Oleh Syahril Syam *)
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (QS 7:172).
Para ulama menafsirkan ayat ini sebagai bentuk mitsaq fitrah, yaitu perjanjian yang tertanam dalam struktur keberadaan manusia sejak awal penciptaan. Ini bukan peristiwa verbal atau lahiriah, tetapi pengakuan eksistensial dari ruh manusia akan keberadaan dan keesaan Sang Maha Sempurna. Ayat ini mengisyaratkan adanya kontrak primordial antara Sang Maha Sempurna dan seluruh manusia sebelum mereka dilahirkan ke dunia, yang menjadi dasar moral dan spiritual atas ketaatan manusia kepada Sang Maha Sempurna.
Dengan telah menyaksikan dan mengakui ketuhanan-Nya, manusia secara ontologis terikat untuk taat kepada kehendak-Nya. Oleh karena itu, ketaatan bukanlah kewajiban eksternal, melainkan ekspresi kebenaran terdalam dari ruh manusia.
Karena kita sudah mengakui Sang Maha Sempurna sebelum lahir, maka di dalam diri setiap manusia sebenarnya sudah tertanam kesadaran bawaan tentang siapa Sang Maha Sempurna itu. Dengan kata lain, ketaatan kepada Sang Maha Sempurna bukanlah sesuatu yang dipaksakan dari luar, melainkan datang dari dalam diri manusia itu sendiri – dari kedalaman ruhnya.
Inilah sebabnya mengapa dalam ajaran Islam, mengikuti perintah Sang Maha Sempurna dipandang sebagai bentuk kembali kepada fitrah asli manusia, yaitu fitrah yang pernah menyaksikan dan mengakui keesaan Sang Maha Sempurna. Secara ilmiah dalam pendekatan filsafat atau psikologi spiritual, hal ini dapat dipahami sebagai dasar moral bawaan yang menjadi sumber bagi kecenderungan manusia terhadap kebenaran, keadilan, dan pencarian makna hidup. Maka, dalam pandangan ini, manusia tidak “netral secara moral” sejak lahir, tetapi telah membawa potensi untuk mengenal dan mengikuti Sang Maha Sempurna sebagai bagian dari dirinya yang paling dalam.
Coba renungkan, suatu hari seseorang terbangun di dunia ini, menjalani hidup, mengejar cita-cita, mencari kebahagiaan, tapi perlahan lupa siapa dirinya sebenarnya dan dari mana asalnya. Ia sibuk dengan urusan dunia, hingga lupa bahwa sebelum dilahirkan, jiwanya pernah berdiri di hadapan Sang Maha Sempurna dan dengan penuh kesadaran bersaksi, “Engkaulah Tuhanku”. Namun, saat seseorang hidup seolah-olah Sang Maha Sempurna tak pernah ada – menolak kebenaran, menutup hati dari petunjuk, atau menjauh dari kebaikan – itu bukan sekadar kelalaian biasa.
Dalam pandangan Al-Qur’an, itu adalah bentuk pengingkaran terhadap janji suci yang pernah dibuat jiwanya sendiri. Karena itulah, banyak ayat menyebut orang yang kafir atau fasik sebagai zalim terhadap dirinya sendiri. Bukan karena Sang Maha Sempurna murka semata, tetapi karena ia telah menyakiti dan mengkhianati fitrahnya sendiri – fitrah yang sejatinya mengenal Sang Maha Sempurna dan condong pada kebenaran. Dalam bahasa yang sederhana, ia seperti seseorang yang lupa arah pulang, padahal di hatinya sudah tertanam kompas yang mengarah ke rumah sejatinya: Sang Maha Sempurna.
Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.” Ia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. InsyaAllah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS 37:102). Ayat ini menceritakan kisah yang sangat menyentuh antara Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Dalam mimpinya, Nabi Ibrahim melihat dirinya sedang menyembelih Ismail. Namun, karena mimpi para nabi bukan sekadar bunga tidur melainkan bentuk wahyu, maka mimpi itu merupakan perintah langsung dari Sang Maha Sempurna.
Nabi Ibrahim yang bermimpi menyembelih Ismail bisa dipahami sebagai manifestasi nyata dari ketaatan kepada Sang Maha Sempurna yang bersumber dari ikatan primordial antara ruh manusia dengan Sang Maha Sempurna.
Tindakan Nabi Ibrahim yang bersedia menyembelih putranya bukan sekadar bentuk kepatuhan terhadap perintah Sang Maha Sempurna, tetapi cerminan dari janji terdalam yang pernah diikrarkan ruh manusia sebelum lahir. Ia taat bukan karena terpaksa, melainkan karena jiwanya telah mengenal Sang Maha Sempurna dan tunduk kepada-Nya sejak awal penciptaan. Inilah ekspresi dari kontrak primordial – ketaatan yang lahir dari kesadaran spiritual, bukan sekadar kewajiban luar.
Dalam cahaya ayat “Alastu bi Rabbikum”, kita pahami bahwa Nabi Ibrahim sudah mengalami kedewasaan spiritual tertinggi, hingga kesadaran eksistensialnya sepenuhnya selaras dengan kehendak Sang Maha Sempurna. Saat ia menerima perintah menyembelih anaknya – ia tidak menimbang secara emosional, melainkan mengikuti sepenuhnya kebenaran yang telah ia saksikan dalam fitrahnya sejak perjanjian primordial itu. Ini adalah manifestasi ketaatan total yang tumbuh dari ikatan terdalam antara ruh dan Sang Maha Sempurna, bukan sekadar kepatuhan hukum atau takut sanksi.
Nabi Ismail pun menjawab dengan kesadaran fitrah. Perhatikan bahwa Ismail tidak membantah, melainkan berkata: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu.” Ini adalah bentuk kesadaran ruhani yang tinggi – ia menyambut perintah Sang Maha Sempurna, walaupun berat, karena tahu bahwa itu datang dari al-Haqq, Sang Maha Sempurna yang telah dia saksikan sejak awal penciptaannya. Respons keduanya memperlihatkan bahwa ketaatan bukanlah paksaan dari luar, melainkan panggilan dari dalam – panggilan ruh yang pernah bersaksi di hadapan Sang Maha Sempurna, “Betul, Engkau adalah Tuhan kami.”
Dalam konteks ini, ketaatan Ibrahim adalah ekspresi dari janji jiwa manusia yang telah mengenal Sang Maha Sempurna bahkan sebelum tubuhnya diciptakan. Maka, tindakan Ibrahim dan Ismail tidak hanya mencerminkan ketaatan formal, tetapi juga sebuah kepatuhan eksistensial, karena mereka menanggapi perintah Ilahi bukan sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari diri dan fitrah yang terdalam.
Dalam pandangan Filsafat Hikmah, kisah Nabi Ibrahim yang siap menyembelih putranya Ismail bukanlah sekadar peristiwa lahiriah atau tindakan fisik semata. Peristiwa itu adalah simbol dari perjalanan ruhani yang sangat dalam – suatu bentuk transendensi, yaitu proses naiknya jiwa menuju kedekatan hakiki dengan Sang Maha Sempurna.
Dalam tahap ini, seseorang melepaskan segala bentuk keterikatan duniawi, bahkan terhadap hal yang paling dicintai sekalipun, seperti anak. Bagi Ibrahim, kepatuhan kepada Sang Maha Sempurna bukan muncul karena tekanan atau rasa takut, tetapi karena jiwanya sudah menyatu dengan kebenaran Ilahi.
Penyatuan ini adalah buah dari sebuah ikatan awal yang sangat mendasar. Maka, ketaatan Ibrahim merupakan wujud cinta sejati kepada Sang Maha Sempurna: cinta yang melampaui logika dunia, karena berasal dari kedalaman fitrah yang telah mengenal dan mengakui Sang Maha Sempurna sejak awal keberadaan ruh.
Nabi Ibrahim dan Ismail sama-sama menunjukkan bahwa mereka bukan hanya patuh karena takut atau terpaksa, tetapi karena mereka menyadari bahwa hidup ini terhubung dengan Sang Maha Sempurna melalui ikatan terdalam yang pernah dibuat oleh ruh manusia sebelum dilahirkan.
Kisah ini mengajarkan bahwa ketaatan sejati bukanlah sekadar menjalankan perintah, tetapi bersumber dari kesadaran spiritual yang kuat – bahwa manusia diciptakan untuk mengenal, mencintai, dan patuh kepada-Nya. Maka, tindakan Ibrahim dan Ismail bukan sekadar simbol pengorbanan, melainkan contoh nyata dari kepatuhan yang tumbuh dari dalam diri, dari ruh yang telah menyaksikan kehadiran Sang Maha Sempurna dan berjanji untuk setia kepada-Nya.
Itulah sebabnya, Idul Adha dipahami bukan hanya sebagai ritual penyembelihan hewan, tetapi sebagai peringatan atas puncak ketaatan dan kepasrahan total kepada Sang Maha Sempurna, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ketaatan sejati dalam Idul Adha bukanlah karena takut neraka atau berharap surga, tapi karena cinta dan percaya penuh pada Sang Maha Sempurna. Kesadaran ruhani bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Maka, penyembelihan bukan hanya simbol, tetapi menyembelih ego (nafsu), menyembelih kelekatan dunia, dan menyembelih keinginan pribadi demi kehendak Sang Maha Sempurna.
Ketaatan sejati muncul ketika jiwa menyadari Sang Maha Sempurna sebagai Wujud Mutlak, dan tunduk sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Idul Adha adalah simbol dari puncak kesadaran eksistensial bahwa tidak ada yang lebih nyata dari Sang Maha Sempurna, dan semua bentuk ketaatan lahir dari ruh yang telah menyaksikan kebenaran-Nya dalam perjanjian primordial.
@pakarpemberdayaandiri




