Opini  

Beda Pemaknaan, Beda Perasaan

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Jika kita memaknai orang tertentu sebagai orang yang jabatannya tinggi, level statusnya tinggi, punya pengaruh yang kuat, maka perasaan yang kita rasakan akan berbeda jika memaknai orang yang berbeda sebagai orang yang level statusnya lebih rendah, hidupnya miskin, dan tidak punya pengaruh. Dan karena perasaan yang kita rasakan berbeda, maka dari perasaan itu akan melahirkan sikap dan perilaku yang berbeda pula.

Pada pemaknaan yang pertama, kita akan cenderung bersikap segan, lebih menghormati, dan bertindak hati-hati. Sedangkan pada pemaknaan yang kedua, kita biasanya akan bersikap santai (pada kebanyakan orang bersikap meremehkan), tidak kaku, dan bertindak wajar-wajar saja. Begitu juga, walau orang tersebut memiliki jabatan yang tinggi, namun jika kita maknai sebagai teman akrab, perasaan kita akan berbeda, dan sikap dan perilaku kita pun juga berbeda.

Pemaknaan yang kita lakukan bukan hanya pada sesama manusia. Pemaknaan juga bisa kita lakukan kepada hewan, tumbuhan, benda-benda tertentu, peristiwa, suatu masalah, ataupun hal-hal tertentu. Kita pada dasarnya melakukan pemaknaan pada apapun di sekitar kita. Dan setiap level pemaknaan menentukan seberapa intens perasaan kita pada sesuatu itu.

Semakin besar pemaknaan kita (semakin berarti bagi kita), maka semakin intens pula perasaan kita. Dan karenanya sikap dan perilaku kita pun akan lebih perhatian pada sesuatu itu. Begitu pula sebaliknya, saat kita kurang memaknai sesuatu itu, semakin tidak terikat perasaan kita pada sesuatu itu. Sikap dan perilaku pun bahkan cenderung cuek pada sesuatu itu.

Karena pemaknaan bekerja pada akal manusia, maka fungsi indra hanyalah sebagai saluran informasi. Dengan kata lain, pemaknaan tidak bergantung pada panca indra kita. Kita bisa saja memaknai sesuatu yang tidak pernah kita lihat atau dengar. Jadi ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata, “Jangan katakan pada Allah ‘aku punya masalah besar’, tetapi katakan pada masalah bahwa ‘aku punya Allah Yang Maha Besar’”, maka nasehat ini akan sangat ampuh ketika kita benar-benar memaknai betapa Maha Besar Sang Maha Sempurna. Pada saat itu, perasaan kita akan pemaknaan kepada Maha Besar-Nya, mengalahkan perasaan kita terhadap masalah yang dihadapi. Karena pada prinsipnya hanya perasaan yang bisa menggantikan perasaan, dan bukan oleh pikiran positif.

Seperti yang telah disampaikan di atas bahwa semakin kita memaknai bahwa seseorang memiliki jabatan dan status yang tinggi, maka semakin besar pula perasaan kita dalam menghormati orang tersebut. Ini bisa menjadi perbandingan pemaknaan di mental kita akan betapa Maha Besar-Nya Sang Maha Sempurna.

Karena ketinggian status Sang Maha Sempurna bukan lagi sekadar pemberian (para pejabat itu memiliki status tinggi karena diberikan/diamanahkan kepadanya), melainkan karena Dzat-Nya adalah juga ketinggian status-Nya. Jika kecerdasan bagi manusia adalah suatu pemberian karena kecerdasan hanya akan melekat ketika telah belajar, maka semua ketinggian sifat dan nama-Nya adalah juga Dzat-Nya sendiri, dan bukan sebagai sesuatu yang melekat kepada Dzat-Nya.

Yang terjadi pada kebanyakan orang adalah mereka lebih sering memaknai segala hal tentang dirinya dan di luar dirinya, sehingga perasaan mereka lebih sering terikat kepada segala hal selain Sang Maha Sempurna. Dan ketika ada masalah, maka masalah itu yang dimaknai secara berlebihan dan perasaannya akhirnya terkunci pada masalah itu, seolah dunia ini hanyalah tentang masalah tersebut.

Oleh sebab itu, kita mesti belajar memaknai secara mendalam nama-nama Sang Maha Sempurna karena melalui nama-nama-Nya kita mengenal Sang Maha Sempurna. Dan melalui pemaknaan terhadap nama-nama-Nya kita lebih menghayati (terhadirkan perasaan intens) nama-nama tersebut dan tidak lagi tergoyahkan oleh segala hal selain Sang Maha Sempurna. Saat kondisi ini yang kita alami, maka sangat benar nasehat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw: “Jangan biarkan kesulitan membuatmu gelisah. Karena bagaimanapun juga hanya di malam yang paling gelap bintang-bintang tampak bersinar lebih terang.”

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *