Oleh: Syahril Syam *)
Banyak orang tidak menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari, perasaan egois sering muncul tanpa disadari. Sebagai individu, seseorang cenderung lebih memikirkan kepentingan sendiri daripada memahami perasaan orang lain. Sebagai orang tua, terkadang kita merasa tahu yang terbaik untuk anak tanpa benar-benar mendengarkan apa yang mereka butuhkan.
Dalam pekerjaan, kita mungkin ingin diakui dan dihargai tanpa memperhatikan kontribusi rekan kerja. Sifat egois ini muncul secara halus dalam berbagai situasi, karena kita cenderung melihat dunia dari sudut pandang diri sendiri.
Dalam perspektif Filsafat Hikmah, egois adalah kondisi jiwa yang masih terikat pada materi dan kepentingan pribadi, sehingga belum menyadari keterhubungannya dengan realitas yang lebih luas dan spiritual. Sifat egois muncul ketika seseorang masih terjebak dalam pandangan dualistik, yaitu ketika seseorang masih berpikir bahwa dirinya terpisah dari orang lain dan dunia di sekitarnya. Ia merasa harus selalu membela kepentingan sendiri, tanpa menyadari bahwa dirinya sebenarnya adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dan saling terhubung.
Belum lama ini, penulis menerima curhatan dari seorang klien yang tanpa sadar sering membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain. Setiap kali melihat kesuksesan orang di sekitarnya, ia merasa tertinggal dan malu jika tidak bisa menyamai mereka.
Dari perasaan itu, muncul dorongan untuk membuktikan diri, bukan karena ingin berkembang bersama tim, tetapi demi menjaga harga dirinya. Tanpa disadari, ia mulai menekan bawahannya agar bekerja lebih keras demi mencapai target. Bukan lagi tentang kolaborasi atau menikmati proses bersama, tetapi tentang memenuhi ambisi pribadinya. Ia ingin terlihat sukses, tetapi dalam perjalanan itu, ia menjadi semakin egois karena lebih fokus pada citra dirinya dibanding kesejahteraan timnya.
Hal yang sama juga sering terjadi pada banyak orang tua. Tanpa sadar, mereka menekan anaknya bukan karena benar-benar ingin yang terbaik untuk si anak, tetapi karena takut dinilai kurang berhasil sebagai orang tua. Mereka ingin anaknya berprestasi, bukan semata-mata untuk masa depan sang anak, tetapi agar mereka sendiri tidak merasa malu di hadapan orang tua lain. Misalnya, jika melihat anak orang lain juara kelas atau masuk universitas bergengsi, muncul rasa khawatir dan tekanan batin. Bukan karena anaknya gagal, tetapi karena mereka merasa citra sebagai orang tua dipertaruhkan. Akibatnya, mereka mulai mendorong anak terlalu keras, bukan dengan dorongan yang membangun, tetapi dengan tekanan yang justru bisa membuat anak merasa terbebani. Tanpa disadari, mereka lebih memikirkan gengsi pribadi daripada kebahagiaan dan perkembangan anak itu sendiri.
Bahkan dalam hal ibadah pun, banyak orang menjalankannya bukan karena benar-benar merasa tunduk dan patuh kepada Sang Maha Sempurna, tetapi karena ada perasaan takut dan berharap sesuatu sebagai imbalan. Mereka beribadah bukan karena kesadaran akan kebesaran-Nya, melainkan karena khawatir akan siksa neraka atau karena ingin mendapatkan surga.
Tanpa disadari, ibadah yang seharusnya menjadi wujud cinta dan kedekatan dengan Sang Maha Sempurna berubah menjadi transaksi. Seolah-olah, jika tidak beribadah, akan ada hukuman, dan jika beribadah, ada hadiah yang menunggu. Padahal, esensi ibadah sejati bukanlah sekadar menghindari hukuman atau mengejar ganjaran, tetapi tentang bagaimana kita benar-benar merasa terhubung dengan Sang Maha Sempurna dan menjalankan perintah-Nya dengan hati yang tulus.
Itulah mengapa hidup ini sebenarnya adalah perjalanan untuk belajar melepaskan sifat egois di setiap aspek kehidupan. Kita diberi kesempatan untuk secara sadar mengubah diri, bertransformasi dari cara berpikir yang hanya mementingkan diri sendiri menuju kesadaran yang lebih luas. Perlahan, kita mulai menyadari bahwa diri ini bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri atau terpisah dari yang lain.
Kita bukan sekadar individu dengan keinginan dan kepentingan pribadi, tetapi bagian dari sesuatu yang lebih besar – sebuah keberadaan yang saling terhubung, yang pada akhirnya kembali kepada Sang Maha Sempurna. Ketika kita mulai melihat hidup dari sudut pandang ini, kita tidak lagi merasa harus selalu menang sendiri, membuktikan diri, atau mengejar pengakuan orang lain. Sebaliknya, kita belajar untuk menjalani hidup dengan lebih tulus, selaras dengan aliran kehidupan, dan menyadari bahwa segala sesuatu memiliki makna yang lebih dalam di baliknya.
Kita perlu belajar untuk melakukan segala sesuatu bukan hanya demi kepentingan pribadi, tetapi juga untuk kebaikan bersama dan memberi manfaat bagi banyak orang. Apa yang kita lakukan seharusnya tidak hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang bagaimana keberadaan kita bisa membawa kebaikan bagi sekitar. Semua itu tentu dilakukan dengan niat tulus, dalam rangka mencari ridha Sang Maha Sempurna. Sebab, jika kita hanya berfokus pada keuntungan diri sendiri, tanpa sadar ego bisa menyusup ke dalam hati kita.
Kita mungkin merasa sedang berbuat baik, tetapi sebenarnya ada kepentingan pribadi yang tersembunyi di baliknya. Karena itu, penting bagi kita untuk terus menjaga niat dan menyadari setiap tindakan. Jangan biarkan ego diam-diam mengendalikan cara kita berpikir dan bertindak. Sebaliknya, mari belajar untuk lebih ikhlas, lebih peduli, dan lebih sadar bahwa hidup ini bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang bagaimana kita bisa memberi makna dan manfaat bagi dunia di sekitar kita.
@pakarpemberdayaandiri











