Opini  

Rupiah Menyentuh Rp17.300 per Dolar AS, Martabat Kebijakan Tergerus?

Foto ilustrasi

Oleh Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta

Apakah rupiah yang menembus Rp17.300 per dolar AS hanya gejolak sesaat, atau justru tanda bahwa ekonomi kita sedang menghadapi tekanan yang lebih serius?

Pertanyaan ini penting karena nilai tukar bukan sekadar angka di pasar keuangan. Ia adalah cermin kepercayaan, penanda ketahanan ekonomi, dan sinyal yang langsung terasa dalam kehidupan masyarakat. Ketika rupiah melemah, yang terdampak bukan hanya investor atau pelaku pasar, tetapi juga harga barang impor, biaya produksi, beban utang, dan pada akhirnya daya beli rakyat.

Ramainya pemberitaan tentang rupiah yang menembus Rp17.300 menunjukkan bahwa publik menangkap situasi ini sebagai sesuatu yang tidak biasa. Masyarakat mungkin tidak mengikuti detail kebijakan moneter atau pergerakan obligasi global, tetapi mereka memahami satu hal sederhana. Jika dolar naik, hidup terasa lebih mahal. Dari sinilah masalah harus dirumuskan.

Persoalan kita bukan sekadar kurs yang naik turun, melainkan bagaimana pelemahan rupiah dapat mengganggu stabilitas harga, menekan dunia usaha, dan mengikis rasa aman publik terhadap arah ekonomi nasional.

Nilai tukar sering dianggap isu teknis, padahal bagi masyarakat kurs adalah bahasa kegelisahan yang paling mudah dipahami. Saat dolar naik tajam, orang segera bertanya apakah harga pangan akan naik, apakah cicilan akan lebih berat, dan apakah biaya hidup akan kembali membengkak.

Rupiah dalam situasi ini ibarat atap rumah saat hujan deras. Selama hujan ringan, tetesan kecil mungkin belum terasa.

Akan Tetapi ketika hujan makin lebat, kebocoran yang tampak sepele bisa berubah menjadi banjir di dalam rumah. Begitu pula dengan pelemahan kurs.

Jika hanya sementara, dampaknya mungkin bisa diserap. Namun ketika menembus level psikologis seperti Rp17.300, kita tidak boleh menganggapnya sebagai peristiwa biasa.

Memang harus diakui bahwa pelemahan rupiah tidak terjadi di ruang hampa.

Dunia sedang berada dalam ketidakpastian yang tinggi. Suku bunga global yang masih ketat, menguatnya dolar AS, ketegangan geopolitik, serta arus modal yang mudah keluar dari negara berkembang menjadi kombinasi yang menekan banyak mata uang, termasuk rupiah.

Namun faktor eksternal tidak boleh dijadikan satu satunya alasan. Justru saat ombak global meninggi, kualitas kapal ekonomi nasional sedang diuji. Kapal yang kuat mungkin tetap berguncang, tetapi tidak mudah oleng.

Kapal yang rapuh akan cepat kehilangan arah. Pertanyaannya, seberapa siap ekonomi kita menghadapi tekanan seperti ini?

Di sinilah kekhawatiran publik menjadi masuk akal. Struktur ekonomi Indonesia masih cukup bergantung pada impor, baik untuk bahan baku industri, barang modal, maupun energi.

Ketika rupiah melemah, biaya impor naik. Kenaikan itu lalu merembet ke ongkos produksi dan pada akhirnya menekan harga di tingkat konsumen.

Ini artinya, pelemahan kurs bukan sekadar berita pasar uang, melainkan persoalan nyata yang dapat memukul kesejahteraan rakyat.

Selain itu, dunia usaha yang memiliki kewajiban dalam dolar juga menghadapi beban yang lebih berat. Perusahaan yang pendapatannya dalam rupiah tetapi utangnya dalam dolar akan merasakan tekanan berlipat.

Jika kondisi ini berlangsung lama, keputusan investasi dapat tertunda, ekspansi usaha bisa melambat, dan penciptaan lapangan kerja ikut terdampak.

Level Rp17.300 juga penting karena ia punya arti psikologis. Dalam ekonomi, persepsi sering kali sama kuatnya dengan kenyataan.

Kurs pada level ini memberi sinyal bahwa tekanan sedang serius. Ibarat suhu tubuh yang terus naik, publik akan mulai khawatir bahwa ada sesuatu yang tidak sehat dalam sistem.

Kecemasan ini bisa menyebar cepat, memengaruhi keputusan konsumsi, investasi, dan ekspektasi pasar.

Karena itu, yang dibutuhkan sekarang bukan kepanikan, tetapi kepemimpinan ekonomi yang tenang dan tegas.

Bank Indonesia memang memegang peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi dan kebijakan moneter. Namun menjaga rupiah tidak bisa dibebankan pada bank sentral semata.

Pemerintah juga harus hadir melalui langkah yang memperkuat kepercayaan terhadap ekonomi domestik.

Artinya, kita memerlukan kebijakan yang lebih menyeluruh. Impor yang tidak produktif harus dikendalikan. Substitusi impor pada sektor strategis perlu dipercepat.

Ekspor bernilai tambah harus diperkuat. Kepastian kebijakan bagi dunia usaha juga harus dijaga agar pasar melihat bahwa negara memiliki arah yang jelas.

Lebih jauh lagi, pelemahan rupiah saat ini seharusnya menjadi alarm untuk membenahi struktur ekonomi, bukan sekadar dipadamkan dengan langkah jangka pendek.

Ketahanan kurs tidak dibangun dalam sehari. Ia lahir dari ekonomi yang produktif, industri yang efisien, ekspor yang kuat, dan kebijakan yang konsisten.

Karena itu, ada gagasan besar yang harus ditegaskan.

Pertama, nilai tukar harus dipandang sebagai bagian dari strategi kedaulatan ekonomi, bukan semata urusan pasar.

Kedua, hilirisasi harus benar benar menghasilkan penguatan devisa dan pengurangan ketergantungan impor.

Ketiga, komunikasi pemerintah kepada publik harus lebih jujur, tenang, dan meyakinkan. Kepercayaan tidak tumbuh dari penyangkalan, tetapi dari keterbukaan yang disertai tindakan nyata.

Pada akhirnya, rupiah di Rp17.300 harus dibaca sebagai dua hal sekaligus. Ia adalah gejolak yang dipicu tekanan global, tetapi juga alarm bahwa ketahanan internal kita masih perlu diperkuat.

Respons yang tepat bukan menebar ketakutan, tetapi juga bukan berpura pura semuanya baik baik saja.

Bangsa yang kuat bukan bangsa yang tak pernah diguncang, melainkan bangsa yang mampu membaca tanda bahaya lebih awal dan segera bertindak.

Jika rupiah adalah termometer ekonomi, maka suhu yang naik hari ini harus dijawab dengan diagnosis yang tepat dan langkah yang sungguh sungguh.

Sebab bila tanda ini diabaikan, biaya yang harus dibayar besok bisa jauh lebih mahal.

End

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *