Catatan Risdiana Wiryatni *)
Pengkhianat amanah rakyat. Saya tersentak, melihat carut marut persoalan bangsa saat ini. Dari persoalan korupsi, penegakan hukum, hingga penyelewengan konstitusi. Kondisi bangsa ini semakin tertatih-tatih, ketika para elit tak lagi berpihak dan tak lagi mampu mendengar jerit pilu rakyat.
Kehidupan berbangsa dan bernegara kian menunjukkan kegagalan di berbagai aspek. Nilai-nilai kejuangan untuk bersama-sama memperkokoh bangsa ini pun ikut terpuruk, ditandai dengan mulai terkikisnya semangat persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa, hanya karena perbedaan pilihan politik.
Demokratisasi yang dilakukan sejak sepuluh tahun lalu justru membuat bangsa ini makin kehilangan kedaulatannya dalam politik, ekonomi, dan budaya.
Pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat justru secara nyata mengkhianati kepercayaan yang diberikan rakyat. Kebijakan yang dibuat pemerintah yang seharusnya untuk menyejahterakan rakyat kenyataannya justru semakin menyengsarakan rakyat.
Dalam bidang ekonomi, sebagian besar aset dan potensi ekonomi bangsa telah diserahkan kepada pihak asing. Rakyat Indonesia sebagai pemilik sah segala sumber daya tersebut justru tidak mendapatkan apa-apa. Rakyat harus membeli sumber daya alam yang dimilikinya sama dengan harga di negara yang tidak memiliki sumber daya alam itu.
Kekayaan bangsa Indonesia yang terdiri dari sumber daya alam dan manusia yang begitu beragam saat ini justru dijadikan alat pemecah bangsa. Bila perbedaan ini dulu dijadikan semangat untuk bersatu, tetapi sekarang sebaliknya. Semangat dan nilai juang saat dulu sudah beralih menjadi kepentingan individu.
Dengan sumber daya alam yang masih besar dan penduduk yang menembus 278,8 juta jiwa Indonesia mestinya sudah lebih sejahtera dari saat ini, ditandai laju pertumbuhan ekonomi di atas 8% setahun, pembangunan yang lebih merata, angka kemiskinan dan pengangguran minim, dan tidak ada pengiriman TKI tidak terampil ke luar negeri. Tapi, apa boleh buat, karena salah kelola, bukan hanya sektor mikro yang terpuruk.
Ekonomi makro yang selama ini menjadi kebanggaan pun sudah mulai goyah seperti terlihat pada melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan sejumlah mata uang kuat dunia
Potensi maju negeri ini jauh lebih besar dari berbagai faktor penghambat. Dengan potensi sumber daya alam yang besar dan jumlah penduduk yang juga besar, bangsa ini bisa menggapai kemakmuran asalkan Negara dikelola dengan benar. Pemerintahan ini tidak boleh mewariskan ekonomi yang salah kelola kepada pemerintahan berikut.
Persoalan lain yang turut memperburuk kondisi bangsa ini, adalah pudarnya semangat dan nilai juang ini disebabkan pembentukan karakter bangsa yang buruk. Tidak hanya menyebabkan hilangnya persatuan bangsa, tetapi menyebabkan berbagai masalah sosial muncul akibat tata kelola negara yang tidak baik. Perlu dilakukan pembentukan karakter yang mengedepankan persatuan, penghargaan pada keberagaman, solidaritas, dan optimistis melalui perbaikan pendidikan dan budaya.
Mari kita berbenah diri untuk Indonesia yang lebih baik. Kita kawal demokrasi kita 2024 mendatang, agar sejuk, damai, dan melahirkan pemimpin bangsa yang amanah, jujur dan sanggup membawa perubahan untuk bangsa ini.
*) CEO Kinerja Group












