Oleh: Syahril Syam *)
Banyak film sering menggambarkan sifat manusia yang cenderung serakah dan lebih memilih kesenangan yang bisa didapat sekarang daripada menunggu untuk sesuatu yang lebih baik di masa depan. Ternyata, ini memang sesuai dengan cara kerja otak kita. Otak manusia memang cenderung menyukai sesuatu yang langsung. Ibaratnya, lebih memilih “seekor burung di tangan” daripada “dua burung di semak”. Mengapa begitu? Karena hadiah atau imbalan yang langsung kita terima bisa langsung memicu perasaan senang dan puas secara emosional. Sedangkan jika harus menunggu hadiah yang datang belakangan, otak kita harus bekerja lebih keras.
Kita perlu menggunakan logika, melatih kesabaran, dan mengendalikan diri agar tidak tergoda oleh sesuatu yang langsung terlihat. Selain itu, ketidakpastian tentang masa depan juga membuat kita merasa lebih aman dan nyaman dengan hasil yang bisa langsung dilihat dan dinikmati sekarang. Maka tak heran, banyak orang lebih tergoda dengan hal-hal instan, meskipun itu belum tentu yang terbaik dalam jangka panjang.
Dua pakar ekonomi perilaku, Ted O’Donoghue dan Matthew Rabin, pernah menjelaskan dengan sangat jelas tentang kecenderungan alami manusia yang disebut present bias. Ini adalah kecenderungan dimana seseorang lebih memprioritaskan kepuasan yang bisa dirasakan sekarang, meskipun ia tahu bahwa menunggu bisa memberikan hasil yang lebih baik di masa depan.
Meskipun seseorang tahu belajar hari ini akan membantu ia sukses di ujian minggu depan, tapi banyak orang tetap memilih untuk menonton film atau bersantai dulu. Atau, meskipun seseorang sadar bahwa menabung akan membawa keuntungan besar nanti, tapi godaan untuk menggunakan uang sekarang demi kesenangan sesaat seringkali lebih kuat. Ini bukan semata-mata soal kelemahan pribadi, tapi merupakan pola alami yang terbentuk sejak zaman dulu. Secara evolusi, manusia lebih aman memilih makanan atau sumber daya yang tersedia saat ini dibanding berharap pada sesuatu yang belum pasti di masa depan. Jadi, kecenderungan ini sebenarnya adalah cara otak melindungi kita dari ketidakpastian.
Setiap kali seseorang melihat hadiah atau imbalan yang bisa langsung didapat, otaknya secara otomatis melepaskan dopamin, yaitu hormon yang membuat manusia merasa senang dan puas. Inilah mengapa hadiah yang langsung terasa sangat menggoda. Manusia merasa bahagia seketika. Sebaliknya, kalau imbalannya masih harus menunggu atau datang di masa depan, otak akan mengandalkan bagian yang lebih rasional, yaitu prefrontal cortex. Bagian ini bertugas untuk berpikir logis, merencanakan, dan mengontrol diri. Tapi sayangnya, menggunakan bagian ini butuh lebih banyak usaha dan energi mental.
Jadi secara alami, hadiah langsung terasa lebih nyata dan menyenangkan secara emosional, sementara hadiah yang tertunda membutuhkan kesabaran, logika, dan kemampuan untuk menahan diri. Itulah sebabnya mengapa banyak orang lebih suka kenikmatan yang instan meskipun sudah tahu bahwa menunggu bisa memberi hasil yang lebih besar.
Maka sangat wajar, secara psikologis dan biologis, jika kebanyakan orang merasa bahwa kenikmatan dunia jauh lebih menarik dan menggoda dibandingkan kenikmatan akhirat. Kenapa? Karena kenikmatan dunia bersifat nyata – bisa dilihat, bisa disentuh, dan bisa langsung dirasakan. Makanan enak, rumah yang nyaman, pujian dari orang lain, uang, hingga status sosial, semuanya bisa memberikan kepuasan secara instan. Otak pun merespons hal-hal ini dengan cepat, melepaskan dopamin – hormon yang membuat manusia merasa senang dan puas.
Sebaliknya, kenikmatan akhirat tidak bisa langsung dilihat atau dirasakan sekarang. Ia hanya bisa dicapai melalui proses panjang yang penuh dengan pengorbanan dan penundaan terhadap kesenangan dunia. Jadi ketika seseorang lebih memilih mengikuti hawa nafsu daripada beribadah atau menahan diri, itu karena sistem sarafnya secara alami lebih cepat terangsang oleh hal-hal yang instan. Memahami ini bisa membantu kita lebih bijak dalam melihat perjuangan batin yang dihadapi setiap manusia dalam memilih jalan yang lebih berat namun lebih bermakna.
Kenikmatan akhirat itu berbeda dari kenikmatan dunia karena bersifat abstrak dan tidak bisa langsung dilihat atau dirasakan oleh pancaindra kita. Akhirat adalah hal yang ghaib – sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman langsung kita sehari-hari.
Karena itu, untuk bisa mempercayai dan mengejarnya, kita butuh iman, yaitu keyakinan dan kesabaran. Ini bukan hal yang mudah, karena secara psikologis, manusia lebih mudah terdorong oleh sesuatu yang bisa langsung memberi “hadiah” atau respons dari lingkungan. Al-Qur’an pun menyadari kecenderungan manusia ini, “Kalian menyukai kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (QS 87:16–17).
Ayat ini menunjukkan bahwa Sang Maha Sempurna tahu betul bahwa manusia cenderung tertarik pada apa yang bisa dilihat dan dinikmati sekarang. Tapi ketertarikan itu tidak selalu menunjukkan pilihan yang terbaik atau paling bijak. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran diri, ilmu, dan hati yang tercerahkan agar kita bisa memilih untuk mengejar sesuatu yang lebih besar nilainya, meskipun belum terlihat sekarang.
Dan ternyata, Prof. Antonio Damasio membuktikan bahwa kita juga diciptakan dengan kemampuan otak yang bisa menunda kesenangan instan demi kebahagiaan di masa depan. Penelitian dari Damasio memberi penjelasan menarik secara ilmiah tentang mengapa kita sering terjebak dalam godaan kenikmatan sesaat, dan bagaimana emosi sebenarnya bisa diarahkan untuk membuat keputusan yang lebih bijak dalam jangka panjang.
Dalam risetnya, Damasio memperkenalkan konsep somatic markers, yaitu sensasi atau sinyal emosional yang timbul di tubuh saat kita mengaitkan suatu tindakan dengan hasil tertentu – apakah itu membahagiakan atau menyakitkan. Misalnya, jika kita pernah mengalami rasa tidak enak setelah menunda belajar dan gagal ujian, maka otak akan menandai pengalaman itu sebagai sesuatu yang harus dihindari. Tapi masalahnya, jika sinyal emosional ini untuk konsekuensi jangka panjang lemah atau tidak muncul, maka otak kesulitan untuk “merasakan” manfaat dari pilihan yang baik tapi tertunda. Akibatnya, seseorang cenderung memilih kepuasan instan karena terasa lebih nyata.
Damasio juga menyampaikan bahwa emosi bukanlah lawan dari logika. Justru, emosi adalah fondasi penting yang membuat otak rasional – khususnya bagian prefrontal cortex – bisa bekerja dengan baik. Kemampuan untuk menunda kepuasan sesaat demi sesuatu yang lebih baik di masa depan, itulah yang disebut sebagai kehendak bebas. Artinya, kita baru benar-benar bebas memilih ketika kita bisa merasakan dan memahami dampak jangka panjang dari tindakan kita.
Dalam bahasa sederhana, ini seperti kemampuan untuk berkata, “Aku rela sedikit menderita sekarang demi kebahagiaan yang lebih besar nanti.” Godaan kenikmatan dunia yang instan – seperti harta, popularitas, atau kesenangan fisik – sering terasa lebih kuat karena otak kita langsung meresponsnya dengan rasa senang. Ini terjadi karena sinyal emosional yang menghubungkan kita dengan kebahagiaan akhirat masih lemah atau belum terasa nyata. Akibatnya, banyak orang lebih mudah tergoda untuk mengejar kesenangan dunia yang bisa dilihat dan dirasakan sekarang, daripada berusaha mengejar kebahagiaan akhirat yang masih abstrak dan butuh pengorbanan. Padahal, kebahagiaan akhirat jauh lebih besar dan abadi.
Namun, kehendak bebas yang sejati muncul ketika kita berhasil memperkuat ikatan batin dan emosional terhadap kehidupan akhirat. Ketika kita mulai bisa meyakini dengan sungguh-sungguh indahnya surga, damainya ridha Sang Maha Sempurna, dan nikmatnya kehidupan kekal yang dijanjikan, maka sinyal emosional dalam diri kita pun mulai berubah. Kita tidak lagi sekadar “percaya secara teori”, tapi benar-benar bisa merasakan keinginan tulus untuk mengejarnya. Dan di sinilah letak kekuatan sejati seorang hamba – mampu menahan diri dari kenikmatan dunia yang sementara demi kebahagiaan akhirat yang hakiki. Ini bukan hanya soal logika, tapi juga soal rasa – rasa yang ditanamkan lewat iman, ilmu, dan kedekatan hati dengan Sang Maha Sempurna.
Secara naluri dan psikologis, manusia memang cenderung memilih kenikmatan dunia karena ia lebih konkret, langsung terasa, dan merangsang otak kesenangan. Tapi secara spiritual, orang yang mampu menunda kesenangan dunia demi tujuan yang lebih tinggi (akhirat) berada pada level kesadaran yang lebih tinggi – dan ini bisa dilatih.
@pakarpemberdayaandiri











