Kebahagiaan dan Kehampaan Diri Dalam Tinjuan Tasawuf

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam kosmologi Ibn ‘Arabi, alam semesta dipandang sebagai tajalli Allah, yaitu penampakan dari Nama-Nama dan Sifat-Nya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah cerminan dari realitas Ilahi yang lebih dalam. Namun, yang kita sebut sebagai dunia materi sebenarnya hanyalah lapisan terluar dari pancaran cahaya tersebut. Seperti cahaya bulan yang hanya merupakan pantulan dari cahaya matahari – ia tampak bercahaya, tetapi sumber cahayanya bukan dari dirinya sendiri. Karena itu, ketika jiwa manusia hanya berfokus pada mengejar hal-hal materi, sejatinya ia hanya menyentuh pantulan cahaya, yaitu cahaya kecil, redup, dan terbatas. Jiwa tidak sedang berhubungan langsung dengan cahaya asli, yaitu sumber makna yang hakiki, yakni Nama-Nama Allah yang menjadi asal dari segala keberadaan. Dengan kata lain, terlalu terpaku pada materi membuat seseorang berhenti pada bayangan dan tidak pernah merasakan cahaya sejati yang dapat memberi kehidupan batin.

Dalam pandangan Ibn ‘Arabi, Nama-nama Allah (Asma’ Allah) terbagi ke dalam dua kutub besar yang saling melengkapi. Pertama, ada Asma’ al-Jalal, yaitu nama-nama yang menampakkan sisi keagungan, kekerasan, dan kebesaran Allah. Nama-nama ini seringkali memberi kesan keterbatasan atau penekanan pada kekuasaan mutlak-Nya, seperti al-Qahhar (Yang Maha Mengalahkan), al-Muntaqim (Yang Membalas), dan al-Mudill (Yang Menyesatkan). Di sisi lain, ada Asma’ al-Jamal, yaitu nama-nama yang menampakkan sisi kasih sayang, kelembutan, dan keindahan Allah, seperti al-Rahman (Maha Pengasih), al-Latif (Maha Lembut), dan al-Karim (Maha Pemurah).

Kedua kutub ini bukanlah pertentangan, melainkan dua wajah dari tajalli yang sama, yaitu penampakan Allah dalam bentuk yang berbeda. Seperti cahaya putih yang, ketika dibiaskan, menampakkan spektrum warna yang beragam, demikian pula Nama-Nama Allah menampakkan diri dalam bentuk yang kadang penuh keindahan dan kelembutan, kadang pula penuh keagungan dan kedahsyatan. Dengan memahami dua sisi ini, manusia diajak untuk tidak hanya melihat Allah sebagai penuh kasih dan rahmat, tetapi juga menyadari sisi keagungan-Nya yang menuntut rasa hormat, ketundukan, dan kesadaran bahwa hidup ini berada di bawah kekuasaan-Nya yang mutlak.

Dalam bahasa sederhana, Jalal adalah sisi keagungan Allah yang tampak ketika segala sesuatu di dunia ini dihentikan, ditahan, atau ditundukkan oleh hukum-hukum-Nya. Manusia bisa saja merasa kuat atau berkuasa, tetapi materi selalu menunjukkan batas yang tak bisa ditembus: api pasti membakar, gravitasi selalu menarik, tubuh pelan-pelan menua dan melemah. Semua hukum itu seakan berkata, “Kamu tidak memiliki kuasa mutlak; yang berkuasa hanyalah Aku, al-Qahhar – Yang Maha Perkasa.” Dari sinilah tampak tajalli (manifestasi/penampakan) Allah sebagai al-Qahhar (Yang Maha Mengalahkan), al-Muntaqim (Yang Membalas), dan al-Mumit (Yang Mematikan). Melalui tajalli ini, manusia dipaksa untuk menundukkan ego dan menyadari bahwa dirinya terbatas: umur ada akhirnya, tubuh rentan sakit, harta bisa hilang dalam sekejap, dan kematian tidak mungkin dihindari. Semua itu adalah bentuk “penyempitan”, sebuah garis tegas yang Allah letakkan agar manusia tahu batasnya: ada titik dimana kekuatan manusia berhenti, dan di luar itu hanya Allah SWT yang berkuasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, tajalli Jalal sebenarnya sangat mudah kita rasakan. Misalnya ketika seseorang mengejar harta. Setiap kali ia berhasil mendapatkannya, selalu ada rasa takut kehilangan. Harta tidak pernah bisa memberi rasa aman yang sepenuhnya, karena ia bisa hilang kapan saja. Itulah bentuk tajalli Jalal, dimana manusia dibuat merasa sempit dan terbatasi. Begitu juga dengan tubuh. Kita bisa menjaga kesehatan dengan olahraga, makanan bergizi, atau pola hidup baik, tetapi pada akhirnya tubuh tetap menua, melemah, dan akhirnya mati. Inilah batas yang tidak bisa dilampaui, penyingkap bahwa manusia tidak berkuasa penuh atas dirinya. Hal serupa terjadi dalam kedudukan sosial. Seseorang bisa meraih jabatan tinggi, dihormati banyak orang, tetapi posisi itu bisa runtuh seketika karena skandal, fitnah, atau perubahan keadaan. Maka tajalli Jalal merupakan pengingat bahwa segala yang bersifat materi selalu ada sisi azab, keterbatasan, dan ketidakpastian.

Secara psikologis, ketika seseorang berhadapan dengan rasa sakit, kegagalan, kehilangan, atau kematian, ia sering merasakan takut, gentar, bahkan hina. Perasaan itu bukan sekadar emosi biasa, melainkan cerminan dari tajalli Jalal: Allah sedang menampakkan keagungan-Nya dengan cara mengurangi kebebasan makhluk, membuat manusia sadar bahwa dirinya bukan pemilik kuasa mutlak. Hidup di dunia materi selalu penuh dengan garis batas – tubuh yang menua, waktu yang terbatas, dan segala sesuatu yang bisa hilang sewaktu-waktu. Semua ini adalah bentuk “penyempitan” yang mengingatkan bahwa manusia hanya sementara.

Di balik itu, ada sebab yang lebih dalam: asal jiwa manusia bukan dari materi. Jiwa bersifat lebih tinggi dan lebih luas, sementara dunia materi terikat pada ruang, waktu, jumlah, dan keterbatasan. Karena sifatnya fana, setiap kali kita mendapatkan sesuatu dari dunia materi, nilainya segera memudar. Uang yang dulu terasa banyak, lama-lama terasa kurang. Barang yang dulu sangat diinginkan, ketika sudah dimiliki, kehilangan pesonanya. Jiwa yang luas dan tak terbatas akhirnya “tersiksa,” karena seolah dipaksa minum dari cangkir kecil yang cepat habis. Itulah sebabnya, kebahagiaan yang hanya bertumpu pada materi selalu terasa sempit dan kering. Ia tidak pernah bisa mengisi kekosongan terdalam jiwa. Sebaliknya, keterbatasan materi justru dimaksudkan sebagai pengingat: bahwa ada sumber kebahagiaan yang lebih besar, yang tidak fana, yaitu tajalli Allah yang meluaskan jiwa.

Menurut Ibn ‘Arabi, jiwa manusia pada asalnya berasal dari nafas al-Rahman – hembusan kasih sayang Allah yang penuh kelembutan. Karena itu, fitrah jiwa selalu merindukan keluasan, cinta, cahaya, dan kebebasan. Jiwa ingin kembali kepada kelapangan yang sesuai dengan asal-usulnya. Namun, ketika jiwa terlalu melekat pada dunia materi, yang ia dapatkan hanyalah tajalli Jalal, yaitu penampakan Allah dalam bentuk keterbatasan, kesempitan, dan batas-batas yang menekan. Materi hanya bisa memberi rasa puas sementara, tetapi tidak pernah mengenyangkan jiwa. Ia seakan dipaksa tinggal dalam ruang sempit Jalal, sementara fitrahnya selalu rindu pada Jamal – pada kelapangan, kasih sayang, dan keindahan Allah. Inilah sebabnya banyak orang yang tampak memiliki segalanya secara lahiriah, tetapi tetap merasa kosong di dalam. Mereka sedang mencari Jamal, tetapi tersesat dalam bayangan Jalal.

Nama-nama Jamal Allah, seperti cinta, kasih sayang, ampunan, dan rahmat, adalah sumber sejati keluasan batin manusia. Ketika jiwa berhasil menyentuh pengalaman cinta, merasakan pengampunan, atau menemukan makna hidup yang luhur, ia merasakan kelapangan yang dalam, karena sesungguhnya ia sedang kembali pada asalnya, yaitu nafas al-Rahman yang penuh kelembutan. Rasa lapang ini berbeda dengan kepuasan materi yang cepat hilang; ia tidak bergantung pada apa yang kita miliki, tetapi pada siapa kita “menjadi”. Di sinilah letak rahasia kebahagiaan sejati: bukan terletak pada memiliki sebanyak-banyaknya, melainkan pada “menjadi” – menjadi pengasih, pemaaf, penuh cinta, dan selaras dengan Nama-nama Jamal Allah. Saat jiwa hidup dalam sifat-sifat ini, ia tidak lagi merasa sempit dan kering, karena telah menemukan sumber cahaya yang sejati, bukan sekadar pantulan yang fana.

Mengapa Jamal melapangkan? Pertama, karena Jamal adalah penyingkapan cinta dan keluasan. Melalui Nama-nama-Nya yang penuh kasih sayang seperti al-Rahman (Yang Maha Pengasih), al-Latif (Yang Maha Lembut), dan al-Karim (Yang Maha Pemurah), Allah menampakkan tajalli yang membuat manusia merasa disambut, dicintai, dan didekati. Tidak ada batasan keras atau penyempitan sebagaimana dalam Jalal, melainkan ada keluasan yang memberi ruang bagi jiwa untuk tumbuh, berkembang, dan merasa aman di dalam pelukan cinta Ilahi. Kedua, efek psikologis Jamal adalah kelapangan batin. Saat kita merasakan cinta, pengampunan, penerimaan, atau kelembutan – entah dari Allah maupun melalui sesama manusia – dada kita menjadi lega, tenang, dan bahagia. Itulah pengalaman jamali: momen ketika Allah menyingkapkan wajah keindahan-Nya, sehingga dada terbuka dan jiwa merasakan kebebasan batin yang sejati.

Ketiga, fungsi spiritual Jamal adalah menumbuhkan cinta dan syukur. Jalal membuat manusia tunduk karena keterbatasan, tetapi Jamal mengundang manusia untuk mendekat dengan sukarela melalui rasa cinta. Inilah rahasia mengapa jiwa selalu merindukan Jamal: karena di dalamnya ia menemukan bukan sekadar peringatan akan batas, tetapi pelukan kasih yang melapangkan dan menghidupkan. Jadi, pada dasarnya Eksistensi (Wujud) itu satu. Yang berbeda hanyalah cara ia menyingkap hakikat-Nya (tajalli). Dalam tajalli Jalal, Allah menampakkan kesempurnaan-Nya lewat keterbatasan makhluk. Di sini manusia dihadapkan pada hukum-hukum yang keras: usia terbatas, tubuh melemah, harta bisa hilang, kematian pasti datang. Semua ini membuat manusia menyadari dirinya kecil dan kerdil, sehingga lahirlah rasa sempit di hati. Sebaliknya, dalam tajalli Jamal, Allah menyingkap kesempurnaan-Nya lewat cinta, rahmat, dan keluasan. Ketika kita merasakan pengampunan, cinta, atau kelembutan, kita merasa dekat dengan Cahaya Ilahi. Dari kedekatan inilah lahir kelapangan batin, ketenangan, dan rasa aman.

Dengan kata lain, Jalal adalah saat Allah menyingkapkan jarak antara diri-Nya dan makhluk. Manusia dihadapkan pada batas-batas yang tidak bisa dilampaui: usia yang singkat, tubuh yang rapuh, dunia yang fana. Semua ini membuat hati merasa sempit, gentar, dan terbatasi, sebab manusia sadar betul akan ketidakmampuannya. Sedangkan, Jamal adalah saat Allah menyingkapkan kedekatan-Nya. Ia hadir melalui cinta, rahmat, pengampunan, dan kelembutan. Di momen ini, hati manusia terasa lapang, lega, dan damai, sebab ia merasakan dirinya dekat dengan sumber cahaya dan kasih yang tak terbatas. Analoginya seperti matahari. Jika ia menampakkan diri dengan panas teriknya di siang hari, kita bisa merasa terbakar dan terhimpit – itulah wajah Jalal. Tetapi ketika ia menampakkan diri dengan cahaya hangat di pagi hari, kita merasa tenang, nyaman, dan damai – itulah wajah Jamal. Namun, keduanya tetap datang dari satu matahari yang sama. Demikian pula Jalal dan Jamal, meskipun tampak berbeda, sejatinya adalah tajalli dari satu wujud yang sama, hanya dalam sudut penampakan yang berlainan.

Maka, kebahagiaan sejati tidak lahir dari sekadar memiliki benda, kekuasaan, atau kesenangan sementara, melainkan ketika batin teraliri oleh makna, cinta, dan rasa keterhubungan dengan Allah SWT. Pada saat itulah jiwa merasakan kelapangan sejati, karena ia kembali pada asalnya. Inilah kebahagiaan yang tidak lekang oleh waktu, sebab tidak bergantung pada sesuatu yang fana. Dalam kerangka ini, kemuliaan akhlak (virtue) menjadi sumber kebahagiaan yang paling hakiki. Mengasihi, memaafkan, menolong, dan berbuat baik bukan hanya mulia secara moral, tetapi juga menenteramkan jiwa karena sejalan dengan struktur terdalamnya. Jiwa manusia memang diciptakan untuk selaras dengan Nama-nama Jamal Allah, sehingga setiap kali ia hidup dengan akhlak yang indah, ia menemukan dirinya kembali – merasa utuh, lapang, dan bahagia dari dalam.

Dengan demikian, Jalal dapat dipahami sebagai pengalaman hidup yang terasa menyempitkan, seperti teguran keras, rasa takut, sakit, kehilangan, atau bahkan kematian. Pada pandangan pertama, Jalal seakan-akan menekan jiwa, membuat ruang gerak kita terbatas, dan memaksa kita keluar dari kenyamanan semu dunia. Namun, jika ditelaah lebih dalam, Jalal justru mengandung fungsi penyucian. Ia bekerja seperti obat pahit yang menyehatkan – menyakitkan di awal, tetapi menyembuhkan pada akhirnya. Di balik Jalal selalu ada unsur Jamal, yaitu rahmat tersembunyi yang mendidik dan menumbuhkan kesadaran. Contohnya, seseorang yang keras kepala bisa dilunakkan justru ketika menghadapi musibah. Rasa sakit yang ia alami menumbuhkan keinsafan, dan perlahan membentuknya menjadi pribadi yang lebih bijak serta rendah hati.

Sementara itu, Jamal hadir dalam wujud kelapangan dan kelembutan, seperti cinta, kebahagiaan, nikmat, rezeki, atau kenyamanan yang menenangkan hati. Jamal memberi rasa syukur, melapangkan jiwa, dan menumbuhkan ketenangan batin. Namun, Jamal tidak selalu murni membawa kebaikan. Di balik kelembutannya, Jamal menyimpan potensi jebakan Jalal. Nikmat yang tidak diiringi kesadaran dan rasa syukur bisa berbalik menjadi bencana. Harta yang seharusnya menjadi sarana kebaikan bisa melalaikan, cinta yang indah bisa membutakan, dan jabatan yang datang dengan penuh kasih bisa menjatuhkan seseorang ke dalam kesombongan jika tidak diimbangi dengan kewaspadaan. Dengan kata lain, Jamal yang tampak manis dapat berubah menjadi ujian berat bila tidak dikelola dengan bijak. Keduanya – Jalal dan Jamal – bukanlah lawan, melainkan dua sisi yang saling melengkapi. Jalal mendidik lewat penyempitan yang menyakitkan, sedangkan Jamal mendidik lewat kelapangan yang menenangkan. Keduanya sama-sama mengarahkan manusia pada penyucian jiwa, hanya melalui jalan yang berbeda. Jiwa yang matang belajar membaca Jamal di balik Jalal, dan Jalal di balik Jamal. Kematangan jiwa berarti kemampuan untuk melihat dua sisi realitas ini secara seimbang, sehingga setiap pengalaman – baik yang pahit maupun manis – menjadi sarana pendidikan batin dan kedewasaan spiritual.

@pakarpemberdayaandiri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *