KINERJAEKSELEN.co, Jakarta – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengatakan ujicoba kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB) mulai dilaksanakan sejak Senin (15/4/2023).
Kang Emil, demikian karib disapa berharap KCJB bisa beroperasi sesuai target Agustus mendatang.
“Target bulan Agustus mulai beroperasi,” kata Kang Emil
Pengetesan KCJB dilaksanakan pada pekan ini. Ia meminta dukungan dari seluruh warganya yang terlewati oleh jalur KCJB ini. Pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung sangat mahal dan proses pengetesannya menjadi perhatian internasional.
Jalur KCJB sudah diberi pagar dan kawat berduri. Meski demikian, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengimbau warga untuk terlibat dalam menjaga kelancaran proses commissioning tes (tes fungsi) KCJB ini. Listrik berkekuatan 27,5 kilovolt sudah diaktifkan.
Warga diminta tidak mendekat dan beraktivitas di sekitar jalur KCJB, termasuk anak-anak diminta tidak bermain laying-layang di sekitar jalur KCJB karena benang dan layangan berpotensi menganggu kelistrikan KCJB.
Salah satu proyek strategis nasional tersebut pernah sangat disorot karena China meminta pemerintah Indonesia menanggung pembengkakan biaya (cost overrun) proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) melalui APBN.
Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kementerian Koordinator Perekonomian, Wahyu Utomo mengatakan pembengkakan biaya dalam proyek KCJB masih dibahas di Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Pemerintah Indonesia optimis KCJB bisa beroperasi pada 2023.
“Kami yakin kereta cepat segera bisa beroperasi, mudah-mudahan di tahun depan,” ujar Wahyu, Selasa (26/7/2022).
Sebelumnya, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT KAI (Persero) Salusra Wijaya mengatakan, biaya investasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) menjadi 8 miliar USD (Rp 114,24 triliun). Estimasi tersebut turun dari perkiraan pembengkakan awal mencapai 8,6 miliar USD (Rp 122,8 triliun hingga 11 miliar USD atau Rp 156,8 triliun.
“Jadi perkiraan awalnya itu akan berkembang menjadi 8,6 miliar USD yaitu waktu dibuat estimasinya pada November 2020 oleh konsultan PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) dan estimasi konsultan PSBI itu bahkan mencapai antara 9,9 miliar USD hingga 11 miliar USD,” ucapnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR, Rabu (1/9/2021).
[nug/red]












