PALU, KINERJAEKSELEN.co – Nelayan merupakan pilar penting dalam ketahanan pangan dan roda perekonomian, khususnya di wilayah Indonesia yang didominasi oleh perairan. Di tengah dinamika ekonomi global, peran nelayan dinilai sangat krusial, baik sebagai penyedia protein esensial bagi masyarakat maupun sebagai penggerak utama ekonomi di tingkat lokal.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Sulawesi Tengah, H. Syarifudin Hafid, SH, MM. Pihaknya terus berkomitmen mendorong peningkatan kesejahteraan nelayan di Sulawesi Tengah agar mampu keluar dari bayang-bayang ketertinggalan ekonomi.
Menurut Syarifudin, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, kondisi kesejahteraan nelayan di Sulteng saat ini masih memerlukan perhatian serius dan lompatan besar agar setara dengan provinsi tetangga seperti Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
“HNSI harus menjadi rumah besar bagi nelayan. Tempat kita berjuang bersama sekaligus tonggak utama dalam membangun masa depan perikanan dan kelautan yang lebih baik,” ujar Syarifudin Hafid.
Strategi Integratif Hadapi Tantangan Zaman
Dalam mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir, HNSI Sulteng menggarisbawahi beberapa tantangan mendasar yang dihadapi oleh sekitar 94.887 nelayan di wilayah tersebut. Selain faktor keterbatasan sarana dan prasarana modern, nelayan saat ini dihadapkan pada dilema antara potensi laut yang melimpah dan ancaman perubahan iklim serta cuaca ekstrem.
Menyikapi hal ini, Syarifudin menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan tidak bisa dilakukan dengan cara-cara konvensional. HNSI Sulteng berfokus pada tiga pendekatan strategis yang terintegrasi:
- Adaptasi dan Pemanfaatan Teknologi Modern: Mendorong digitalisasi dan penggunaan teknologi penangkapan ikan agar nelayan dapat melaut dengan lebih aman, efektif, serta presisi dalam membaca pergerakan ikan maupun cuaca.
- Dukungan Sarana dan Prasarana: Bersinergi dengan pemerintah daerah untuk mengupayakan bantuan alat tangkap modern dan fasilitas pendukung pasca-panen guna menjaga kualitas komoditas perikanan.
- Diversifikasi Mata Pencaharian: Memberikan pelatihan alternatif ekonomi bagi keluarga nelayan agar ketahanan finansial rumah tangga tetap terjaga, terutama saat musim paceklik akibat cuaca buruk.
Organisasi Nonpolitik untuk Perjuangan Murni
Sebagai nakhoda baru HNSI Sulteng periode 2025–2030, Syarifudin kembali mengingatkan jajarannya bahwa HNSI adalah organisasi berbasis nelayan yang sepenuhnya bersifat nonpolitik. Fokus utama lembaga ini murni untuk melakukan advokasi hukum, pemenuhan modal usaha, serta pembenahan rantai pasar kelautan agar nilai ekonomi langsung jatuh ke tangan nelayan.
Langkah taktis ke depan, HNSI Sulteng akan terus memperkuat kolaborasi bersama Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulteng beserta seluruh pemangku kepentingan. Sinergi ini diharapkan mampu mengimplementasikan program konkrit ekonomi biru dan ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
“Kita memiliki potensi laut yang luar biasa besar. Melalui visi bersama, modernisasi sektor perikanan, dan perlindungan yang tepat, kita optimis nelayan Sulawesi Tengah akan jauh lebih sejahtera,” pungkasnya.
[KE/Red]












