Mengapa Lebih Penting Makna Dibandingkan Perasaan?

Pakar Pemberdayaan Diri Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Makna pada dasarnya adalah “arti” dari sesuatu. Menurut KBBI, makna merujuk pada pengertian dari sebuah kata atau kalimat. Sederhananya, makna adalah apa yang sebenarnya ingin disampaikan lewat kata atau frase itu – bisa berupa pesan langsung atau maksud yang tersembunyi di baliknya.

Kamus Merriam-Webster menjelaskan makna (meaning) sebagai “the thing one intends to convey”, yaitu hal yang ingin kita sampaikan melalui bahasa. Selain itu, meaning juga bisa berarti “significant quality”, yakni nilai yang lebih dalam atau arti tersembunyi yang ada di balik sesuatu. Dengan kata lain, makna bukan hanya apa yang tertulis di permukaan, melainkan juga isi hati atau nilai yang ingin dihubungkan lewat kata, simbol, atau peristiwa.

Lebih jauh lagi, Viktor Frankl, seorang psikiater yang terkenal dengan logotherapy, memandang makna sebagai motivasi utama manusia. Menurutnya, hidup selalu memiliki arti, bahkan dalam penderitaan yang paling berat. Frankl menjelaskan bahwa makna bisa ditemukan melalui tiga cara: Pertama, lewat karya atau tindakan bermakna;

Kedua, lewat pengalaman atau hubungan yang mendalam dengan orang lain; dan Ketiga, lewat sikap kita saat menghadapi penderitaan yang tak bisa dihindari. Dari sini, makna bukan hanya soal mencari kesenangan, tapi bagaimana kita menemukan tujuan yang membuat hidup layak dijalani.

Dalam ranah psikologi positif, Martin Seligman menempatkan makna sebagai salah satu elemen utama dalam model PERMA (Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, Accomplishment). Makna di sini diartikan sebagai perasaan memiliki tujuan, keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, dan kontribusi pada hal-hal yang melampaui kepentingan pribadi. Dari sudut pandang ini, kebahagiaan yang tahan lama bukanlah sekadar rasa senang, melainkan perasaan bahwa hidup kita berarti dan terikat pada misi yang lebih luas.

Singkatnya, makna adalah “jembatan” antara pengalaman sehari-hari dengan nilai yang lebih besar. Ia hadir dalam bahasa, dalam karya, dalam hubungan, bahkan dalam penderitaan. Dan jika kita melihat dalam kerangka Filsafat Hikmah, makna dipahami sebagai sesuatu yang lebih dalam dari sekadar gambar atau kata. Makna bukanlah benda fisik, melainkan hakikat non-material yang bisa ditangkap oleh akal atau hati. Sementara itu, gambaran lahiriah – misalnya bentuk visual, kata, atau imajinasi – disebut sebagai shurah (bentuk luar). Jadi, shurah adalah “gambar” yang tampak, sedangkan makna adalah “batin” atau isi ruhaniah yang tersembunyi di baliknya.

Karena itu, sebuah gambaran yang hanya berupa bentuk kosong tanpa makna ibarat cangkang tanpa isi – mudah pudar, rapuh, dan tidak memiliki daya cipta yang kuat. Sebaliknya, jika sebuah gambaran disertai makna yang dalam, maka ia berubah menjadi “bentuk ruhaniah” yang hidup.

Bentuk seperti ini lebih stabil, punya resonansi di alam mitsal (alam non materi, setingkat di atas alam materi), dan berpeluang lebih besar untuk “menetes” atau termanifestasi ke dalam dunia materi. Dengan kata lain, makna adalah ruh yang menghidupkan bentuk. Ia bukan sekadar isi kognitif, tapi juga daya eksistensial yang memberi kekuatan pada imajinasi, doa, niat, atau visi hidup kita untuk benar-benar menjadi nyata dalam pengalaman sehari-hari.

Makna memang menghadirkan perasaan, tapi makna dan perasaan itu bukan hal yang sama. Perasaan (feeling atau emotion) adalah respons psiko-fisiologis tubuh dan jiwa kita terhadap sebuah situasi atau gambaran, baik yang nyata maupun yang muncul dalam imajinasi. Misalnya, saat mendapat kabar gembira kita merasa bahagia, ketika menghadapi ujian kita bisa merasa cemas, atau ketika selesai membantu orang lain kita bisa merasa lega.

Sementara itu, makna (meaning) bukan sekadar rasa yang muncul, melainkan hakikat batin atau nilai ruhaniah yang kita berikan pada suatu kejadian, gambaran, atau objek. Makna adalah interpretasi eksistensial yang memberi arah dan kedalaman pada perasaan itu. Misalnya: saat mendapat rezeki, makna yang kita berikan bisa berupa “ini wujud syukur dan anugerah”, atau ketika menghadapi tantangan, makna yang kita tangkap bisa berupa “ini tanda aku sedang bertumbuh” atau “ini sarana memberi manfaat bagi orang lain”.

Dengan kata lain, perasaan adalah “respons”, sedangkan makna adalah “arah dan isi batin” dari respon itu. Perasaan bisa datang dan pergi dengan cepat, tetapi makna memberi kerangka lebih dalam yang membuat perasaan itu punya arah, tidak sekadar lewat begitu saja. Makna dapat menenangkan, menguatkan, atau mengubah kualitas perasaan. Makna dan perasaan memiliki hubungan yang sangat erat, tetapi bersifat hierarkis.

Makna adalah sumber atau akar, sementara perasaan adalah respons yang lahir dari akar tersebut. Saat kita memberi makna pada suatu peristiwa, otomatis akan muncul perasaan tertentu sebagai respons. Misalnya, hujan deras bisa diberi makna “berkah untuk bumi” sehingga kita merasa damai dan bersyukur, atau bisa dimaknai “hambatan besar” sehingga kita merasa kesal dan tertekan. Peristiwa yang sama, tapi perasaannya berbeda, karena maknanya berbeda.

Inilah sebabnya perasaan bergantung pada makna yang kita tangkap atau ciptakan. Makna berperan sebagai “filter batin” yang menafsirkan apa arti dari kejadian yang kita alami, lalu dari situlah lahir perasaan tertentu. Lebih jauh lagi, jika makna berubah, perasaan pun otomatis berubah – meskipun bentuk luar dari peristiwanya tetap sama. Misalnya, kehilangan pekerjaan bisa dimaknai sebagai “akhir dari segalanya” (melahirkan rasa putus asa), atau bisa dimaknai sebagai “kesempatan untuk memulai jalan baru” (melahirkan rasa optimis).

Jadi, kunci pengelolaan perasaan terletak pada bagaimana kita membentuk atau menemukan makna di balik pengalaman. Dengan kata lain, makna adalah ruh, perasaan adalah gema. Ruh yang berubah akan menghasilkan gema yang berbeda, meskipun dinding yang dipantulkan (yaitu situasi luar) tetap sama.

Banyak orang berusaha mengejar perasaan positif – seperti bahagia, tenang, atau bangga – tetapi seringkali perasaan itu tidak bertahan lama. Alasannya sederhana: perasaan hanyalah efek, bukan akar. Ia muncul sebagai respons terhadap sesuatu, sehingga kalau kita hanya mengejar perasaan, kita akan selalu tergantung pada pemicu dari luar. Misalnya, kita merasa senang hanya ketika dipuji, atau merasa tenang hanya ketika suasana mendukung. Begitu pemicunya hilang, perasaan itu pun ikut hilang.

Sebaliknya, makna adalah akar yang lebih stabil. Selama kita menjaga makna yang benar, perasaan positif akan mengikuti secara alami, bahkan ketika kondisi luar sedang tidak ideal. Contohnya, orang yang memberi makna “penderitaan ini adalah proses pertumbuhan” tetap bisa merasakan ketabahan dan harapan, meski secara lahiriah ia sedang menghadapi kesulitan.

Selain itu, makna bisa dipilih dan diciptakan secara sadar, sedangkan perasaan sering muncul otomatis tanpa kita kendalikan jika kita tidak menguasai makna yang mendasarinya. Dengan kata lain, kita tidak selalu bisa memilih perasaan yang muncul, tetapi kita bisa memilih makna yang kita berikan, dan dari sanalah kualitas perasaan akan terbentuk.

Akhirnya, makna yang konsisten membentuk kenyataan internal yang kokoh, sehingga tidak mudah diganggu oleh perubahan kenyataan eksternal. Orang yang hidup dengan makna akan memiliki pusat batin yang stabil: ia bisa tetap tenang di tengah badai, tetap bersyukur di tengah keterbatasan, dan tetap berdaya meski menghadapi kegagalan. Dengan demikian, membangun makna jauh lebih stabil dan berjangka panjang dibanding sekadar mengejar perasaan positif.

@pakarpemberdayaandiri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *