Bahaya di Balik Makanan Snack dan Kue Kiloan Curah Beredar Luas Akibat Lemahnya Pengawasan BPOM 

Foto ilustrasi

KINERJAEKSELEN.co, – Di tengah berkembangnya industri makanan ringan dan kue kering curah, ancaman tersembunyi bagi kesehatan masyarakat semakin nyata. Peredaran snack ringan dan kue kering olahan home industri yang dijual secara curah atau kiloan tanpa pengawasan resmi dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) maupun dinas kesehatan, patut menjadi perhatian serius. Ironisnya, meskipun berpotensi membahayakan kesehatan, makanan ini tetap diminati karena harganya yang murah dan ketersediaannya yang melimpah, terutama menjelang momen besar seperti Idul Fitri.

Salah satu masalah mendasar adalah, jenis makanan curah semacam ini tidak tidak ada masa expired, penggunaan bahan baku yang tidak layak konsumsi, seperti telur infertil. Telur ini berasal dari hasil pemisahan telur fertil yang gagal berkembang menjadi embrio di peternakan. Dengan harga sekitar Rp180 hingga Rp200 per butir, jauh lebih murah dibandingkan telur normal yang berkisar Rp1.800 per butir, telur infertil menjadi pilihan produsen nakal demi memaksimalkan keuntungan.

Namun, dampak penggunaannya tidak main-main. Telur infertil berpotensi mengandung mikroorganisme berbahaya, seperti bakteri Salmonella, yang dapat menyebabkan keracunan makanan. Bagi anak-anak, ibu hamil, dan individu dengan daya tahan tubuh lemah, konsumsi makanan berbahan dasar telur infertil dapat mengakibatkan gangguan pencernaan, infeksi serius, bahkan komplikasi kesehatan yang lebih parah.

Yang lebih mengkhawatirkan, produk-produk ini sering kali tidak memiliki label yang jelas, apalagi nomor registrasi resmi dari BPOM. Produsen home industri menjual makanan mereka kepada tengkulak atau pihak kedua, yang kemudian mendistribusikannya ke pasar hingga mini market melalui pihak ketiga. Di tangan pihak ketiga inilah produk kerap dikemas ulang dengan merek dan label palsu untuk memberi kesan legalitas. Konsumen awam, yang tidak menyadari risiko ini, menjadi korban.

Bisnis snack ringan dan kue kering memang menggiurkan, terutama menjelang hari raya. Permintaan yang melonjak berkali lipat menciptakan peluang besar bagi produsen. Sayangnya, sebagian produsen lebih mementingkan keuntungan daripada keselamatan konsumen. Penggunaan telur infertil, misalnya, tidak memerlukan proses fermentasi beberapa hari seperti telur normal untuk menghasilkan adonan yang mengembang. Hal ini mempercepat proses produksi dan memangkas biaya secara signifikan.

Namun, apakah keuntungan besar ini layak dibayar dengan risiko kesehatan masyarakat? Sebagai negara yang memiliki aturan ketat terkait pangan, kita tidak boleh membiarkan praktik semacam ini terus berlangsung.

Pengawasan terhadap peredaran makanan curah dan olahan home industri harus diperketat. BPOM dan dinas kesehatan perlu turun tangan lebih aktif, mulai dari inspeksi mendadak ke pusat produksi hingga pemberian sanksi tegas bagi produsen yang melanggar. Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya memilih produk yang terdaftar resmi.

Konsumen perlu belajar membaca label Halal dan memahami nomor registrasi BPOM. Jangan tergiur harga murah tanpa memeriksa keamanan produk. Pilihan yang salah bisa berakibat fatal, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.

Di balik harga murah dan tampilan menarik snack ringan serta kue kering curah, terdapat ancaman serius bagi kesehatan. Pemerintah, produsen, dan masyarakat harus bekerja sama untuk menciptakan ekosistem pangan yang lebih aman dan bertanggung jawab. Keselamatan konsumen harus menjadi prioritas utama di atas segala keuntungan ekonomi. Mari kita bersama-sama mencegah bahaya ini sebelum terlambat.

( Catatan Niko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *