KINERJAEKSELEN.co, Jakarta – Dalam mengantisipasi krisis pangan global, perubahan iklim, dan konflik geopolitik, dunia mulai menengok kembali pada tanaman-tanaman yang tangguh seperti singkong.
Singkong, yang selama ini berada di pinggiran kebijakan pangan, perlahan maju ke garis depan. Ia bukan hanya menyelamatkan perut saat paceklik, tapi juga menyimpan potensi besar untuk menopang masa depan yang lebih tahan krisis.
Tanaman umbi-umbian seperti singkong yang kaya di nusantara, sangat potensial dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan dan energi nasional, dan juga sebagai bahan baku industri.
Demikian disampaikan Tonny Saritua Purba, Ketua Bidang Tani dan Nelayan Depinas SOKSI, melalui keterangan di Jakarta, Minggu (6/06/07/2025)

“Tanaman singkong juga bisa dibudidayakan secara komersial, seluruh bagiannya dapat digunakan untuk memenuhi berbagai keperluan manusia, terutama sebagai bahan pangan dan sayuran,” kata Tonny.
Berbagai penelitian tanaman singkong telah menunjukkan bahwa singkong merupakan salah satu bahan baku yang potensial sebagai bahan baku industri, energi terbarukan yang ramah lingkungan.
Tanaman singkong atau cassava (manihot esculenta), kata Tonny, merupakan tanaman yang mudah dibudidayakan karena ketahanannya yang tinggi terhadap kondisi tanah yang kering. Singkong juga banyak dikonsumsi sebagai makanan pokok lokal yang masih dipertahankan di beberapa daerah di Indonesia bahkan saat ini singkong sudah dijadikan cemilan bagi masyarakat yang berkunjung ke cafe shop.
“ Dari berbagai literatur dan diskusi saya dengan para praktisi dan para pakar tanaman singkong, ada beberapa produk turunan singkong atau ubi kayu yang bisa dijadikan bahan baku untuk bahan pangan dan industri, seperti bahan baku pembuatan tepung, bahan baku pembuatan gula cair, bahan baku biofuel dan bahan baku biomaterial,” ungkapnya.
Tonny berujar, produk utama turunan singkong yang banyak diproduksi adalah tepung singkong dan mocaf (modified cassava flour). Tepung Mocaf adalah produk singkong yang bisa dikembangkan untuk menggantikan tepung terigu yang terbuat dari gandum, tanaman gandun sulit tumbuh di Indonesia. Berdasarkan data Asosiasi Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) volume impor gandum Indonesia tahun 2017 sebesar 11,48 juta ton
Tepung Mocaf dapat dijadikan alternatif pengganti tepung terigu pembuatan mie basah dan mie instant.
Menurut Tonny, dengan adanya perkebunan singkong tentu sebuah peluang besar yang bisa dimanfaatkan pemerintah khususnya untuk mengurangi kebutuhan import gandum.
“ Kita berharap terobosan yang dilakukan Pemerintah bisa menggali SDA dan SDM yang dimiliki Indonesia, program food estate singkong bisa berhasil walaupun tidak mudah untuk menerapkannya, terutana untuk kesesuaian lahan dan dibutuhkan jumlah petani yang sangat besar di dalamnya,” pungkas Tonny bersemangat.
[Valentino]












