Oleh: Syahril Syam *)
Kalau kita membuka Al-Qur’an, maka akan kita temukan ayat berikut: Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa (QS 10:62-63). Ayat ini secara eksplisit menyebut bahwa wali Allah (orang beriman dan bertakwa) terbebas dari rasa takut dan kesedihan. Mereka tidak merasa takut, cemas, atau bersedih. Bukan berarti mereka tidak punya masalah, tapi hati mereka tidak dikendalikan oleh kekhawatiran seperti orang yang hanya bergantung pada hal-hal duniawi.
Ketika seseorang terlalu fokus pada materi atau urusan dunia, secara tidak sadar ia membuka pintu bagi rasa takut dan cemas – takut kehilangan, takut gagal, takut tidak dihargai, dan sebagainya. Bahkan kadang hanya dengan membayangkan sesuatu yang belum terjadi pun atau masa lalu, hati sudah gelisah.
Mari kita lihat pendekatan yang berbeda, yaitu filsafat. Menurut filosof arif, kebahagiaan adalah keberhasilan ruh dalam kembali kepada sumbernya, yakni Sang Maha Sempurna, dalam keadaan sempurna, penuh pengetahuan, dan tidak terikat oleh materi. Dengan kata lain, ketika level eksistensi masih di level materi, maka sudah pasti akan mengalami takut dan cemas. Realitas manusia bukan tubuh, tapi jiwa (ruh), dan perjalanan jiwa adalah kembali ke sumber wujud (Sang Maha Sempurna).
Keterikatan pada materi adalah penghalang eksistensial (wujud rendah). Ketidakbahagiaan timbul ketika manusia terseret dalam eksistensi terendah (materi), bukan menuju eksistensi tertinggi (Sang Maha Sempurna).
Lantas bagaimana pandangan psikologi positif tentang penyebab ketidakbahagiaan? Martin Seligman (Bapak Psikologi Positif) menyebut salah satu jenis kebahagiaan yang paling rendah levelnya, yaitu kebahagiaan materi (kesenangan dunia). Sebenarnya ini bukanlah kebahagiaan karena sifatnya hanya sementara. Saat mendapatkan sesuatu, maka merasa senang. Akhirnya ia kecanduan untuk selalu memperoleh sesuatu. Kesenangannya bergantung sepenuhnya pada hal-hal di luar dirinya. Ia jadi tidak bisa merasa bahagia kalau tidak ada hal baru yang menyenangkan datang dari luar. Dan kebahagiaan semacam ini rapuh dan mudah goyah.
Selanjutnya kita meneropong penyebab ketidakbahagiaan di dalam otak manusia. Ketika seseorang melihat, mendengar, atau mengalami sesuatu, otak memprosesnya dengan menghasilkan neurotransmiter dan neuropeptida yang mengirim pesan ke tubuh, memicu perasaan tertentu. Perasaan ini kemudian diamati kembali oleh otak, yang lalu menciptakan pikiran baru yang sepadan dengan perasaan tersebut, membentuk lingkaran antara pikiran dan perasaan yang bisa berlangsung bertahun-tahun. Akibatnya, tubuh mulai mengingat emosi tertentu secara otomatis, membentuk pola reaksi yang berulang dan berbasis pengalaman masa lalu.
Dalam kondisi ini, perasaan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh kenyataan eksternal yang ditangkap indra, sehingga apa yang dirasakan di dalam mental lebih merupakan cerminan dari luar. Keadaan dimana kenyataan eksternal lebih berpengaruh daripada kenyataan internal inilah yang disebut “terlalu materialistis”. Artinya ketika kenyataan mental seseorang lebih terasa nyata terkait materi, maka sudah pasti hatinya akan selalu berada di dalam lingkaran takut dan cemas.
Ketika seseorang lebih memikirkan dan merasa bahwa hal-hal yang bersifat materi – seperti uang, barang, jabatan, atau status sosial – merupakan satu-satunya hal yang nyata dan penting dalam hidupnya, maka secara tidak sadar ia sedang membangun kehidupannya di atas fondasi yang rapuh. Karena materi sifatnya tidak tetap dan bisa berubah kapan saja, maka hatinya akan mudah gelisah. Ia akan selalu dihantui rasa takut – takut kehilangan, takut tidak cukup, takut tertinggal – dan juga cemas tentang masa depan. Semakin kuat keterikatan seseorang pada hal-hal duniawi, semakin besar pula potensi hatinya untuk terjebak dalam lingkaran kekhawatiran dan ketidaktenangan.
Ketika seseorang terlalu bergantung pada rangsangan dari luar (seperti materi atau pencapaian dunia), sistem sarafnya membentuk kebiasaan emosional yang membuat ia bereaksi secara otomatis terhadap pengalaman tertentu. Lama-kelamaan, tubuh menjadi “kecanduan” terhadap emosi-emosi tertentu, seperti cemas, takut, atau marah – yang semuanya bersumber dari orientasi hidup yang terlalu materialistis. Jadi, jika kenyataan batin atau mental seseorang lebih melekat pada dunia materi, maka hatinya tidak akan pernah benar-benar damai.
Dari berbagai sudut pandang di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa ketidakbahagiaan seringkali muncul ketika seseorang menggantungkan kebahagiaannya pada sesuatu di luar dirinya, terutama hal-hal yang bersifat material. Bahkan jika seseorang melakukan berbagai kebaikan, namun tujuannya masih berpusat pada duniawi – seperti ingin dipuji, dihormati, atau mendapatkan imbalan dunia – maka ketenangan batin tidak akan tercapai. Sebab, pikirannya tetap berada dalam lingkaran ketakutan dan kecemasan: takut kehilangan, takut gagal, takut tidak diakui, atau perasaan khawatir yang berlebihan. Kita bisa melihat bahwa Al-Qur’an, filsafat, psikologi positif, hingga neurosains, ternyata memiliki benang merah yang kuat bahwa ketidakbahagiaan bersumber dari keterikatan pada materi dan kelalaian dari makna dan tujuan spiritual.
Ketidakbahagiaan bukan hanya persoalan peristiwa hidup, tetapi terutama soal orientasi batin. Selama manusia lebih fokus pada dunia luar (materi), dan tidak menghidupkan kembali hubungan spiritualnya dengan Sang Maha Sempurna, maka ia akan terus berada dalam lingkaran emosi destruktif yang tak berkesudahan. Namun ketika hati dan pikiran kita berpusat kepada Sang Maha Sempurna – yakni hidup dengan kesadaran akan makna, keikhlasan, dan tujuan spiritual – maka kebahagiaan sejati akan hadir, bahkan di tengah tantangan dan kesulitan hidup.
@pakarpemberdayaandiri











