Beratnya Perjalanan Pertama

Pakar Pemberdayaan Diri Syahril Syam

Catatan: Syahril Syam *)

Konsep temporal discounting (diskon waktu) pertama kali diperkenalkan secara serius oleh psikolog Richard Herrnstein pada tahun 1961 dalam studinya tentang perilaku pilihan (matching law). Namun, pengembangan lebih mendalam tentang bagaimana manusia menurunkan nilai hadiah berdasarkan keterlambatan waktu sangat dipengaruhi oleh penelitian George Ainslie di tahun 1975.

George Ainslie adalah tokoh kunci yang mengusulkan bahwa nilai subjektif dari sebuah hadiah berkurang secara non-linear (biasanya secara hiperbolik) seiring bertambahnya keterlambatan waktu. Ini berbeda dari model ekonom klasik yang menganggap penurunan nilai berlangsung secara eksponensial.

Temporal discounting adalah kecenderungan manusia untuk menganggap sesuatu menjadi kurang berharga jika harus menunggu untuk mendapatkannya. Semakin jauh waktu tunggunya, semakin kecil nilai yang kita rasakan terhadap hadiah itu sekarang.

Temporal discounting merupakan fenomena dimana nilai subjektif dari hadiah menurun seiring bertambahnya penundaan waktu antara sekarang dan penerimaan hadiah tersebut. Bayangkan kita diberi pilihan: mau ambil Rp100.000 sekarang, atau tunggu satu bulan untuk mendapatkan Rp150.000. Kalau dipikir pakai logika, tentu saja Rp150.000 itu lebih besar dan lebih menguntungkan. Tapi kenyataannya, banyak orang tetap memilih Rp100.000 sekarang juga. Kenapa? Karena menunggu satu bulan terasa lama dan melelahkan, dan di dalam pikiran kita, nilai Rp150.000 itu seperti “menyusut” karena harus menunggu. Rasanya, uang yang datang di masa depan tidak seberharga uang yang bisa langsung kita pegang hari ini.

Makanya jangan kaget, banyak keputusan manusia dalam hidup – soal uang, kesehatan, bahkan tujuan besar – sering lebih berat dihadapi kalau hasilnya belum bisa langsung dirasakan. Otak kita pada dasarnya lebih menyukai sesuatu yang bisa langsung didapatkan. Kalau ada hadiah atau keuntungan yang bisa kita terima sekarang juga, otak langsung merasa senang dan puas. Sebaliknya, kalau hadiahnya baru akan datang nanti, otak melihatnya sebagai sesuatu yang kurang pasti. Kita harus menunggu, sabar, menahan keinginan, dan berusaha lebih – semua itu terasa berat.

Dari sisi emosional, hadiah yang langsung diterima lebih cepat memicu pelepasan dopamin, yaitu zat kimia di otak yang membuat kita merasa senang dan puas. Itulah kenapa hadiah yang datang belakangan sering terasa kurang menarik, walaupun sebenarnya nilainya lebih besar.

Temporal discounting membuat seseorang sering lebih fokus pada beban atau rasa tidak enak yang ia alami sekarang, daripada manfaat besar yang bisa ia dapatkan di masa depan. Ketika seseorang mau memulai sesuatu yang penting seperti belajar, olahraga, memulai bisnis, atau proyek baru, manfaat dari semua usaha itu – seperti sukses, tubuh sehat, atau menjadi kaya – biasanya masih terasa jauh.

Sementara itu, rasa tidak nyaman seperti malas, takut gagal, atau kerja keras, langsung terasa di saat ini juga. Karena otak cenderung mengalami temporal discounting, rasa tidak nyaman yang ada sekarang terasa jauh lebih berat dan lebih mengganggu daripada manfaat masa depan yang masih samar. Akibatnya, secara emosional seseorang merasa lebih “masuk akal” untuk menghindar atau menunda, meskipun kalau dipikir secara logis, ia tahu bahwa itu bukan pilihan terbaik. Otak secara otomatis “mengecilkan” nilai besar dari manfaat itu karena jaraknya jauh, dan membesarkan rasa repot yang seseorang alami sekarang. Hasilnya, tanpa sadar ia pun menunda-nunda memulai.

Perjalanan pertama memang terasa paling berat karena otak masih sangat kuat “memperbesar” rasa tidak nyaman saat ini dan “memperkecil” manfaat yang masih jauh di depan. Belum ada bukti nyata yang langsung bisa dirasakan, belum ada hasil instan yang bisa bikin seseorang merasa puas. Yang ada justru rasa capek, takut gagal, repot, dan ketidakpastian. Itu sebabnya, langkah pertama sering terasa seperti “menanjak curam”, padahal kalau kita tahan sebentar saja dan terus bergerak, biasanya lama-lama otak mulai terbiasa. Dopamin kita juga mulai terbantu bukan hanya oleh hadiah instan, tapi juga oleh progress kecil yang kita buat setiap hari.

Kalau kita renungi, perjalanan dari makhluk menuju Sang Maha Sempurna – perjalanan spiritual untuk melepaskan keterikatan duniawi, meninggikan jiwa, membersihkan hati – itu adalah perjalanan panjang yang manfaat besarnya belum langsung bisa dirasakan sekarang. Kita dijanjikan kedekatan dengan Sang Maha Sempurna, ketenangan jiwa, kebahagiaan hakiki, bahkan kebahagiaan abadi. Tapi semua itu terasa jauh di masa depan atau bahkan di kehidupan akhirat.

Sementara itu, di saat ini, kita langsung berhadapan dengan rasa berat: meninggalkan kesenangan dunia, mengendalikan nafsu, melawan ego, menahan diri dari hal-hal yang membuat nyaman sesaat. Otak kita, melalui mekanisme temporal discounting, cenderung membesar-besarkan beban perjuangan itu dan mengecilkan nilai besar yang dijanjikan di masa depan. Akibatnya, perjalanan spiritual terasa sangat berat di awal. Banyak orang menunda, mundur, atau bahkan menyerah, bukan karena tidak tahu bahwa mendekat kepada Sang Maha Sempurna itu mulia, tapi karena rasa lelah, bosan, atau godaan dunia yang terasa lebih nyata dan “menggiurkan” sekarang.

Ini juga menjelaskan kenapa dalam banyak ajaran sufi, mereka sering mengingatkan tentang pentingnya muroqobah (kesadaran terus-menerus kepada Sang Maha Sempurna), sabar, mujahadah (berjuang melawan diri sendiri), dan tawakkal (bersandar kepada Sang Maha Sempurna). Semua itu dibutuhkan untuk melampaui jebakan temporal discounting ini – supaya hati kita tidak terus-menerus terjebak menilai beratnya perjuangan sekarang, tapi mampu mengarahkan pandangan pada keindahan janji Sang Maha Sempurna di masa depan dan bahkan kelezatan kedekatan dengan-Nya yang sebenarnya bisa mulai terasa sedikit demi sedikit, bahkan sejak di dunia.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *