Oleh: Syahril Syam *)
Dalam bukunya “Happiness: The Science Behind Your Smile” (Kebahagiaan: Ilmu di Balik Senyuman Anda), Daniel Nettle menyinggung tiga tingkat kebahagiaan yang dapat membantu kita memahami berbagai jenis kebahagiaan yang kita rasakan dalam hidup. Level pertama sekaligus level yang paling rendah adalah Kebahagiaan Jangka Pendek. Ini adalah jenis kebahagiaan yang kita rasakan dari hal-hal sederhana atau kenikmatan langsung. Misalnya, ketika kita makan makanan favorit, mendapatkan hadiah, atau menikmati waktu santai setelah bekerja keras. Kebahagiaan ini cepat datang dan cepat hilang. Ini adalah jenis kebahagiaan yang memberikan perasaan senang, tetapi hanya bertahan untuk waktu yang singkat. Setelah kita merasakannya, kita mungkin kembali merasa biasa saja, bahkan bisa merasa kosong jika kita terlalu sering mencari kenikmatan ini. Penulis seringkali menyebut level ini bukan sebagai kebahagiaan, tetapi lebih kepada kesenangan sementara.
Level selanjutnya adalah Kebahagiaan yang Lebih Stabil. Kebahagiaan di tingkat ini lebih stabil dibandingkan dengan kebahagiaan jangka pendek karena berhubungan dengan kepuasan kita terhadap hidup secara keseluruhan. Misalnya, kita merasa cukup bahagia dengan kehidupan kita karena kita merasa bahwa kita punya pekerjaan yang memuaskan, hubungan yang baik, atau tempat tinggal yang nyaman.
Kebahagiaan ini lebih bertahan lama karena berhubungan dengan aspek hidup yang lebih mendalam dan penting bagi kita. Meskipun tantangan dan kesulitan hidup datang, kita masih merasa cukup puas dengan perjalanan hidup kita secara keseluruhan. Jika kita merasa puas dengan pekerjaan kita, bukan hanya karena gaji atau jabatan, tetapi karena pekerjaan itu memberi kita rasa pencapaian dan kontribusi, maka kebahagiaan ini lebih stabil. Begitu pula ketika terbangun hubungan yang sehat dengan keluarga, pasangan, atau teman-teman dekat, maka dapat memberikan rasa bahagia yang stabil.
Ketika kita merasa dihargai dan didukung oleh orang-orang terdekat, kebahagiaan kita cenderung lebih tahan lama meskipun ada tantangan dalam hidup. Kebahagiaan pada level ini tidak datang dari kejutan atau kenikmatan sesaat, melainkan dari rasa puas dan nyaman dengan aspek-aspek penting dalam hidup kita.
Dan level kebahagiaan tertinggi menurut Nettle adalah Kebahagiaan dalam Pencapaian Makna dan Tujuan Hidup. Kebahagiaan tingkat ketiga ini adalah yang paling mendalam dan tahan lama. Ini berhubungan dengan pencapaian tujuan hidup yang lebih besar, seperti menemukan makna dalam hidup kita, merasa bahwa kita berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, atau mencapai tujuan hidup yang memberi kita perasaan pencapaian yang mendalam. Misalnya, kita bisa merasa sangat bahagia karena kita membantu orang lain, berpartisipasi dalam pekerjaan yang memberikan dampak positif, atau merasa bahwa hidup kita punya tujuan yang jelas dan bermakna. Kebahagiaan ini tidak hanya datang dari kenikmatan sesaat, tetapi dari rasa puas yang lebih mendalam tentang peran kita dalam dunia ini. Kebahagiaan ini bukan hanya tentang kenyamanan atau kesenangan, tetapi tentang merasa bahwa hidup kita memiliki kontribusi atau tujuan yang lebih besar yang memberi arti bagi diri sendiri dan orang lain.
Sayangnya kebahagiaan level ketiga ini hanya berhenti pada pencapaian makna dan tujuan hidup, yang didasarkan pada kontribusi kita kepada orang lain dan dunia. Padahal perjalanan hidup adalah tentang melepaskan ego secara menyeluruh, yang didasarkan pada kesadaran bahwa apapun yang ada pada diri kita adalah murni pemberian dari Sang Maha Sempurna. Dan karena Kasih Sayang Sang Maha Sempurna meliputi segala sesuatu, maka sudah semestinya pencapaian makna dan tujuan hidup kita sebagai manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan dunia, didasarkan pada mengharap Ridho Sang Maha Sempurna.
Mengharap Ridho Sang Maha Sempurna berarti berusaha untuk mendapatkan persetujuan dan kasih sayang dari-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Mengharap Ridho Sang Maha Sempurna berarti dengan tulus melaksanakan ibadah wajib, berbuat baik kepada orang lain, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Niat yang ikhlas adalah kunci utama dalam mengharap Ridho Sang Maha Sempurna. Setiap perbuatan yang kita lakukan, baik itu ibadah maupun amal kebaikan, haruslah dilakukan dengan niat untuk mendapatkan Ridho-Nya, bukan untuk mencari pujian dari orang lain atau demi kepentingan duniawi. Mengharap Ridho Sang Maha Sempurna sebagai tujuan hidup berarti hidup dengan kesadaran bahwa segala yang kita lakukan, baik itu pekerjaan, hubungan, atau amal kebaikan, adalah untuk mendapatkan persetujuan-Nya. Dengan kata lain, berusaha untuk menjalani hidup sesuai dengan kehendak-Nya, dan bukan karena kehendak diri (ego) kita.
@pakarpemberdayaandiri












