Oleh : Syahril Syam *)
Pacing dan Leading adalah teknik dalam komunikasi yang sering digunakan dalam Neuro-Linguistic Programming (NLP), yang merupakan teknik dalam komunikasi dan digunakan untuk membangun koneksi dengan seseorang dan mengarahkan mereka ke suatu tujuan atau keputusan. Langkah pertama adalah pacing, yang berarti menyamakan ritme, pola, perasaan, atau keadaan seseorang.
Dalam konteks ini, kita berusaha menyelaraskan dengan apa yang sudah mereka yakini, alami, atau percayai. Tujuannya adalah agar orang tersebut merasa dipahami dan terhubung. Ini bisa dilakukan dengan cara menggunakan bahasa yang sama (mengadopsi istilah atau frasa yang digunakan oleh orang lain), mencocokkan nada suara (menggunakan intonasi dan kecepatan bicara yang serupa), dan menangkap emosi (menggambarkan perasaan atau kondisi yang sedang dialami oleh lawan bicara). Misalnya, jika seseorang merasa ragu-ragu, kita mungkin mulai dengan mengungkapkan keraguan atau kekhawatiran yang sama, sehingga orang tersebut merasa bahwa kita ada di pihak mereka.
Dengan cara ini, kita tidak memaksakan perubahan atau perbedaan langsung. Contoh dalam pergaulan: “Ketika kamu merasa tidak percaya diri, mungkin kamu berpikir, ‘Apakah aku cukup baik?’ Itu hal yang wajar. Banyak orang merasakannya.”
Setelah mencocokkan keadaan atau emosi orang lain, langkah berikutnya adalah mengarahkan mereka ke pemikiran atau tindakan yang diinginkan (leading). Ini dilakukan dengan memberikan sugesti atau mengajukan pertanyaan yang mendorong perubahan – mengarahkan mereka ke langkah atau keputusan yang kita inginkan.
Setelah seseorang merasa dipahami dan terhubung, mereka lebih terbuka untuk mengikuti arahan atau sugesti yang kita berikan, karena sudah ada kepercayaan dan kenyamanan. Contoh dalam pergaulan: “Setelah kamu bisa merasakan perasaan itu, bayangkan jika kamu bisa mengatasi rasa tidak percaya dirimu dan tampil percaya diri di depan banyak orang. Bagaimana rasanya jika kamu berhasil melakukannya?”
Jika digabungkan pacing dan leading, maka bisa bersifat motivasi: “Aku tahu kamu merasa cemas sebelum presentasi, itu sangat wajar. Tapi bayangkan sejenak, ketika kamu berhasil menyampaikannya dan semua orang terkesan. Bagaimana rasanya?” Atau dalam penjualan: “Banyak orang yang merasa ragu saat memilih produk ini, dan itu normal. Namun, setelah mereka mencobanya, mereka merasa sangat puas dan tidak mau kembali ke pilihan sebelumnya.” Pacing dan Leading adalah alat yang powerful untuk menciptakan koneksi, membangun kepercayaan, dan memfasilitasi perubahan. Dengan memanfaatkan teknik ini secara etis, kita dapat membantu orang lain merasa lebih baik dan mencapai tujuan mereka.
Sayangnya, Pacing dan Leading dapat disalahgunakan untuk menyesatkan atau memanipulasi seseorang demi kepentingan egois. Meskipun teknik ini pada dasarnya adalah cara yang sah dalam komunikasi untuk membangun hubungan dan mengarahkan tindakan, namun jika digunakan dengan niat buruk, dapat menjadi alat manipulasi yang efektif.
Pada tahap pacing, seseorang dapat memanfaatkan teknik ini untuk membangun kepercayaan palsu. Ini bisa dilakukan dengan meniru apa yang orang lain rasakan atau yakini, sehingga mereka merasa seolah-olah orang yang menggunakan teknik tersebut memiliki niat yang baik dan benar-benar memahami mereka.
Seseorang yang ingin meyakinkan orang lain untuk berinvestasi dalam bisnis yang meragukan mungkin memulai dengan mengatakan, “Aku tahu kamu khawatir tentang risiko investasi ini, itu wajar kok, banyak orang merasa seperti itu.” Dengan meniru perasaan khawatir orang tersebut, mereka menciptakan rasa kedekatan. Padahal, sebenarnya mereka hanya mencari cara untuk memanfaatkan kekhawatiran tersebut agar orang itu lebih mudah dibujuk.
Setelah berhasil melakukan pacing, tahap leading bisa digunakan untuk mengarahkan seseorang ke keputusan yang merugikan atau tidak rasional, tanpa orang tersebut menyadari bahwa mereka telah dipengaruhi. “Aku tahu kamu memang ingin yang terbaik untuk keuanganmu. Cobalah investasi ini, kamu pasti bisa untung besar, banyak orang sukses melakukannya.”
Dalam contoh ini, mereka mengarahkan orang untuk mengambil langkah yang mungkin tidak menguntungkan, dengan meyakinkan mereka bahwa banyak orang lain sukses melakukannya, padahal itu hanya trik untuk mendorong orang tersebut membuat keputusan yang salah.
Dalam konteks hubungan atau pertemanan, seseorang bisa menggunakan teknik ini untuk mengendalikan keputusan orang lain demi keuntungan pribadi, seperti mengajak teman untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka inginkan, misalnya, mengajak menghabiskan waktu dengan cara yang merugikan seperti berbuat nakal. “Aku tahu kamu biasanya nggak suka hal ini, tapi kan kita teman dan aku butuh kamu. Kalau kamu mau, aku janji nanti kita akan seru-seruan.”
Pada titik ini, orang tersebut mungkin merasa bersalah atau tertekan untuk mengikuti, bahkan jika itu bukan keputusan terbaik untuk mereka. Dalam banyak situasi, teknik ini bisa digunakan untuk mengeksploitasi keraguan atau kebutuhan orang lain demi keuntungan pribadi. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kewaspadaan dan menggunakan teknik ini secara etis, memastikan bahwa tujuannya untuk kebaikan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi yang merugikan orang lain.
@pakarpemberdayaandiri











