Oleh Syahril Syam
Kita sering menyaksikan dua pihak yang saling berdebat. Bahkan mungkin kita juga sering berdebat dengan seseorang. Dalam setiap perdebatan, kedua belah pihak selalu merasa benar. Hal ini sangat wajar karena berdasarkan penelitian neurosains, apapun penilaian yang terjadi pada diri kita, maka otak korteks prefrontal akan menjadikan pengalaman itu bersifat kontingensi, yaitu hal tersebut hanya berlaku pada diri sendiri, berkaitan dengan pengalaman diri sendiri, dan menjadi relatif bila dibandingkan dengan pengalaman orang lain yang mengalami kejadian yang sama atau mirip.
Itulah sebabnya, emosi yang mengikat keyakinan kita – apa pun itu – akan senantiasa bernilai benar bagi diri kita sendiri. Emosi yang kita rasakan menjadikan setiap persepsi, asumsi, dan keyakinan selalu bernilai benar dan terasa benar pada diri kita.
Yang jarang disadari oleh kebanyakan orang adalah setiap perasaan yang dirasakan, selalu ada konsep bersama perasaan tersebut. Menurut KBBI, konsep adalah ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret; gambaran mental dari objek, proses, atau apapun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal dan yang dinyatakan dalam suatu kata atau simbol.
Jadi saat kita merasa hidup ini indah, maka kita merasakan suatu perasaan tentang konsep bahwa hidup ini indah. Perasaan kita dan konsep bahwa hidup ini indah telah menyatu. Begitu pula ketika seseorang merasa hidup ini penuh derita dan Tuhan tak adil, maka pada perasaan destruktif yang dirasakannya terdapat konsep bahwa hidup penuh derita dan Tuhan tak adil. Apapun perasaan yang kita rasakan selalu ada konsep yang bersamanya.
Karena setiap perasaan yang kita rasakan menjadikan suatu konsep itu terasa benar oleh diri kita, maka sesungguhmya perdebatan antara kedua belah pihak adalah pertarungan dua konsep yang berbeda dan berlawanan. Di sinilah kita mesti menyadari betapa pentingnya menguji kebenaran sebuah konsep sebelum kita yakini (rasakan) sebagai suatu kebenaran. Karena harus diingat bahwa ketika sebuah konsep telah menjadi perasaan, maka pasti akan selalu terasa benar menurut diri kita.
Konsep yang benar adalah ketika konsep itu memiliki eksistensi (keberadaan) di luar pikiran kita (di realitas/kenyataan). Konsep hadirnya di mental (pikiran), sehingga tidak semua konsep memiliki keberadaan di luar pikiran. Jika demikian, maka sudah pasti konsep tersebut bernilai salah. Sebagai contoh ada konsep “kursi”, “meja”, “pohon” di mental kita. Dan semua konsep tersebut juga memiliki perwujudan di realitas, maka ini berarti konsep kita bernilai benar.
Sedangkan jika yang ada di mental kita adalah konsep “matahari terbit di malam hari”, “bulan sebagai sumber cahaya bumi”, maka konsep-konsep ini sudah pasti bernilai salah karena tidak ada perwujudannya di realitas (di luar pikiran). Tentu saja contoh-contoh konsep yang baru saja disebutkan bisa kita buktikan kebenarannya dengan mudah karena bersifat indrawi. Artinya bisa kita buktikan dengan indra kita. Ini berarti ada konsep-konsep yang bersifat metafisika dan butuh alat khusus untuk membedah benar atau tidaknya konsep-konsep metafisika tersebut.
Maka betapa ruginya diri kita jika suatu konsep yang kita yakini (rasakan) sebagai kebenaran, namun ternyata konsep itu setelah diuji dan hasilnya adalah bernilai salah (tidak memiliki perwujudan di realitas). “Power Rangers”, “Ultraman”, “Dragon Ball”, adalah contoh-contoh konsep yang bernilai salah karena konsep tersebut bersifat fiktif (tidak memiliki perwujudan di realitas). Sehingga sudah pasti kita tidak akan pernah mau meyakini konsep-konsep tersebut. Jadi meyakini suatu konsep yang tidak benar, bisa mengarah pada kecenderungan destruktif.
Meyakini hidup ini adalah penderitaan dan Tuhan tidak adil akan membuat seseorang berada pada stres kronis. Dan sudah pasti berdampak pada buruknya kesehatan fisik. Padahal fakta realitas adalah Tuhan itu Mahaadil dan keadilan-Nya justru menjadikan kita tidak perlu bersedih hati dan merasa khawatir terhadap apapun di kehidupan ini. Oleh sebab itu ada banyak konsep yang memang bernilai benar untuk kita yakini. Dan meyakini konsep tersebut akan membuat kita bisa tenang dalam menjalani kehidupan ini walau mesti menghadapi berbagai ujian kehidupan.
@pakarpemberdayaandiri











