Yulius Aho: Mencintai Sesama Itu Hakikatnya Mencintai Penciptanya

Yulius Aho

KINERJAEKSELEN.co, Jakarta – Hakikat mencintai sesama adalah wujud kesempurnaan iman yang menuntut seseorang peduli, menolong dalam kebaikan, dan memperlakukan orang lain layaknya diri sendiri. Ini mencakup kasih sayang tanpa syarat, empati, serta menjaga lisan dan perbuatan. Cinta sesama merupakan tanda  cinta kepada Sang Pencipta.

Hal itu disampaikan Yulius Aho, sosok yang peduli akan kesulitan orang lain. Sebagai seorang pengusaha dan politisi, Yulius Aho tetap rendah hati dan santun kepada siapapun, termasuk kepada orang yang baru dikenalnya.

Yulius Aho, peka terhadap kebutuhan sosial masyarakat.  Ia tak segan mengulurkan tangan kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan, salah satunya menyediakan fasilitas ambulan gratis.

Menyediakan ambulans gratis untuk masyarakat adalah wujud nyata dari nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, dan aksi filantropi.

Ambulan gratis, kata Yulius, diutamakan untuk membantu kelompok dhuafa, pasien kurang mampu, atau kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat.

Yulius Aho saat menerima penghargaan Kinerja Award 2026

“Inisiatif ini tidak hanya meringankan beban biaya, tetapi juga memberikan ketenangan dan pertolongan darurat yang sangat dibutuhkan. Ambulans gratis memastikan masyarakat, terutama yang kurang mampu, memiliki akses setara terhadap layanan kesehatan, sehingga biaya bukan lagi penghalang utama untuk menyelamatkan nyawa,” kata Yulius Aho suatu ketika.

Yulus Aho mengungkapkan, peduli sesama merupakan wujud nyata atau implementasi paling mendasar dari nilai-nilai cinta kasih. Ini adalah tindakan proaktif yang didasari oleh perasaan empati, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial untuk membantu meringankan beban orang lain tanpa membeda-bedakan.

Pengusaha asal Landak, Kalimantan Barat ini berujar, peduli sesama adalah kemampuan memahami kondisi orang lain, merasakan kesulitan mereka, dan berupaya membangkitkan semangat mereka.

“ Cinta kasih bukan hanya perasaan, melainkan sikap emosional yang mendalam seperti kasih sayang dan empati yang mendorong seseorang untuk memahami, menghargai, dan membantu orang lain. Semangat ini yang harus kita tanamkan, kita gelorakan. Hidup ini hanya sementara waktu, kita tidak akan pernah tahu sampai sejauh mana perjalanan hidup kita akan berakhir,” ujarnya.

[Jgd]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *