Oleh: Syahril Syam *)
Jika dilihat dari sudut pandang hadirnya pengetahuan pada diri manusia yang diperoleh melalui usaha, maka setiap bayi yang lahir ke dunia seperti kertas kosong. Karena mustahil seorang bayi telah berpengetahuan sedangkan di saat yang sama pengetahuan itu hadir ketika bayi mengalami interaksi terlebih dahulu dengan selain dirinya.
Dalam kacamata neurosains, setiap kali kita mengalami sesuatu, tubuh kita otomatis merespons – entah itu dengan reaksi fisik atau perasaan senang, sedih, atau lainnya. Respons ini mengubah kondisi dalam diri kita. Ketika kita sadar ada perubahan di dalam diri, kita mulai menghubungkannya dengan sesuatu yang terjadi di luar. Kita menyadari bahwa sesuatu di luar diri kita memengaruhi apa yang kita rasakan atau pikirkan.
Setiap kali kita memikirkan sesuatu, otak mengirimkan pesan ke tubuh agar tubuh menyesuaikan diri dengan apa yang kita pikirkan. Tubuh pun langsung merespons dengan menciptakan perasaan yang sesuai. Setelah itu, tubuh mengirim sinyal balik ke otak, memberi tahu bahwa ia sudah mulai merasakan apa yang dipikirkan.
Dengan kata lain, pikiran dan perasaan kita saling memengaruhi dan menciptakan siklus yang terus berulang. Misalnya, jika kita berpikir bahwa kita mampu atau penuh cinta kasih, tubuh akan merespons dengan membuat kita benar-benar merasa seperti itu. Sebaliknya, jika seseorang sering berpikir negatif – misalnya merasa khawatir atau tidak sabaran – dalam hitungan detik tubuh akan mulai merasa cemas dan gelisah.
Karena otak terus berkomunikasi dengan tubuh, kita mulai terbiasa berpikir seperti apa yang kita rasakan. Awalnya, pikiran membentuk perasaan. Tapi lama-kelamaan, perasaan justru mulai mengontrol pikiran kita. Saat ini terjadi, tubuh mulai “mengendalikan” kesadaran kita, dan kita secara otomatis bertindak berdasarkan kebiasaan emosional yang telah terbentuk. Karena kita terus-menerus merasa dan berpikir dengan cara yang sama, kita jadi terbiasa dan nyaman dengan pola ini, sehingga perilaku kita menjadi otomatis.
Singkatnya, siapa kita saat ini – cara berpikir, bertindak, dan merasakan – dibentuk oleh kebiasaan yang telah kita ulangi terus-menerus. Inilah yang membentuk kepribadian kita, yang sering kita sebut sebagai “ini gue banget”. Kita terus-menerus berpikir dengan cara yang sama, merasakan emosi yang sama, bereaksi dengan cara yang sama, berperilaku dengan pola yang sama, serta melihat dunia dari sudut pandang yang sama. Tanpa sadar, kita mungkin sudah mengulang pola ini ribuan kali selama bertahun-tahun.
Jadi, manusia tidak terlahir dengan pengetahuan atau karakter yang sudah tetap. Segala yang kita ketahui dan cara kita bersikap terbentuk melalui pengalaman, lingkungan, dan usaha kita sendiri. Bayi yang baru lahir tidak langsung tahu cara berbicara, berjalan, atau memahami dunia, tetapi ia belajar dari interaksi dan pengalaman seiring waktu. Jika pengetahuan sudah ada sejak lahir, maka manusia tidak perlu belajar apa pun. Namun kenyataannya, setiap orang harus berusaha memahami dunia, yang menunjukkan bahwa pengetahuan diperoleh, bukan sesuatu yang otomatis ada sejak awal. Siapa kita saat ini adalah hasil dari pengalaman dan interaksi kita dengan dunia sekitar.
Ketika kita mengalami transformasi, itu berarti kita berubah – baik dalam cara berpikir, merasakan, maupun bertindak. Artinya, kita tidak lagi menjadi “diri sendiri” yang lama karena kepribadian kita sebenarnya bukan sesuatu yang tetap, melainkan terus berkembang.
Perubahan ini bisa terjadi dalam dua bentuk. Pertama, kita bisa memperkuat sifat yang sudah ada, baik itu positif maupun negatif. Misalnya, jika kita sudah disiplin atau peduli, kita bisa semakin mengasahnya. Sebaliknya, jika seseorang sering merasa cemas atau mudah marah, tanpa disadari, sifat itu juga bisa semakin kuat. Kedua, perubahan bisa membawa kita menjadi versi diri yang lebih baik, dimana kita mulai berpikir lebih positif, lebih sadar dengan diri sendiri, dan mengubah cara kita menghadapi hidup agar lebih selaras dengan tujuan dan nilai-nilai yang kita yakini. Jadi, transformasi bukan berarti kehilangan jati diri, tetapi lebih kepada berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih selaras dengan kehidupan yang kita inginkan.
Seseorang yang merasa nyaman dengan dirinya dan sulit berubah karena takut menjadi “bukan dirinya” sebenarnya tidak menyadari bahwa dirinya yang sekarang pun adalah hasil dari pola kebiasaan, pengalaman, dan lingkungan yang telah membentuknya selama bertahun-tahun. Kepribadian bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus berkembang sesuai dengan cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak setiap hari.
Jika seseorang merasa bahwa perubahan berarti kehilangan jati diri, itu karena ia belum menyadari bahwa “jati diri” yang ia pertahankan sekarang pun dulunya terbentuk dari proses yang berlangsung lama. Artinya, jika ia mau, ia juga bisa membentuk versi dirinya yang baru, yang lebih sadar, lebih berkembang, dan lebih sesuai dengan kehidupan yang diinginkan.
@pakarpemberdayaandiri











