Spirit  

Naik di Dunia, Jatuh Dalam Wujud: Paradoks Kesuksesan Yang Tak Terlihat

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam filsafat Mulla Sadra, konsep “wujud” atau “ada” tidak dipahami sekadar sebagai sesuatu yang hadir atau eksis. Wujud memiliki dua sifat utama. Pertama, ia bersifat satu secara makna (univokal), artinya segala sesuatu yang ada – baik batu, hewan, maupun manusia – sama-sama disebut “ada”.

Namun, kesamaan ini hanya pada level bahasa atau konsep. Kedua, dalam realitasnya, wujud itu bertingkat (disebut tasykik al-wujud), yang berarti kualitas keberadaan setiap sesuatu berbeda-beda. Batu memang ada, hewan juga ada, dan manusia juga ada, tetapi tingkat “kehidupan”, “kesadaran”, dan “keluasan eksistensinya” tidak sama. Manusia memiliki potensi untuk berada pada tingkat wujud yang lebih tinggi karena memiliki kesadaran reflektif.

Dalam kerangka ini, manusia bukan makhluk yang statis. Ia bisa bergerak naik atau turun dalam kualitas wujudnya. Ketika seseorang menjadi lebih sadar, lebih bijak, dan lebih terarah kepada kebenaran, maka ia sedang naik dalam tingkat eksistensinya – menjadi lebih “hidup” secara hakiki. Sebaliknya, ketika seseorang semakin terjebak dalam dorongan rendah, kehilangan kendali diri, dan hidup secara otomatis tanpa refleksi, maka ia sedang mengalami penurunan kualitas wujud – menjadi lebih sempit dan gelap secara batin.

Di sinilah peran “nafsu” menjadi penting. Nafsu sering disalahpahami sebagai musuh, padahal dalam kerangka ini, nafsu adalah energi dasar kehidupan. Ia adalah sumber dorongan, keinginan, dan bahkan bahan bakar bagi eksistensi manusia. Tanpa nafsu, manusia tidak akan bergerak.

Namun, nafsu memiliki dua kemungkinan kondisi. Jika tidak dikendalikan, nafsu bekerja secara otomatis, didorong oleh impuls seperti keinginan sesaat, ego, dan dorongan untuk mendominasi. Dalam kondisi ini, manusia tidak lagi mengendalikan dirinya, melainkan dikendalikan oleh dorongan internalnya. Sebaliknya, jika nafsu diarahkan oleh akal dan kesadaran, maka ia tidak dimatikan, tetapi ditransformasikan. Energi yang sama justru menjadi kekuatan untuk bertumbuh dan naik dalam kualitas wujud.

Ketika nafsu tidak dikendalikan, terjadi serangkaian penurunan secara bertahap dalam diri manusia. Kesadaran menjadi sempit, karena fokus hanya pada kepuasan instan. Identitas diri menyusut, dari makhluk yang mampu berpikir dan memilih menjadi sekadar makhluk yang reaktif. Kebebasan batin hilang, karena hidup sepenuhnya digerakkan oleh dorongan. Dalam bahasa spiritual, “cahaya wujud” melemah – artinya seseorang semakin jauh dari sumber keberadaan yang paling tinggi, yaitu Allah. Secara ontologis, kondisi ini adalah bentuk degradasi atau penurunan tingkat wujud.

Namun, pada saat yang sama, dunia sosial tidak selalu mengikuti hukum yang sama dengan hukum ontologis ini. Dalam kehidupan dunia, ukuran keberhasilan seringkali ditentukan oleh kekuasaan, kekayaan, pengaruh, dan status sosial. Masalahnya, semua itu tidak selalu membutuhkan kesadaran yang tinggi. Seseorang bisa menjadi berkuasa karena manipulatif, menjadi kaya karena rakus, atau menjadi pemimpin karena dominan dan agresif. Dunia, dalam banyak kasus, justru “menghadiahi” ambisi yang berlebihan, agresi, dan ego yang kuat.

Di sinilah muncul sebuah paradoks yang mendalam. Secara lahiriah, seseorang bisa terlihat “naik” – memiliki kekuasaan yang lebih besar, status yang lebih tinggi, dan pengaruh yang luas. Namun secara batiniah dan ontologis, ia justru bisa mengalami penurunan. Kesadarannya menurun, kebebasan batinnya berkurang, dan kedekatannya dengan kebenaran semakin menjauh. Dengan kata lain, seseorang bisa tampak berhasil di dunia, tetapi secara eksistensial justru mengalami kemunduran. Paradoks inilah yang dapat dirangkum dalam satu kalimat sederhana namun dalam makna: seseorang bisa “naik dalam dunia, tetapi turun dalam eksistensi”.

Dalam perspektif filsafat Islam, khususnya menurut Mulla Sadra, istilah “tinggi” dan “rendah” dalam kehidupan manusia tidak diukur dari apa yang dimiliki secara lahiriah, seperti harta, jabatan, atau kekuasaan. Ukuran yang sebenarnya jauh lebih dalam dan bersifat ontologis, yaitu berkaitan dengan kualitas keberadaan itu sendiri. Seseorang dianggap “tinggi” bukan karena banyak yang ia miliki, tetapi karena tingkat kesadarannya, kemampuannya mengendalikan diri, serta kedekatannya dengan Realitas Tertinggi, yaitu Allah.

Dengan kata lain, degradasi wujud terjadi bukan ketika seseorang kehilangan sesuatu secara materi, tetapi ketika ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ketika kesadaran menyempit, ketika dorongan-dorongan rendah mulai mendominasi, dan ketika seseorang hidup secara otomatis tanpa refleksi, maka kualitas wujudnya menurun. Ia mungkin tetap terlihat “berhasil” di luar, tetapi secara batin dan eksistensial ia mengalami pelemahan.

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan dua tipe manusia. Orang pertama memiliki kekuasaan besar, ditakuti oleh banyak orang, dan tampak sangat dominan dalam kehidupan sosial. Namun di balik itu, ia mudah marah, dikuasai ego, dan tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Ia bereaksi terhadap segala sesuatu secara impulsif. Secara dunia, ia tampak tinggi. Tetapi secara wujud, ia rapuh, karena tidak memiliki kendali atas pusat dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang kedua mungkin tidak terkenal, hidup sederhana, dan tidak memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Namun ia tenang, sadar, dan mampu menguasai dirinya. Ia tidak mudah terbawa emosi, mampu menahan dorongan, dan bertindak dengan refleksi. Secara dunia, ia terlihat biasa saja. Tetapi secara wujud, ia berada pada tingkat yang lebih tinggi, karena ia hidup dengan kesadaran yang utuh.

Fenomena ini ternyata sejalan dengan temuan dalam neuroscience modern. Dalam otak manusia, terdapat dua sistem yang sering berinteraksi. Sistem pertama adalah sistem impulsif yang banyak berkaitan dengan Limbic System, yang mengatur emosi, dorongan instan, dan reaksi cepat. Sistem kedua adalah sistem kontrol yang berkaitan dengan Prefrontal Cortex, yang berperan dalam pengambilan keputusan, refleksi, dan pengendalian diri.

Ketika seseorang dikuasai oleh nafsu yang tidak terkendali, maka yang dominan adalah sistem impulsif. Ia hidup dalam “mode reaktif”, merespons tanpa berpikir panjang. Dalam kerangka wujud, ini adalah bentuk penurunan eksistensi, karena kesadaran tidak lagi memimpin. Sebaliknya, ketika seseorang mampu mengaktifkan kontrol diri, berpikir sebelum bertindak, dan mengarahkan dorongannya secara sadar, maka ia hidup dalam “mode sadar”. Ini adalah bentuk kenaikan eksistensi, karena kesadaran menjadi pusat pengarah kehidupan.

Dengan demikian, konsep “naik” dan “turun” dalam wujud bukanlah sesuatu yang abstrak tanpa dasar, tetapi memiliki paralel yang jelas baik dalam filsafat maupun dalam sains modern. Menguasai diri berarti memperkuat kesadaran dan meningkatkan kualitas keberadaan. Sebaliknya, dikuasai oleh nafsu berarti melemahkan kesadaran dan menurunkan kualitas wujud.

Implikasinya sangat mendalam. Setiap pilihan kecil dalam hidup sebenarnya adalah gerakan naik atau turun dalam tingkat eksistensi. Ketika seseorang mengikuti dorongan tanpa kontrol, ia sedikit demi sedikit menurun. Ketika ia menahan diri dan bertindak dengan sadar, ia sedikit demi sedikit naik. Jika pola ini diulang terus-menerus, maka ia tidak lagi sekadar menjadi tindakan sesaat, tetapi berubah menjadi karakter yang menetap, atau dalam istilah filsafat Islam disebut sebagai malakah – yaitu kualitas yang tertanam secara permanen dalam diri.

Pada akhirnya, hidup manusia bukan hanya perjalanan waktu, tetapi juga perjalanan tingkat wujud. Dan arah perjalanan itu ditentukan oleh satu hal yang paling mendasar: apakah ia menguasai dirinya, atau justru dikuasai oleh dirinya sendiri.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *