Oleh: Syahril Syam *)
Istilah “ontologis” berasal dari kata ontologi, yang merupakan cabang filsafat yang membahas tentang hakikat keberadaan atau eksistensi. Jadi, “ontologis” berarti sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan sesuatu secara mendasar – apa sesuatu itu dalam hakikatnya yang paling dasar, bukan sekadar penampilannya, fungsinya, atau ciri luarnya.
Kalau kita bertanya: “Apa warna daunnya?”, maka itu bukan pertanyaan ontologis. Tapi kalau kita bertanya: “Apa itu pohon? Apa yang membuat pohon ada sebagai pohon?” – ini pertanyaan ontologis. Jadi, ketika kita mengatakan sesuatu bersifat ontologis, kita berbicara tentang apa dan bagaimana wujud itu ada secara hakiki – bukan hanya bagaimana ia dirasakan atau dipersepsikan.
Dalam ilmu psikologi, emosi seperti amarah, takut, dan cinta dipahami sebagai reaksi sementara yang muncul sebagai respons terhadap rangsangan, baik dari luar (seperti ancaman atau pujian) maupun dari dalam diri (seperti kenangan atau pikiran). Emosi-emosi ini diproses terutama di bagian otak yang disebut sistem limbik, khususnya di amigdala, yang berperan penting dalam mendeteksi situasi emosional dan memberikan sinyal kepada tubuh untuk merespons.
Ketika seseorang merasa marah, misalnya, tubuhnya akan mengalami berbagai perubahan fisiologis seperti peningkatan detak jantung, kenaikan suhu tubuh, dan pelepasan hormon seperti adrenalin. Dalam pendekatan psikologi ini, emosi – termasuk amarah – dipandang sebagai respons biologis yang bersifat fungsional dan sementara. Artinya bisa muncul dengan cepat dan juga mereda seiring waktu tergantung situasi. Maka, amarah bukan dianggap sebagai sesuatu yang menetap, melainkan sebagai reaksi alami tubuh yang memiliki fungsi adaptif untuk membantu individu merespons lingkungan secara cepat.
Dalam filsafat Hikmah, emosi dipandang bukan sekadar perasaan yang datang dan pergi, tetapi merupakan bentuk keberadaan jiwa itu sendiri, atau yang disebut sebagai surah wujudiyyah, yakni bentuk eksistensial yang nyata dari jiwa. Artinya, emosi memiliki realitas batin yang hidup dan berperan dalam membentuk siapa diri kita sebenarnya.
Jika suatu emosi – seperti marah, takut, atau cinta – terus muncul berulang kali dan diberi ruang untuk tumbuh, maka ia tidak hanya memengaruhi kita sesaat, tetapi bisa menjadi bagian tetap dari struktur jiwa kita. Dalam pandangan ini, emosi adalah manifestasi terdalam dari batin kita; bukan sekadar respons sementara, melainkan kekuatan pembentuk jiwa yang bisa mengangkat atau justru menjerumuskan, tergantung bagaimana kita memperlakukannya. Maka, menjaga emosi berarti juga menjaga kualitas keberadaan jiwa itu sendiri.
Bayangkan jiwa seperti sebuah kain putih yang lembut dan halus. Setiap kali kita mengalami emosi, seolah-olah tangan batin kita menorehkan warna di kain itu – kadang merah karena marah, biru karena sedih, atau emas karena cinta dan syukur. Jika emosi itu hanya sesekali muncul, warnanya mungkin samar dan cepat memudar. Tapi jika emosi itu diulang terus-menerus, seperti terus mewarnai bagian yang sama dengan warna tertentu, maka warna itu akan semakin dalam dan menjadi bagian permanen dari kain jiwa.
Dalam pandangan filsafat Hikmah, emosi bukan hanya “cat air yang mudah hilang”, melainkan bisa menjadi pola tetap dalam jiwa. Jadi, saat seseorang sering marah destruktif, maka amarah itu bukan lagi sekadar reaksi sesaat, melainkan bagian dari karakter jiwanya. Demikian pula jika kita membiasakan cinta, syukur, atau sabar, maka emosi-emosi itu akan membentuk dan memperindah jiwa dari dalam.
Secara bahasa dan pengalaman manusia lintas budaya, amarah destruktif hampir selalu dihubungkan dengan unsur panas, api, atau ledakan. Dalam berbagai bahasa, orang menggambarkan amarah dengan istilah seperti “kepala panas”, “darah mendidih”, atau “meledak karena marah”. Ini bukan sekadar ungkapan puitis atau kiasan kosong, melainkan muncul dari pengalaman tubuh yang nyata saat seseorang sedang marah.
Secara fisiologis, tubuh memang bereaksi seperti sedang menghadapi panas: kulit terasa hangat atau panas, otot-otot menegang, napas menjadi berat, dan tekanan darah meningkat. Reaksi ini mirip dengan respons tubuh saat terpapar suhu tinggi atau ancaman fisik. Oleh karena itu, asosiasi antara amarah dan panas tidak hanya berlaku dalam bahasa, tetapi juga merupakan cerminan dari realitas tubuh dan batin manusia. Dalam konteks ini, amarah memang “menyala” di dalam diri – bukan secara simbolik semata, melainkan juga dalam arti harfiah melalui gejolak energi dan ketegangan yang bisa dirasakan secara langsung.
Fenomena hipnosis seperti tubuh yang menggigil saat disugesti merasa dingin, kulit yang melepuh karena amarah yang sangat intens, atau bahkan penyembuhan luka yang dipercepat hanya dengan visualisasi, menunjukkan sesuatu yang menarik dan mendalam: gambaran atau bentuk batin (dalam istilah filsafat disebut surah khayaliyyah, yang merupakan representasi mental yang bisa hidup dan berdampak) yang cukup kuat ternyata bisa mewujud secara nyata dalam tubuh fisik. Artinya, apa yang dibayangkan atau dirasakan secara mendalam di dalam diri tidak hanya berhenti di level pikiran, tetapi bisa menggerakkan reaksi biologis dalam tubuh.
Bila kekuatan batin bisa memberi dampak sebesar itu pada tubuh yang bersifat kasar dan fisik, maka lebih masuk akal lagi bahwa ia dapat membentuk dan memengaruhi jiwa itu sendiri, yang sifatnya lebih halus dan dekat dengan sumber emosi dan kesadaran. Dalam pandangan ini, bentuk-bentuk batin bukan sekadar bayangan kosong, melainkan kekuatan yang bisa mencetak realitas – baik dalam tubuh maupun dalam struktur jiwa yang lebih dalam.
Oleh sebab itu, amarah adalah Api Ontologis, karena ia bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan bentuk nyata dari keberadaan batin seseorang. Dalam pandangan filsafat Hikmah, ketika seseorang marah, jiwa tidak hanya merasa terganggu, tetapi menciptakan bentuk batin tertentu – sebuah “rupa panas”, tekanan, dan dorongan destruktif yang muncul dari dalam. Bentuk ini disebut rupa batin yang terbentuk dari kekuatan imajinatif jiwa, yaitu citra batin yang muncul di alam mitsal (alam imajinatif eksistensial), dan bukan sekadar gambaran samar, melainkan bentuk hidup yang benar-benar eksis di ranah non-materi.
Yang menarik, bentuk ini bisa menurun ke tubuh fisik, seperti yang terlihat pada kasus kulit yang melepuh karena amarah yang terlalu kuat, atau gangguan lambung kronis akibat kemarahan yang dipendam begitu lama. Ini menunjukkan bahwa bentuk batin dari jiwa bisa mewujud dalam tubuh, artinya ia benar-benar nyata dan aktif secara ontologis. Jika amarah ini terus diulang, dipelihara, dan diperkuat, maka bentuknya akan mengendap menjadi struktur tetap dalam jiwa, membentuk karakter atau kondisi batin yang menetap. Maka, amarah bukan hanya emosi sesaat, tetapi api yang mencetak wujud dalam diri, dan jika tak dijinakkan, bisa membakar jiwa dan tubuh sekaligus.
Walhasil, amarah secara nyata membentuk lingkungan internal jiwa. Ia bukan sekadar perasaan sesaat yang muncul dan hilang, melainkan energi eksistensial yang hidup dan bisa bertumbuh menjadi bagian dari struktur terdalam diri kita. Dalam pandangan filsafat Hikmah, amarah adalah api ontologis, yaitu bentuk nyata dari keberadaan batin yang bisa membakar dan menyakiti bukan hanya tubuh, tapi juga jiwa secara perlahan.
Jika amarah terus dipelihara, diulang, dan dibiarkan berkembang, maka ia tidak lagi sekadar “reaksi emosional”, tetapi menjadi bagian dari identitas eksistensial individu – membentuk cara kita berpikir, merasakan, dan bersikap terhadap dunia. Maka, penting untuk menyadari bahwa emosi-emosi yang kita biarkan hidup dalam diri bukanlah angin lalu. Mereka perlahan-lahan menyusun siapa kita sebenarnya, baik memperindah jiwa atau justru menggelapkannya. Karena itu, menjaga kebersihan emosi bukan sekadar soal etika, tapi juga soal merawat bentuk keberadaan diri kita yang terdalam.
@pakarpemberdayaandiri










