Oleh: Syahril Syam *)
Manusia tidak pernah “selesai”. Setiap hari adalah peluang untuk tumbuh, berubah, dan menjadi versi diri yang lebih baik atau lebih buruk. Manusia itu selalu berkembang dan berubah, baik secara fisik, pikiran, maupun perasaan. Kita tidak pernah berhenti “berproses” menjadi sesuatu yang lebih baik atau lebih buruk, karena hidup selalu membawa kita pada pengalaman-pengalaman baru yang mengubah diri kita. Ketika kita belajar sesuatu yang baru, seperti memahami pelajaran atau menghadapi masalah, pemikiran kita berubah. Misalnya, kita yang dulu hanya fokus pada diri sendiri bisa jadi berubah menjadi lebih peduli pada orang lain setelah menghadapi pengalaman hidup tertentu, atau bisa juga menjadi semakin egois.
Karena itu, setiap kita “menjadi”, maka cara pandang kita terhadap dunia pun berubah. Ketika saya “menjadi” pencemas, maka cara pandang saya terhadap dunia cenderung dipengaruhi oleh rasa takut, ketidakpastian, dan kekhawatiran berlebihan. Hal ini membuat saya sering melihat dunia sebagai tempat yang penuh ancaman atau masalah, bahkan ketika ancaman itu sebenarnya belum tentu nyata. Ketika saya “menjadi” depresi, cara pandang saya terhadap dunia cenderung dipenuhi oleh perasaan putus asa, ketidakberdayaan, dan kehilangan makna. Saya melihat dunia sebagai tempat yang tidak menawarkan harapan atau peluang untuk perbaikan.
Ketika saya “menjadi” iri, maka dunia dipandang sebagai tempat dimana orang lain lebih beruntung atau memiliki hal-hal yang lebih baik. Hal ini membuat saya fokus pada apa yang tidak saya miliki, sehingga sulit merasa bersyukur. Ketika saya “menjadi” perfeksionis, dunia dipandang sebagai tempat yang menuntut kesempurnaan. Saya merasa bahwa untuk diterima atau dihargai, semuanya harus sempurna. Ini sering membuat saya mudah stres atau merasa gagal meskipun hasilnya sudah baik. Ketika saya “menjadi” penakut, maka saya melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya, penuh ancaman, atau tak bisa diprediksi. Membuat saya merasa cemas terhadap apa yang mungkin terjadi, bahkan sebelum ancaman itu benar-benar ada.
Ketika saya “menjadi” pemberani, maka dunia dipandang sebagai tempat yang menantang, tapi setiap tantangan bisa dihadapi dengan keberanian. Saya percaya pada kemampuan diri untuk menghadapi risiko dan ketidakpastian. Ketika saya “menjadi” pemaaf, dunia dipandang sebagai tempat yang penuh dengan manusia yang tak sempurna, sehingga memaafkan adalah bagian dari hidup. Membuat saya lebih fokus pada perbaikan hubungan dan kedamaian batin. Ketika saya “menjadi” optimis, dunia dipandang sebagai tempat yang penuh peluang dan kemungkinan. Setiap tantangan dianggap sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Saya percaya bahwa masa depan bisa lebih baik, asalkan ada usaha dan harapan. Ketika saya “menjadi” bijaksana, dunia dipandang sebagai tempat untuk belajar dan memahami. Saya cenderung melihat hal-hal secara mendalam dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum bertindak.
Ketika seseorang merasa tidak punya jalan keluar dari kehidupan negatif, cara pandang terhadap dunia, diri sendiri, dan situasi cenderung didominasi oleh perasaan putus asa, tidak berdaya, dan terjebak. Dunia terlihat gelap, tidak memberikan peluang, dan tampak penuh dengan hal-hal negatif. Ia merasa bahwa apapun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan. Juga berkeyakinan kuat bahwa keadaan tidak akan pernah berubah, sehingga sulit untuk melihat solusi atau kesempatan yang mungkin sebenarnya ada.
Namun ketika kita berhasil keluar dari kehidupan negatif dan mulai melihat hidup dengan cara yang lebih positif, perubahan ini seringkali terasa sangat signifikan. Diri yang dulu – dengan segala ketakutan, kekhawatiran, dan rasa putus asa – akan terasa asing dan bahkan mungkin sulit dikenali. Proses ini dapat digambarkan sebagai transformasi yang mendalam, dimana kita tidak hanya berubah dalam cara berpikir, tetapi juga dalam cara merasakan dan berinteraksi dengan dunia. Proses keluar dari kehidupan negatif seringkali disertai dengan perubahan identitas. Diri yang dulu merasa terperangkap dalam rasa tidak berdaya dan keterbatasan, sekarang merasa lebih terbuka untuk berkembang dan meraih hal-hal baru. Perubahan ini bisa terasa seperti bertemu dengan versi diri kita yang lebih kuat dan lebih mampu.
Setiap “menjadi” mencerminkan cara kita memandang diri sendiri, orang lain, dan dunia. Pandangan ini tidak tetap, dan dengan kesadaran serta usaha, kita dapat mengarahkan proses “menjadi” ini ke arah yang lebih positif dan membangun. “Menjadi” adalah proses dinamis yang menunjukkan bagaimana kita memahami diri sendiri, orang lain, dan dunia sekitar kita. Pandangan hidup tidak bersifat permanen. Dengan kesadaran, refleksi, dan usaha, kita bisa mengubah proses “menjadi” ke arah yang lebih baik. Proses “menjadi” dapat diarahkan menuju kebahagiaan dan pertumbuhan jika kita memilih untuk fokus pada hal-hal yang membangun. Proses “menjadi” adalah perjalanan tanpa akhir. Apa yang kita alami dan bagaimana kita memilih untuk merespons suatu peristiwa, menentukan arah perjalanan kita. Karena perubahan dalam hidup membuka kesempatan untuk menciptakan versi diri kita yang lebih baik.
@pakarpemberdayaandiri












