JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Ketahanan postur makroekonomi domestik kembali menunjukkan sinyal positif di tengah dinamika pasar global. Hingga pengujung Agustus 2026, nilai akumulatif pengiriman komoditas Indonesia ke pasar internasional berhasil menembus angka signifikan US$193,6 miliar. Pencapaian ini sekaligus merefleksikan pertumbuhan tahunan (year-on-year) sebesar 4,74 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Apresiasi terhadap rapor hijau perdagangan luar negeri ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, saat membuka perhelatan akbar Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Tangerang, Banten.
Disampaikan Bahlil, sektor perdagangan terbukti menjadi motor penggerak utama dalam menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional semester I-2026 yang bertengger di level 5,45 persen, dengan tingkat inflasi yang tetap terjaga kokoh di bawah kisaran 3 persen.
“Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” kata Bahlil.
Hilirisasi Jadi Penopang, Surplus Neraca Tembus US$7,25 Miliar
Keberhasilan Indonesia mengamankan surplus neraca perdagangan sebesar US$7,25 miliar selama delapan bulan pertama tahun 2026 menjadi bukti nyata efektivitas transformasi struktural. Kebijakan berani menghentikan penjualan material mentah (raw material) demi mendorong industrialisasi di dalam negeri dinilai menjadi kunci utama lonjakan nilai tambah komoditas lokal.
Sektor mineral, khususnya hilirisasi nikel, menjadi cerminan keberhasilan paling riil dari strategi ini:
Lompatan Devisa: Nilai ekspor produk olahan nikel yang pada periode 2017–2018 hanya berkisar US$3,3 miIiar, melesat tajam hingga US$34 miliar pada 2023.
Tren Ekspansif: Kurva kenaikan terus berlanjut hingga melewati ambang batas US$40 miliar pada tahun 2025.
Proyeksi Target: Pada tahun berjalan 2026, pemerintah optimis mampu memacu nilai ekspor produk turunan mineral nikel hingga menyentuh target US$45 miliar seiring matangnya ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.
Pangkas Karat Birokrasi demi Kelancaran Arus Dagang
Kendati menorehkan angka performa yang solid, Menko Bahlil mengingatkan jajarannya agar tidak terjebak dalam kepuasan jangka pendek. Guna memastikan laju ekspor tidak mengendur, reformasi birokrasi di pintu-pintu perdagangan internasional harus terus digulirkan secara agresif.
Secara khusus, Bahlil memberikan instruksi tegas untuk mengevaluasi instrumen Persetujuan Teknis (Pertek) yang selama ini kerap dikeluhkan karena memperpanjang birokrasi perdagangan. “Prosedur perdagangan luar negeri tidak boleh berbelit-belit. Regulasi atau Pertek yang memperlambat ruang gerak pelaku usaha harus segera disederhanakan demi kemajuan daya saing kita,” cetusnya di hadapan para investor dan delegasi dagang internasional.
Sorotan Pengamat Ekonomi: Waspadai Dampak Proteksionisme
Merespons capaian tersebut, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, Achmad Nur Hidayat, memberikan catatan kritis sekaligus konstruktif. Menurutnya, angka US$193,6 miliar merupakan prestasi yang wajib diapresiasi, namun pemerintah harus tetap mengantisipasi tantangan geopolitik global yang kian tidak menentu.

“Surplus ekspor ini membuktikan otot ekonomi kita masih bekerja dengan baik. Kendati demikian, tantangan ke depan bukan lagi sekadar memproduksi barang hilirisasi, melainkan bagaimana menghadapi gelombang proteksionisme baru dari negara-negara barat,” ujar Achmad Nur Hidayat.
Ia menambahkan, langkah Menko Bahlil yang menginstruksikan pemangkasan regulasi internal seperti Pertek sudah sangat tepat. Akselerasi pertumbuhan ekspor dinilai tidak akan optimal jika di dalam negeri sendiri para eksportir masih harus berhadapan dengan karat birokrasi yang memperlambat rantai pasok.
Divergensi Pasar Global dan Komitmen Industri Hijau
Sebagai langkah antisipasi terhadap perlambatan ekonomi di sejumlah negara mitra tradisional, pemerintah kini mempercepat implementasi perjanjian dagang konkret di kawasan baru. Penetrasi pasar secara masif tengah diarahkan ke wilayah potensial seperti Asia Selatan, Afrika, Amerika Latin, hingga Eropa Timur.
Di sisi lain, Indonesia juga memperkuat posisi tawar produknya melalui standarisasi industri ramah lingkungan. Penerapan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam proses produksi serta akselerasi program bahan bakar nabati seperti biodiesel B50 diharapkan mampu menjadi nilai jual lebih bagi produk nasional di pasar global yang kian selektif terhadap isu keberlanjutan.
[KE/Red]












