Berita  

Asap Karhutla Jadi Isu Lintas Batas, Negara-Negara ASEAN Dorong Penguatan Kerja Sama AATHP

Foto ilustrasi

JAKARTA, KINERJAEKSELEN.CO — Problem kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini bukan lagi sekadar tantangan domestik, melainkan telah menjadi isu regional yang menuntut respons terintegrasi dari seluruh negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Seiring meluasnya dampak partikulat asap yang melintasi batas negara tetangga, koordinasi diplomatik intensif kini tengah digulirkan demi menyinkronkan langkah mitigasi secara kelembagaan.

Akademisi dan praktisi hubungan internasional mendorong agar pemerintah di kawasan Asia Tenggara secara konsisten mengacu pada cetak biru ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP). Implementasi butir-butir kesepakatan regional tersebut dinilai menjadi instrumen hukum paling valid untuk mempercepat koordinasi antarpemerintah saat menghadapi eskalasi kabut asap lintas negara.

Urgensi Jalur Komunikasi dan Mitigasi Terukur

Pakar Hubungan Internasional dari President University, Teuku Rezasyah, menegaskan bahwa bencana kabut asap memang tidak mengenal sekat-sekat geopolitik negara. Namun demikian, tata kelola penanggulangannya wajib diselenggarakan dengan tata kelola yang sungguh-sungguh, transparan, dan terukur secara nasional oleh masing-masing otoritas terkait.

“Pemerintah di kawasan seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura perlu segera memformulasikan saluran komunikasi langsung atau hotline khusus. Langkah strategis ini krusial demi memotong birokrasi koordinasi ketika karhutla meluas di lapangan,” ujar Teuku Rezasyah.

Lebih lanjut, ia mendorong perlunya peta jalan (road map) mitigasi penanggulangan bencana kabut asap yang komprehensif di tingkat daerah. Peta jalan ini harus memuat pembagian tanggung jawab yang jelas antar kementerian dan lembaga terkait, sekaligus memperkuat kapasitas preventif berbasis komunitas lokal dan pemangku adat. Tata kelola yang sistematis ini ditujukan agar respons mitigasi tidak sekadar bersifat reaktif saat kebakaran sudah membesar, melainkan bertumpu pada deteksi dini dan evaluasi kebijakan jangka panjang.

Apresiasi Langkah Taktis dan Komitmen Hubungan Bilateral

Hingga saat ini, upaya penanganan di darat sejatinya terus berjalan masif dengan pengerahan puluhan ribu personel gabungan serta armada helikopter taktis pemadam kebakaran guna melakukan operasi water bombing dan modifikasi cuaca di wilayah terdampak. Langkah ini menjadi bukti komitmen serius dalam menekan volume titik api akibat siklus iklim kering yang ekstrem.

Di sisi lain, komunikasi diplomatik tingkat tinggi di kawasan dipastikan tetap berjalan kondusif. Negara-negara sahabat mengapresiasi keterbukaan informasi penanganan yang diberikan, sembari bersama-sama mencari solusi berbasis Science Diplomacy demi menjaga stabilitas mobilitas ekonomi, transportasi, dan kesehatan publik di kawasan Asia Tenggara.

[KE/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *