Membangun Optimisme
Optimisme merupakan modal awal untuk mengarungi tantangan ke depan. Kita tidak pernah tahu seperti apa di depan. Disamping itu, penting satu dengan yang lain saling berhubungan, bersinergi dengan penyadaran bersama untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik
Risdiana Wiryatni
Kondisi perekonomian Indonesia saat ini terus bergerak meski agak lambat. Tetapi dengan berbagai strategi dan kehati-hatian, bukan sesuatu yang mustahil titik puncak akan mudah dicapai.
Untuk meraihnya, tentu harus diimbangi dengan kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, kerja ikhlas, dan disiplin, selain perlunya kesamaan visi dan komitmen bersama untuk membangun bangsa ini.
Pembangunan di Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh anak bangsa, termasuk dari kalangan swasta. Oleh sebab itu, untuk mengoptimalkan dan meratakan pembangunan di Indonesia maka diperlukan sinergi dan komitmen bersama untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

“ Menyatukan visi, cara pandang, cara berfikir dan cara menyikapi keadaan sudah selayaknya menjadi jalan bagi kita semua untuk memperoleh keberhasilan masa depan bagi bangsa ini,” kata Risdiana Wiryatni dalam obrolan santai, Sabtu 6 Januari 2024
CEO/Owner Kinerja Group ini, berujar, kunci keberhasilan adalah disiplin, karena disiplin memastikan semua aturan, kebijakan dan kesepakatan dilaksanakan dengan penuh dedikasi dan motivasi tinggi. Disiplin mengutamakan ketegasan prinsip dan akuntabilitas yang memadai.
Sukses, kata dia, adalah buah dari kerja keras dan disiplin dan memperkuat optimisme, bagaimana meletakkan pondasi untuk menuju sukses itu sendiri.
“ Selain itu sangatlah penting adalah pendekatan kepada masyarakat, restu kedua orang tua, dan tak putus untuk selalu mendekatkan diri pada Alloh SWT, Sang Pemilik Kehidupan ini,” ujarnya.
Risdiana berujar, bahwa pengetahuan, pengalaman dan inspirasi adalah tiga jurus penting dalam memenangkan peluang. Tantangan apapun yang menghadang bisa diatasi dengan mengkombinasikan tiga jurus tersebut.
Sebelum meraih sukses, lanjut Risdiana, seseorang harus mampu melewati ‘perjalanan’ yang tidak mulus, penuh tantangan, penuh hinaan, bahkan sering pula dilecehkan.

Risdiana selalu berfikir, kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak. Ia, memang punya sikap dan prinsip yang jelas, selalu ingin maju.
Risdiana berprinsip ‘ mannjadda wa jadda ‘ siapa yang berusaha akan berhasil juga akhirnya. Tetapi semua itu (diakui) memang ada batasnya. Kalau semua cara sudah dicoba, masih mentok juga, apa boleh buat, tidak perlu kecewa.
“ Tawakal kepada Allah SWT,” ujarnya.
Keberhasilan seseorang, menurut Risdiana, disamping kerja keras terus menerus, juga sangat tergantung pada, pertama : kemampuan diri sendiri, kedua kesempatan untuk mengembangkan diri dan ketiga strategi untuk mencapai keberhasilan.
“ Yang penting asal mau berusaha, mengasah potensi dan jujur. Tetapi memang tidak setiap orang bisa mendapatkan kesempatan mengembangkan potensinya. Untuk mendapatkan kesempatan ini, jelas dibutuhkan strategi yang tepat. Strategi inilah yang akan menentukan apakah seseorang akan menjadi ‘risk taker’ (pengambil resiko) atau ‘risk orderer’ (pengatur resiko),” ungkapnya
Risk taker cenderung untuk berspekulasi tanpa mempertimbangkan secara cermat. Ia mencoba setiap kemungkinan. Sementara seorang ris ordener akan memperhitungkan risiko terkecil sekalipun terhadap rencana-rencana sesuai prinsip dasar ekonomi.
“ Kesuksesan seseorang sangat tergantung pada kemauannya yang kuat, rasa percaya diri yang tinggi, dan kemampuannya menghitung risiko. Kemauan akan mendorong kegigihan untuk berusaha, untuk bisa berhasil, bisa mencapai goal,” pungkas Risdiana Wiryatni.
(jgd/red)












