JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa kinerja sektor industri manufaktur Indonesia terus menunjukkan tren positif berdasarkan data dan perkembangan terkini. Sektor industri manufaktur nasional terbukti solid, resilien, serta tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global, perlambatan ekonomi dunia, dan ketidakpastian pasar internasional.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief menyampaikan, industri manufaktur Indonesia terus memperlihatkan daya tahan tinggi serta kemampuan beradaptasi menghadapi tekanan global.
“Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat. Kontribusinya terus meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, investasi semakin tumbuh, dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Ini bukti bahwa struktur industri Indonesia semakin kokoh,” ujar Febri di Jakarta, Jumat (24/4).
Ia menjelaskan, pada tahun 2025 industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,30 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Capaian ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir pertumbuhan industri pengolahan kembali melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, kontribusi sektor industri manufaktur (industri pengolahan) terhadap total PDB Indonesia menunjukkan tren meningkat dalam periode Triwulan II 2022 sampai Triwulan IV 2025. Pada Triwulan II 2022, kontribusi manufaktur tercatat sebesar 17,92% dari total PDB nasional. Setelah itu, porsi manufaktur secara umum terus menguat, meskipun mengalami fluktuasi musiman antartriwulan.
Memasuki tahun 2023, kontribusi manufaktur mulai bergerak naik dari 18,26% pada Triwulan II 2023 menjadi 19,08% pada Triwulan IV 2023. Kenaikan ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur semakin berperan sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi nasional.
Pada tahun 2024, tren penguatan berlanjut dengan kontribusi mencapai 19,13% pada Triwulan IV 2024, lebih tinggi dibanding posisi akhir tahun sebelumnya. Bahkan pada Triwulan I 2024, kontribusi sempat menyentuh 19,28%, yang menjadi salah satu level tertinggi selama periode pengamatan.
Selanjutnya pada tahun 2025, kontribusi sektor manufaktur tetap terjaga pada level tinggi. Setelah berada di 18,67% pada Triwulan II 2025, kontribusi meningkat menjadi 19,15% pada Triwulan III 2025 dan kembali naik ke 19,20% pada Triwulan IV 2025.
Secara keseluruhan, jika dibandingkan antara Triwulan II 2022 (17,92%) dan Triwulan IV 2025 (19,20%), maka kontribusi PDB industri manufaktur meningkat sekitar 1,28 poin persentase. Hal ini menegaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, sektor manufaktur semakin memperkuat posisinya sebagai kontributor terbesar dan motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Investasi dan tenaga kerja meningkat
Berdasarkan data Sakernas 2015–Agustus 2025, tenaga kerja pada industri pengolahan nonmigas menunjukkan tren meningkat secara konsisten. Jumlah tenaga kerja naik dari 15,49 juta orang pada 2015 menjadi 18,90 juta orang pada 2019. Meski sempat terdampak pandemi pada 2021 hingga turun ke 17,44 juta orang, sektor ini kembali pulih pada tahun-tahun berikutnya.
Pada periode pemulihan, penyerapan tenaga kerja terus bertambah dari 18,65 juta orang pada 2022 menjadi 20,26 juta orang pada Agustus 2025, sekaligus menjadi level tertinggi selama periode pengamatan. Secara keseluruhan, hal ini menunjukkan bahwa industri pengolahan nonmigas tetap berperan penting sebagai penyedia lapangan kerja dan memiliki ketahanan yang kuat dalam mendukung perekonomian nasional.
Berdasarkan data SIINas per 23 April 2026, pada Triwulan I Tahun 2026 tercatat terdapat 633 perusahaan industri yang melaporkan pembangunan fasilitas produksi dan belum pernah melaporkan produksi sebelumnya. Total rencana penyerapan tenaga kerja dari pembangunan fasilitas tersebut mencapai 219.684 orang, dengan total nilai investasi sebesar Rp418,62 triliun.
Secara jumlah perusahaan, pembangunan fasilitas produksi paling banyak dilaporkan oleh subsektor Industri Pengolahan Tembakau sebanyak 72 perusahaan, diikuti Industri Minuman sebanyak 67 perusahaan, serta Industri Makanan sebanyak 60 perusahaan. Selain itu, subsektor Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia juga cukup dominan dengan 49 perusahaan yang sedang membangun fasilitas baru.
Dari sisi nilai investasi, subsektor Industri Logam Dasar menjadi kontributor terbesar dengan investasi mencapai sekitar Rp218,04 triliun dari 24 perusahaan. Posisi berikutnya ditempati Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia sebesar Rp81,22 triliun, disusul Industri Barang Galian Bukan Logam sebesar Rp12,10 triliun. Besarnya investasi pada subsektor logam dasar menunjukkan adanya penguatan sektor hulu manufaktur yang strategis, termasuk potensi hilirisasi mineral dan pengembangan rantai pasok industri nasional.
Sementara itu, dari sisi potensi penciptaan lapangan kerja, subsektor Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki menonjol dengan rencana penyerapan 37.350 tenaga kerja, diikuti Industri Logam Dasar sebanyak 25.592 orang, serta Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia sebanyak 9.065 orang. Hal ini menunjukkan bahwa selain padat modal, beberapa subsektor juga memiliki karakter padat karya yang signifikan.
Secara umum, data Triwulan I 2026 menunjukkan aktivitas pembangunan fasilitas produksi masih kuat dan tersebar di berbagai subsektor strategis, terutama makanan-minuman, kimia, logam dasar, serta sektor padat karya. Kondisi ini mencerminkan optimisme pelaku industri terhadap prospek permintaan domestik maupun ekspor, sekaligus menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan manufaktur nasional pada tahun 2026.
Kebijakan Pro-Industri
Menurut Febri, peningkatan kontribusi terhadap PDB, serapan tenaga kerja, dan investasi tersebut tidak terlepas dari kebijakan Menteri Perindustrian yang pro-industri, seperti reformasi kebijakan TKDN, penerapan kebijakan non-tariff barrier, pembangunan kawasan industri, serta perlindungan industri nasional dari gempuran produk impor.
Ia menambahkan, kebijakan yang mendukung penguatan sektor industri juga berjalan berkat arahan Prabowo Subianto serta sinergi yang erat antar kementerian dan lembaga.
Kemenperin juga menilai bahwa tingginya investasi yang masuk ke sektor manufaktur akan semakin memperkuat kapasitas produksi nasional, mendorong ekspor bernilai tambah, serta memperluas penciptaan lapangan kerja berkualitas. Pemerintah saat ini terus mengarahkan investasi ke sektor-sektor prioritas seperti industri makanan dan minuman, kimia, farmasi, otomotif, elektronika, tekstil, hingga industri berbasis hilirisasi sumber daya alam.
Lebih lanjut, Febri menambahkan bahwa ketahanan sektor manufaktur Indonesia terlihat jelas ketika banyak negara menghadapi tekanan rantai pasok global, fluktuasi harga energi, dan tensi geopolitik. “Di tengah situasi global yang tidak menentu, industri nasional tetap mampu tumbuh di atas 5 persen. Ini menunjukkan resiliensi yang sangat kuat dan daya saing industri Indonesia terus meningkat,” katanya.
Kemenperin optimistis tren positif ini akan berlanjut seiring implementasi kebijakan hilirisasi industri, substitusi impor, penguatan TKDN, transformasi industri 4.0, serta perluasan pasar ekspor nontradisional.
“Kami mengajak seluruh pihak melihat sektor manufaktur secara objektif berbasis data. Industri Indonesia terus bergerak menuju fase penguatan struktur ekonomi nasional,” pungkas Febri.
[Nug/rel]












