnya, pola pikir seperti ini sering membuat seseorang terjebak dalam perasaan kekurangan. Otak dan emosi membaca sinyal bahwa ia “belum sampai” atau “masih kurang”, sehingga setiap langkah terasa berat dan hasilnya sulit bertahan lama. Inilah mengapa banyak orang sudah berusaha keras, tapi tetap merasa jauh dari kesuksesan, karena yang dibawa adalah energi “ingin”, bukan energi “menjadi”. Kalau di dalam hati dan pikiran kita, identitas yang benar-benar hidup adalah “aku selalu kurang”, maka itulah getaran atau energi yang memandu tindakan dan menarik pengalaman hidup kita. Walaupun mulut berkata, “Aku ingin cukup” atau “Aku ingin berkecukupan”, bawah sadar tetap memegang identitas “kurang” sebagai kebenaran.

Ketika seseorang berada pada mode “ingin”, hal ini biasanya memicu emosi yang lahir dari rasa kekurangan – seperti cemas, ragu, atau tidak sabar. Dalam otak, sistem limbik, khususnya amygdala, dapat memandang kondisi tersebut sebagai sebuah “celah” atau gap yang harus segera diisi. Pada level bahasa internal, pola pikir “ingin” sering terdengar seperti, “Aku berharap suatu hari nanti…,” yang merupakan bahasa masa depan – menandakan bahwa hal tersebut belum terjadi dan belum dimiliki. Akibatnya, kebiasaan dan keputusan yang diambil seringkali bersifat reaktif, dipicu oleh motivasi sesaat, bukan strategi jangka panjang. Dalam perilaku jangka panjang, mode “ingin” membuat seseorang lebih mudah frustrasi ketika hasil yang diharapkan tidak kunjung datang, karena fokusnya lebih banyak pada hasil akhir ketimbang proses dan pembentukan identitas yang selaras dengan tujuan.

Sendhil Mullainathan, seorang profesor ekonomi dan komputasi, bersama Eldar Shafir, profesor psikologi, menulis buku “Scarcity: Why Having Too Little Means So Much” yang membahas hasil penelitian mereka tentang bagaimana kekurangan – entah itu uang, waktu, atau sumber daya mental – memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak. Ketika seseorang berada dalam mode “ingin” yang didorong oleh rasa kekurangan, otak secara otomatis masuk ke pola pikir kekurangan (scarcity mindset). Dalam keadaan ini, fokus mental mengerucut hanya pada “apa yang tidak ada” atau “apa yang kurang”, sehingga kapasitas otak untuk melihat peluang atau membuat keputusan strategis jadi berkurang. Fenomena ini disebut sebagai terkurasnya mental bandwidth – kemampuan otak untuk memproses informasi dan berpikir jernih menurun, sehingga orang cenderung terjebak dalam keputusan jangka pendek, reaktif, dan kurang efektif untuk mencapai tujuan besarnya.

Saat seseorang berada dalam situasi kekurangan atau scarcity mindset, cara kerja otaknya ikut berubah. Penelitian dengan pemindaian otak (fMRI) menunjukkan bahwa aktivitas di orbitofrontal cortex (OFC), yaitu bagian otak yang berperan dalam menilai sesuatu secara subjektif, justru meningkat. Artinya, pikiran jadi lebih terfokus pada penilaian instan atau rasa “mahal” dan “murah” menurut perasaan pribadi, bukan analisis objektif. Pada saat yang sama, aktivitas di dorsolateral prefrontal cortex (dlPFC) – bagian otak yang penting untuk berpikir strategis, membuat rencana jangka panjang, dan mengambil keputusan yang sesuai tujuan – menurun. Akibatnya, dalam kondisi kekurangan, otak cenderung lebih reaktif dan emosional dalam menilai situasi, dan kurang optimal dalam memikirkan langkah-langkah yang efektif untuk keluar dari masalah tersebut.

Karena itu, langkah pertama yang paling penting bukan sekadar membuat daftar keinginan, tetapi mengubah kesadaran diri dari mode “ingin” menjadi mode “menjadi”. Artinya, alih-alih menunggu sampai sesuatu terjadi, kita perlu menghidupi perasaan “sudah menjadi” di saat ini. Ini bukan soal berpura-pura atau membohongi diri, melainkan benar-benar merasakan dan membawa kesadaran tersebut ke dalam momen sekarang. Misalnya, alih-alih berkata, “Aku ingin hidup berkecukupan”, kita bisa menanamkan identitas, “Aku adalah pribadi yang hidup dalam kelimpahan”, lalu memfokuskan pikiran, emosi, dan tindakan agar selaras dengan kelimpahan itu. Sebab, realitas luar pada akhirnya hanyalah cermin dari identitas batin yang kita yakini – siapa yang kita sadari sebagai diri kita di dalam akan menentukan apa yang kita alami di luar.

Dalam mode “menjadi”, sinyal emosi yang dikirim ke otak cenderung memicu rasa kepemilikan dan kelimpahan – seperti tenang, percaya diri, dan kreatif. Kondisi emosional ini membuat korteks prefrontal lebih aktif, sehingga kemampuan untuk mengambil keputusan secara jernih dan mempertimbangkan dampak jangka panjang meningkat. Pada level bahasa internal, pola pikir “menjadi” terdengar seperti, “Aku adalah orang yang…,” yang merupakan bahasa masa kini – menandakan bahwa hal itu sudah menjadi bagian dari identitas kita sekarang. Misalnya, alih-alih berkata, “Aku ingin punya bisnis sukses,” kita mengatakan, “Aku adalah pengusaha sukses yang membangun bisnis berkelanjutan.” Dari sini, kebiasaan dan keputusan yang diambil pun lebih konsisten dan sejalan dengan identitas baru tersebut, bahkan ketika motivasi sesaat sedang menurun. Dalam jangka panjang, mode “menjadi” membuat kita lebih sabar, fokus pada proses, dan secara alami memilih tindakan yang relevan untuk mewujudkan tujuan, tanpa harus memaksakan diri dengan dorongan motivasi sementara.

Penelitian tentang Psychology of Wealth menunjukkan bahwa individu yang kaya dan sukses memiliki pola pikir yang lebih dari sekadar menginginkan – mereka berpikir secara proaktif. Artinya, mereka tidak menunggu peluang datang, tetapi menciptakannya sendiri. Ketika menghadapi masalah, mereka tidak terbelenggu oleh kesulitan, melainkan melihatnya sebagai peluang tumbuh dan berkembang. Selain itu, banyak orang kaya memiliki abundance mentality – keyakinan bahwa ada banyak peluang dan sumber daya di dunia ini. Alih-alih melihat lingkungan sebagai kompetisi terbatas, mereka melihat dunia sebagai ekosistem yang bisa dilibatkan secara kolaboratif dan inovatif. Yang lebih penting lagi, mereka mengalihkan identitas mental dari “ingin kaya” menjadi “Aku adalah pencipta nilai”. Dengan fokus menciptakan solusi atau nilai, alih-alih hanya mengejar uang, mereka secara alami mengambil tindakan yang membawa kekayaan secara berkelanjutan dan bermakna.

@pakarpemberdayaandiri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *