Oleh: Syahril Syam *)
Moral memang berbicara tentang baik dan buruk, tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya dihindari. Namun, untuk memahami mengapa seseorang kadang sulit bersikap adil, jernih, atau bijak, kita perlu melihatnya dari sudut pandang neurosains. Dari sisi kerja otak, perilaku moral tidak selalu lahir dari niat jahat atau karakter buruk, tetapi seringkali muncul sebagai respons biologis ketika sistem saraf berada dalam kondisi terancam. Dengan memahami mekanisme ini, kita dapat melihat perilaku tersebut dengan lebih jernih agar bisa mengubahnya.
Dalam kondisi aman dan tenang, otak – khususnya bagian yang bertanggung jawab atas refleksi dan penilaian rasional – mampu mencari kebenaran, mempertimbangkan sudut pandang lain, dan mengevaluasi diri secara objektif. Namun, ketika sistem saraf berada dalam ancaman kronis, misalnya dalam dominasi sistem saraf simpatik (tegang, waspada berlebihan) atau dorsal ringan (menarik diri, mati rasa), prioritas otak berubah. Otak tidak lagi berfokus pada kebenaran atau pemahaman objektif, melainkan pada keselamatan psikologis. Yang dianggap “bahaya” di sini bukan hanya ancaman fisik, tetapi juga ancaman emosional seperti rasa malu, takut gagal, takut ditolak, atau merasa tidak cukup baik. Dalam situasi ini, ego berfungsi sebagai tameng darurat untuk melindungi diri, bukan sebagai alat refleksi yang jujur.
Dari sinilah muncul perilaku “mencari kejelekan orang lain”. Secara neuropsikologis, prosesnya relatif sederhana. Ketika muncul ancaman internal seperti pikiran “saya tidak cukup mampu” atau “saya bisa gagal”, otak merasakan tekanan yang tidak nyaman. Sistem saraf ingin menurunkan tekanan ini secepat mungkin. Cara tercepat yang sering dipilih otak adalah menggeser sumber ancaman dari dalam diri ke luar. Akibatnya, perhatian seseorang mulai tertuju pada kelemahan orang lain, kesalahan pihak luar, atau kekurangan lingkungan. Ia bisa mulai membesar-besarkan kesalahan orang lain, menjadi sangat kritis, atau mudah menyalahkan.
Sebagai contoh sederhana, seorang karyawan yang sebenarnya sedang takut dinilai tidak kompeten oleh atasannya mungkin tanpa sadar menjadi sangat kritis terhadap rekan kerjanya. Ia sering menyoroti kesalahan kecil orang lain atau membicarakan kekurangan tim. Secara bawah sadar, ini memberi pesan menenangkan bagi otaknya: “Bukan hanya saya yang bermasalah. Yang lain juga buruk.”
Dengan cara ini, tekanan internal berkurang, meskipun hanya sementara. Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari adalah orang tua yang sedang merasa gagal sebagai orang tua, lalu menjadi sangat mudah mengkritik perilaku anak atau membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Fokus pada “kesalahan di luar” membantu meredakan rasa bersalah dan takut di dalam diri.
Perilaku ini muncul terutama saat rasa aman internal rendah, kemampuan untuk merefleksikan diri menurun, dan rasa malu (shame) terasa terlalu menyakitkan untuk dihadapi secara langsung. Dalam keadaan seperti ini, menyalahkan bukanlah pilihan sadar, melainkan refleks protektif sistem saraf. Dalam kondisi aman – ketika sistem saraf tenang dan regulasi emosi baik – seseorang mampu mengakui keterbatasannya dengan relatif jujur. Ia bisa berkata, “Saya belum mampu”, atau “Saya perlu belajar lagi”. Pengakuan ini tidak terasa mengancam karena harga diri masih stabil.
Namun, dalam kondisi terancam, situasinya berbeda. Sistem saraf menangkap kesalahan sebagai ancaman eksistensial. Pesan bawah sadar yang muncul bukan lagi tentang belajar atau bertumbuh, melainkan tentang bertahan hidup secara psikologis. Logika yang bekerja menjadi: “Kalau saya salah, saya runtuh. Maka harus ada pihak lain yang salah.” Pada titik ini, menyalahkan orang lain berfungsi sebagai cara cepat untuk menjaga keutuhan ego.
Peran rasa malu (shame) sangat sentral dalam proses ini. Riset dalam psikologi afektif menunjukkan bahwa shame adalah salah satu emosi yang paling mengancam identitas diri. Shame bukan sekadar merasa melakukan kesalahan, tetapi merasa “saya ini buruk” atau “saya tidak layak”. Otak memproses shame sebagai ancaman serius terhadap diri, sehingga secara refleks akan melakukan apapun untuk menghindarinya. Akibatnya, berbagai mekanisme pertahanan muncul, seperti proyeksi (menimpakan kesalahan kepada orang lain), rasionalisasi (mencari pembenaran), blaming (menyalahkan), hingga superioritas semu (merasa lebih benar atau lebih tinggi dari orang lain).
Seorang pemimpin tim yang sedang berada di bawah tekanan besar dan takut dianggap gagal mungkin akan mudah menyalahkan bawahannya ketika target tidak tercapai. Mengakui kesalahan diri terasa terlalu menyakitkan karena memicu rasa malu yang mendalam.
Dengan menyalahkan orang lain, rasa malu itu dialihkan keluar, sehingga harga diri tetap terasa “utuh”, meskipun semu. Contoh lain dalam kehidupan rumah tangga adalah pasangan yang sulit mengakui kekurangannya sendiri, lalu terus-menerus menyalahkan pasangannya. Di balik sikap itu sering tersembunyi rasa tidak cukup, takut ditolak, atau takut dianggap gagal sebagai pasangan.
Perilaku seperti ini merupakan tanda bahwa sistem saraf sedang bekerja dalam mode bertahan hidup. Otak sedang berusaha melindungi diri dari rasa sakit psikologis. Dengan sudut pandang ini, kita dapat belajar untuk memahami, baik diri sendiri maupun orang lain. Kita bisa mulai bertanya: “Apakah orang ini, atau saya sendiri, sedang berada dalam kondisi terancam?” Pertanyaan ini membuka jalan menuju pemulihan, regulasi emosi, dan akhirnya kemampuan untuk kembali bersikap jernih, adil, dan bermoral secara lebih sadar.
Kesadaran ini penting, karena membuka jalan untuk pendekatan yang lebih tepat: bukan dengan mempermalukan atau menghakimi, tetapi dengan membangun kembali rasa aman internal. Ketika rasa aman pulih, kapasitas refleksi diri meningkat, dan kita kembali mampu menghadapi kesalahan tanpa harus menyalahkan pihak lain.
Seseorang yang sedang lelah, tertekan, dan merasa tidak dihargai di tempat kerja mungkin sangat mudah menyalahkan rekan kerjanya. Namun, ketika tekanan berkurang – misalnya setelah mendapatkan dukungan, istirahat yang cukup, atau lingkungan yang lebih aman secara emosional – orang yang sama bisa meninjau ulang sikapnya. Ia mulai menyadari bahwa masalahnya lebih kompleks, melibatkan banyak faktor, termasuk dirinya sendiri. Perilaku menyalahkan pun melemah atau bahkan menghilang.
Karena ketika kondisi aman, orang yang sama – yang sebelumnya mudah menyalahkan, defensif, atau merasa harus selalu benar – dapat menjadi jauh lebih reflektif, adil, dan rendah hati. Ia mampu melihat perannya sendiri dalam suatu masalah, mengakui keterbatasan tanpa merasa harga dirinya runtuh, serta mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Kesalahan tidak lagi dipersepsikan sebagai ancaman terhadap identitas diri, melainkan sebagai informasi untuk belajar dan bertumbuh. Karena itu, kalimat seperti “Saya keliru”, atau “Saya perlu memperbaiki ini”, menjadi mungkin diucapkan dengan tulus.
@pakarpemberdayaandiri










