Jangan Merasa Diri Kita Lebih Baik dari Orang Lain

Risdiana Wiryatni

Catatan Risdiana Wiryatni *)

Dalam hidup keseharian, baik dalam pergaulan maupun hidup bertetangga, kita tentu pernah bertemui seseorang yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain, sehingga dengan sikapnya itu, muncullah kesombongan dan meremehkan orang lain.

Perasaan bahwa diri kita lebih baik dibandingkan yang lain merupakan benih sifat ujub alias bangga diri yang merupakan akar dari kesombongan. Allah telah menegur hamba-hambaNya yang menyatakan diri suci diakibatkan amal ibadah yang mereka lakukan, bahwa sesungguhnya perasaan tersebut tidak diperkenankan.

Ketika kita merasa lebih baik, artinya kita membandingkan diri dengan orang lain dan kemudian merasa ‘aman’ karena menganggap amalan kitalah yang lebih banyak atau dosa kita lebih sedikit.

Merasa diri lebih baik berpotensi melalaikan kita dari dosa-dosa dan aib diri sendiri.

Foto ilustrasi

Prinsip yang harus dipegang adalah jangan selalu merasa diri sudah baik, namun berusaha terus untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Dalam Islam kita tidak dianjurkan untuk merasa diri lebih baik dari yang lainnya bahkan diangkap sikap tercela, sekalipun nyata-nyata kita memang tampak lebih superior dibanding sesama.

Bila kita merasa telah menjadi orang yang baik saja dianggap ujub, sebagaimana ditanyakan kepada Aisyah radliyallahu anha siapakah orang yang terkena ujub, beliau menjawab: “Bila ia memandang bahwa ia telah menjadi orang yang baik” (Syarah Jami As Shaghir). Bagaimana bila disertai dengan menganggap remeh dan merendahkan orang lain?

Merasa diri paling benar, paling suci, paling aman dari dosa, paling beriman atau bahkan paling berhak masuk surga adalah beberapa bentuk sikap sombong dalam Islam dan merupakan perbuatan yang sangat dicela oleh Allah Ta’ala.

Karena itu, sebagai seorang muslim sangat dianjurkan untuk lebih mengenal dirinya sendiri (introspeksi diri) guna menghindarkan kita dari berbagai penyakit hati sombong, riya, ujub, takabur, dan lain sebagainya.

Imam Ghazali mengajarkan beberapa kunci agar seseorang terhindar dari ujub [merasa diri lebih baik dari orang lain]

Pertama,jangan meremehkan anak kecil. Anak kecil belum pernah bermaksiat, sehingga lebih baik dari orang dewasa.

Kedua, jangan menyepelekan orang yang lebih tua. Anggaplah orang lebih tua beribadah kepada Allah SWT lebih dulu daripada kita, sehingga bisa jadi amalan pahalanya lebih besar.

Ketiga,bila ada orang berilmu, berusahalah menganggap orang itu menerima anugerah yang tidak kita peroleh, sudah menjangkau apa yang belum kita capai, tahu apa yang belum kita ketahui.

Keempat,bila orang lain bodoh, anggapanlah bahwa kalaupun bermaksiat orang bodoh berbuat atas dasar kebodohannya, sementara diri kita berbuat maksiat dengan ilmu.

Kelima,bila orang lain kafir, anggapanlah bahwa kondisi akhir hayat seseorang tidak ada yang tahu. Bisa jadi orang kafir itu di kemudian hari masuk Islam lalu meninggal dunia husnul khatimah. Sebaliknya, bisa jadi Allah sesatkan diri kita dan di ujung kehidupan, lalu menutup usia kita dengan amal terburuk atau su’ul khatimah. Na’udzubillah…

Saudarakau, marilah kita lihat kembali diri ini, adakah tanda-tanda sifat ujub pada diri kita? Dan apakah kita akan terus memliharanya atau akan memulai untuk memperbaikinya? Pertanyaan ini hanya diri kita dan Allah-lah yang mengetahui jawabannya. Semoga kita termasuk pribadi muslim yang senantiasa memperbaiki diri dan dijauhkan dari sifat-sifat ujub tersebut. Amin

*) Owner Kinerja Group

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *