Manusia Terlahir Untuk Menjadi Baik

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Manusia sejatinya tidak dirancang untuk hidup dalam pola egois dan saling bersaing tanpa peduli satu sama lain, melainkan untuk hidup saling terhubung, saling menolong, dan menemukan makna melalui kebaikan. Gagasan ini ditegaskan secara ilmiah oleh Dacher Keltner, seorang profesor psikologi dari University of California, Berkeley, dalam bukunya “Born to Be Good: The Science of a Meaningful Life”.

Dalam buku ini, Keltner menolak pandangan lama yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya egois dan hanya digerakkan oleh kepentingan diri sendiri. Berdasarkan puluhan tahun riset di bidang psikologi, neurosains, dan perilaku sosial, ia justru menunjukkan bahwa manusia sejak lahir telah dibekali sistem biologis untuk berempati, berbelas kasih, bekerjasama, dan peduli pada orang lain.

Bukti itu terlihat jelas dalam kerja otak, sistem saraf, hormon seperti oksitosin, hingga pola respons emosional yang mendorong manusia untuk menolong dan terhubung. Artinya, kecenderungan berbuat baik bukan sekadar ajaran moral atau agama, tetapi bagian dari desain alami tubuh dan jiwa manusia. Hidup yang bermakna, menurut sains modern, tumbuh ketika manusia hidup dalam hubungan, kepedulian, dan kontribusi bagi sesama.

Manusia terlahir dengan seperangkat emosi moral bawaan yang secara alami mengarahkan kita pada kehidupan yang saling terhubung, bukan terpisah. Emosi-emosi itu antara lain empati, welas asih, syukur, rasa kagum (awe), dan rasa bersalah yang sehat. Hal ini bisa kita lihat sejak usia sangat dini. Bayi yang ikut menangis ketika mendengar bayi lain menangis menunjukkan bahwa empati sudah bekerja bahkan sebelum anak mampu berbicara. Anak kecil yang merasa tidak enak setelah menyakiti temannya memperlihatkan munculnya rasa bersalah yang sehat, yaitu sinyal batin bahwa ia telah melanggar hubungan sosial.

Manusia juga secara alami bisa terharu saat melihat kebaikan orang lain – itulah welas asih. Kita mudah merasa kecil dan takjub ketika melihat keagungan alam atau kebaikan yang luar biasa – itulah awe. Dan kita merasakan kehangatan batin saat menerima kebaikan – itulah syukur.

Menurut Dacher Keltner, emosi-emosi ini bukan sekadar hasil pendidikan moral atau ajaran agama, melainkan sudah “dipasang” sejak lahir dalam sistem saraf dan emosi manusia agar kita mampu hidup damai dalam kelompok. Intinya, tanpa emosi-emosi moral bawaan ini, manusia tidak akan mampu bertahan sebagai makhluk sosial, karena kehidupan bersama hanya bisa berjalan jika ada empati, kepedulian, rasa hormat, dan rasa terima kasih.

Dan kebaikan dalam diri manusia juga memiliki dasar biologis yang nyata di dalam tubuh. Salah satunya melalui saraf vagus, yaitu saraf yang berfungsi sebagai “rem ketenangan” dalam sistem saraf. Ketika kita berempati, menenangkan orang lain, atau merasa aman dalam sebuah hubungan, saraf vagus akan aktif, detak jantung menjadi lebih tenang, napas lebih stabil, dan tubuh masuk ke kondisi damai. Ini menunjukkan bahwa tubuh manusia memang dirancang untuk menjadi tenang saat terhubung dengan sesama, bukan saat hidup terpisah dan penuh ancaman.

Selain itu, tubuh juga memproduksi hormon oksitosin, yang sering disebut sebagai “hormon cinta dan kepercayaan”. Hormon ini keluar saat manusia memeluk, menolong, menyusui, atau merasa dekat secara emosional. Dampaknya, manusia menjadi lebih percaya, lebih lembut, dan lebih peduli. Artinya, tubuh secara kimiawi memberi “hadiah” ketika kita berbuat baik.

Kebaikan juga tampak dalam ekspresi wajah alami manusia, seperti senyum tulus, wajah iba, dan tatapan hangat. Semua itu bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan alat biologis untuk membangun rasa aman dan kepercayaan dengan cepat.

Terakhir, dari sisi ikatan sosial, manusia yang hidup terisolasi terbukti lebih mudah stres dan sakit, sedangkan manusia yang terhubung secara sosial cenderung lebih sehat dan stabil secara fisik maupun mental. Ini menegaskan bahwa kesehatan manusia sangat bergantung pada relasi, bukan hanya pada makanan, uang, atau obat-obatan. Artinya, mulai dari tingkat saraf, hormon, ekspresi, hingga kesehatan, tubuh manusia memang dirancang untuk hidup dalam kebaikan dan keterhubungan.

Dalam Islam, seluruh kecenderungan alami manusia kepada kebaikan, empati, kepedulian, dan makna hidup disebut sebagai fitrah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama [Allah], sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu” (QS. 30:30). Bahwa manusia diciptakan dalam keadaan membawa desain bawaan untuk mengenal kebenaran dan mencintai kebaikan. Fitrah ini bukan sekadar konsep teologis yang bersifat keyakinan, tetapi kini mendapatkan pembuktian kuat di ranah sains modern.

Melalui riset-riset yang dirangkum dalam buku Born to Be Good, Dacher Keltner menunjukkan bahwa dorongan untuk berbuat baik tertanam langsung dalam otak, hormon, saraf vagus, serta refleks sosial manusia. Empati, welas asih, rasa aman dalam hubungan, hingga kebutuhan untuk terhubung, semuanya memiliki dasar biologis yang nyata. Walhasil, apa yang dalam Islam disebut sebagai fitrah, oleh ilmu pengetahuan dibuktikan sebagai desain alami tubuh dan sistem saraf manusia. Ini menegaskan bahwa kecenderungan manusia kepada kebaikan bukan hasil paksaan budaya atau pendidikan semata, melainkan bagian dari rancangan dasar penciptaan manusia itu sendiri.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *