Oleh: Syahril Syam *)
Perjalanan eksistensial sejatinya adalah proses menyucikan jiwa, dan ini bukan sekadar pilihan hidup yang bisa diambil atau diabaikan – melainkan kebutuhan sejati setiap manusia. Mengapa disebut kebutuhan? Karena manusia tidak hanya diciptakan untuk sekadar bertahan hidup secara biologis, makan, minum, bekerja, dan bersosialisasi. Ada sisi terdalam dalam diri manusia yang merindukan makna, keutuhan, dan kedekatan dengan Sang Maha Sempurna.
Jiwa manusia tidak akan tenang hanya dengan pencapaian duniawi, karena fitrahnya memang ditujukan untuk tumbuh secara spiritual, menuju kesempurnaan, dan kembali kepada Sang Maha Sempurna dalam keadaan bersih dari kotoran batin. Inilah tujuan hakiki dari keberadaan kita: bukan sekadar “hidup”, tetapi “menjadi” – menjadi lebih sadar, lebih jernih, lebih luhur, dan lebih dekat dengan cahaya Sang Maha Sempurna.
Perjalanan eksistensial sejatinya adalah proses transformasi hakikat diri manusia. Ini bukan sekadar perubahan perilaku luar, tapi perubahan mendalam di inti keberadaan kita, yaitu jiwa. Dalam proses ini, jiwa bergerak dari kondisi yang kasar dan berat, yang dipenuhi oleh ego dan dorongan hawa nafsu (nafs ammarah), menuju kondisi yang lembut, tenang, dan selaras dengan kehendak Sang Maha Sempurna (nafs muṭma’innah). Dari yang awalnya mencintai dunia dan segala kenikmatan sementaranya, jiwa belajar untuk mencintai sesuatu yang lebih tinggi dan abadi, yaitu Sang Maha Sempurna.
Menurut filosof hikmah, perubahan ini bukanlah khayalan atau sekadar perasaan, melainkan gerak substansial, yaitu gerak nyata yang terjadi dalam inti diri manusia secara bertahap dan berkesinambungan. Jadi, perjalanan eksistensial bukan hanya penting, tapi merupakan proses sejati untuk menjadi manusia seutuhnya.
Tazkiyah al-Nafs, atau penyucian jiwa, adalah jalan untuk kembali ke asal-usul diri kita yang sejati. Setiap manusia diciptakan dengan jiwa yang fitrahnya suci dan murni – penuh potensi kebaikan, kejujuran, dan kedekatan dengan Sang Maha Sempurna. Namun, dalam perjalanan hidup, jiwa ini bisa tertutupi oleh nafsu, kesibukan dunia, ambisi pribadi, dan kelalaian terhadap nilai-nilai spiritual.
Proses menyucikan jiwa berarti membersihkan segala kotoran batin itu dan mengembalikan jiwa pada kemurniannya semula. Inilah makna terdalam dari Tazkiyah: bukan menciptakan jiwa yang baik dari nol, tapi membebaskannya dari kotoran yang menutupi cahaya aslinya. Seperti ditegaskan bahwa “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” (QS 91:9–10). Ini menunjukkan bahwa keberuntungan sejati bukan terletak pada harta atau jabatan, tapi pada keberhasilan kita dalam menjaga dan membersihkan jiwa kita.
Banyak orang dalam hidup ini mengejar kebahagiaan lahiriah – seperti uang, status sosial, atau pengakuan dari orang lain. Tapi kenyataannya, semua itu sering hanya memberi kepuasan sementara. Di dalam hati yang paling dalam, manusia tetap merasa ada yang kosong. Itu karena kebutuhan sejati jiwa bukan pada hal-hal luar, melainkan pada kedekatan dengan Sang Maha Sempurna.
Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS 13:28). Maka, menyucikan jiwa bukanlah kegiatan tambahan atau aksesori spiritual semata, tapi justru merupakan fondasi utama bagi keberadaan manusia. Inilah jalan untuk meraih kebahagiaan hakiki yang tidak tergantung pada kondisi luar, melainkan tumbuh dari dalam – dari jiwa yang bersih, sadar, dan terhubung dengan sumber kedamaian sejati: Sang Maha Sempurna.
Nafs Muṭma’innah atau jiwa yang tenang, adalah tingkat tertinggi dalam perkembangan batin manusia. Pada tahap ini, kita hidup dengan hati yang damai dan mantap karena sudah sepenuhnya berserah diri kepada kehendak Sang Maha Sempurna. Kita tidak lagi dikendalikan oleh keinginan-keinginan duniawi atau dorongan hawa nafsu yang merusak.
Jiwa kita tidak mudah goyah meskipun diuji, karena kita sudah yakin sepenuhnya bahwa segala sesuatu datang dari Sang Maha Sempurna dan akan kembali kepada-Nya. Ketika kita mencapai tahap ini, berarti kita telah berhasil menyucikan diri secara mendalam (tazkiyah) dan berada dalam kedekatan khusus dengan Sang Maha Sempurna. Hidup kita menjadi ringan, tenang, dan penuh makna, karena kita hidup selaras dengan fitrah dan ridha Sang Maha Sempurna.
Bayangkan jiwa manusia seperti sebuah cermin. Cerminnya hanya satu, tapi apa yang tampak di permukaannya sangat tergantung pada seberapa bersih atau kotornya cermin itu. Saat jiwa berada pada tahap nafs ammarah (jiwa yang dikuasai hawa nafsu), cermin itu penuh debu dan kotoran – pantulan kebenaran hampir tidak terlihat karena tertutupi oleh keinginan-keinginan duniawi dan dorongan ego.
Ketika jiwa mulai sadar dan menyesal atas kesalahan, memasuki tahap nafs lawwamah (jiwa yang mencela), cermin itu mulai dibersihkan. Sebagian cahaya kebenaran mulai terlihat, walau masih ada noda yang menghalangi. Dan saat jiwa telah mencapai nafs muṭma’innah (jiwa yang tenang), cermin itu benar-benar bening dan bersih. Kebenaran memancar dengan jelas, dan hati pun menjadi damai. Jadi, proses spiritual bukan mengganti cermin, tapi membersihkannya agar pantulan cahaya Sang Maha Sempurna bisa tampak dengan sempurna.
Maka, perjalanan eksistensial sejatinya adalah kebutuhan terdalam jiwa – bukan sekadar perjalanan intelektual atau rutinitas spiritual. Ini adalah dorongan alami jiwa untuk kembali menyatu dengan asal cahayanya, yaitu Sang Maha Sempurna. Sebab jiwa manusia pada dasarnya berasal dari sumber yang suci, dan akan terus gelisah jika terputus dari asalnya.
Tanpa menyadari dan menapaki perjalanan ini, jiwa akan merasa hampa, walaupun tubuh sudah dipenuhi dengan kenikmatan dunia. Inilah mengapa banyak orang merasa “ada yang kurang” meski sudah punya segalanya. Karena sejatinya, yang dicari bukan hanya makanan jasmani, tapi santapan rohani yang menghubungkan kembali jiwa dengan Sang Maha Sempurna. Sehingga saat ini terjadi, maka menjadi wajar jika jiwa kita telah benar-benar tenang dan damai karena telah ridha dengan segala ketentuan-Nya, dan kita akan kembali kepada-Nya dengan keadaan yang diridhai oleh-Nya. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS 89:27-30).
@pakarpemberdayaandiri











