Pilkada Kota Cirebon: Kampanye Cara Kuno Habiskan Anggaran Mubazir atau Beradaptasi dengan Era Digital?

Cirebon – Masa kampanye Pilkada Kota Cirebon saat ini menjadi ajang persaingan sengit antar calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota. Berbagai upaya dilakukan untuk menarik simpati masyarakat, mulai dari blusukan ke kampung-kampung, pasar tradisional hingga mengadakan panggung hiburan, dengan mendatangkan artis lokal atau nasional, yang jelas memakan biaya besar. Para calon menggunakan momen ini untuk menyampaikan visi dan misi yang diharapkan dapat menggugah kepercayaan rakyat.

Namun, fenomena kampanye ini tak lepas dari kritik. Beberapa pengamat menyoroti bagaimana kampanye sering kali menghabiskan anggaran besar secara mubazir. Salah satu contohnya adalah pengerahan massa bayaran dari organisasi masyarakat (ormas) yang sengaja dimobilisasi untuk menciptakan kesan ramai di acara kampanye. Di sisi lain, muncul istilah “serangan fajar,” di mana tim sukses membentuk koordinator wilayah untuk mengumpulkan data masyarakat dengan iming-iming uang ratusan ribu. Taktik ini menimbulkan persaingan tak sehat di antara para kandidat.

Dalam era digital, metode kampanye tradisional ini dinilai kurang relevan. Masyarakat kini lebih cerdas dan kritis dalam menentukan pilihan mereka, terutama berkat kemudahan akses informasi melalui media sosial. Di platform ini, para calon dapat langsung menyampaikan program mereka kepada publik tanpa perlu biaya besar. Kampanye berupa video pendek, infografis, atau konten kreatif lainnya dapat menjangkau lebih banyak pemilih, terutama generasi muda.

Pendekatan digital ini tidak hanya efisien dari segi biaya, tetapi juga lebih efektif dalam menyampaikan pesan. Media sosial memungkinkan calon untuk membangun narasi yang autentik dan terhubung secara langsung dengan masyarakat, tanpa harus bergantung pada janji materi atau strategi kuno yang memanfaatkan massa bayaran.

Pada akhirnya, pilihan tetap ada di tangan rakyat. Pemilih diharapkan untuk menentukan berdasarkan kualitas dan integritas calon, bukan sekadar janji atau iming-iming. Karena bagaimanapun, keputusan mereka akan berdampak pada pembangunan dan perubahan Kota Cirebon selama lima tahun ke depan.

Para kandidat diimbau untuk lebih memanfaatkan potensi media digital dalam menyampaikan visi-misinya. Ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga menunjukkan adaptasi terhadap perkembangan zaman. Jika cara kampanye tradisional yang menghamburkan anggaran masih digunakan, maka akan sulit bagi pemimpin terpilih untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan anggaran daerah secara transparan dan bertanggung jawab.

Pilkada bukan hanya soal menang, tetapi juga soal membangun fondasi demokrasi yang sehat dan berkelanjutan bagi Kota Cirebon.

[ NIKO ]

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *