JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Alam Semesta Integra mendorong hilirisasi teknologi penangkapan karbon berbasis mikroalga untuk mendukung dekarbonisasi di kawasan perkotaan.
Kolaborasi riset dan industri tersebut diwujudkan melalui pilot project Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) berbasis fotobioreaktor mikroalga Olimpus Apollo 1.0 yang mampu menyerap karbon dioksida (CO₂) yang menghasilkan oksigen sekaligus menghasilkan biomassa bernilai guna.
Teknologi tersebut dikembangkan oleh Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN sejak 2021 melalui prototipe FCB2022. Teknologi fotobioreaktor secara ilmiah mampu meningkatkan efisiensi biosekuestrasi dan eliminasi karbon dioksida masing-masing hingga 89,8 persen dan 65 persen dengan menggunakan mikroalga lokal terpilih Spirulina platensis. Sistem juga mengoptimalkan proses fotosintesis melalui pemilihan strain, formulasi medium pertumbuhan, serta pemantauan irradiance, pH, dan suhu secara real time.
Konsep hasil riset tersebut kemudian dikolaborasikan dengan PT Alam Semesta Integra dan diimplementasikan dalam Olimpus Apollo 1.0 sebagai teknologi carbon removal untuk wilayah perkotaan. Sistem dirancang secara modular sehingga dapat diintegrasikan dengan berbagai ruang dan fasilitas publik.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan, kolaborasi antara BRIN dan mitra industri menunjukkan pentingnya membawa hasil penelitian keluar dari laboratorium agar dapat dikembangkan, diimplementasikan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Riset tidak boleh berhenti pada publikasi atau prototipe. Nilai dari sebuah penelitian akan semakin besar ketika pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan periset dapat dikolaborasikan dengan industri, dikembangkan dalam skala yang lebih luas, dan ditransformasikan menjadi solusi yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat, dunia usaha, maupun lingkungan,” ujar Arif.
Menurut Arif, pengembangan teknologi penangkapan karbon berbasis mikroalga juga menunjukkan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia dapat menjadi modal penting dalam pengembangan teknologi hijau. Mikroalga memiliki kemampuan melakukan fotosintesis dengan menyerap karbon dioksida (CO₂) dan mengubahnya menjadi biomassa serta menghasilkan oksigen.
“Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa, sekaligus kapasitas riset yang dapat menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi hijau. Tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut kita hubungkan dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Di sinilah kolaborasi menjadi kunci, agar hasil riset tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat ditingkatkan skalanya, diterapkan, dan menghasilkan dampak,” lanjut Arif.
Arif menegaskan, BRIN akan terus mendorong ekosistem riset dan inovasi yang mempertemukan periset, industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya. Menurutnya, keberhasilan riset tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak penelitian yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana hasil tersebut mampu menjawab persoalan dan menciptakan nilai bagi Indonesia.
“Ke depan, kita ingin semakin banyak hasil riset BRIN yang bergerak dari invention menuju innovation, dan dari innovation menuju impact. Inilah semangat yang harus kita bangun bersama melalui kolaborasi yang semakin erat dengan industri,” pungkas Arif.
Direktur PT. Alam Semesta Integra Eddy Setiawan mengatakan pengembangan Olimpus diarahkan untuk menghadirkan teknologi penangkapan karbon yang dapat diaplikasikan pada lingkungan perkotaan sekaligus memiliki kinerja yang dapat diukur.
“Kami ingin menghadirkan solusi dekarbonisasi yang dapat diterapkan di kawasan perkotaan, ketika kebutuhan pengurangan emisi tinggi tetapi ketersediaan ruang hijau terbatas. Kolaborasi dengan BRIN menjadi penting untuk memastikan pengembangan teknologi memiliki fondasi riset yang kuat,” ujar Eddy.
Eddy menjelaskan, PT Alam Semesta Integra merupakan perusahaan di bidang lingkungan yang berfokus pada pengembangan teknologi carbon capture. Pengembangan Photobioreactor Carbon Capture, Utilization & Storage sebagai salah satu implementasi teknologi penangkapan karbon berbasis mikroalga yang dirancang modular untuk lingkungan perkotaan, mulai dari jalan protokol dan kawasan industri hingga fasilitas publik, mal, hotel, dan perkantoran.
“Teknologi ini tidak hanya diarahkan untuk menangkap karbon dioksida, tetapi juga memanfaatkan proses biologis mikroalga sehingga karbon dapat dikonversi menjadi biomassa yang memiliki potensi pemanfaatan lebih lanjut. Karena itu, kami melihat kolaborasi riset dan industri sebagai bagian penting untuk mengembangkan teknologi ini ke skala yang lebih luas,” lanjut Eddy.
Selain itu, Eddy menjelaskan pengembangan teknologi ini tidak berhenti pada penangkapan karbon. Biomassa mikroalga yang dihasilkan dari proses penyerapan CO₂ juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku bioenergi.
Karena itu, teknologi FCCUS berbasis mikroalga dikembangkan tidak hanya sebagai solusi biologis penangkapan karbon, tetapi juga untuk mendukung transisi energi, dekarbonisasi sektor energi, serta pengembangan bahan bakar nabati.
Olimpus FCCUS memiliki manfaat sebagai alat pendukung Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya sebagai aksi mitigasi perubahan iklim. Teknologi ini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah pusat dan daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta perusahaan terbuka sebagai bagian dari upaya pengurangan emisi dan penguatan komitmen terhadap keberlanjutan.
Olimpus FCCUS juga tercatat sebagai proyek greenhouse gas (GHG) pertama di dunia yang menerapkan standar ISO 14064-2, yang memperkuat aspek pengukuran dan kuantifikasi pengurangan emisi dalam implementasi teknologi penangkapan karbon.
Dengan desainnya yang modular, Olimpus cocok ditempatkan di kawasan perkotaan, kawasan industri, maupun berbagai fasilitas umum, seperti jalan protokol, pusat perbelanjaan, hotel, dan perkantoran. Fleksibilitas tersebut memungkinkan teknologi ini diintegrasikan pada area dengan keterbatasan ruang hijau sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi di lingkungan perkotaan dan industri.
[Rus/Red]












