Renungan dan Keterpakuan Konstruktif

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam

Penulis harus memohon maaf terlebih dahulu karena menuliskan contoh berikut. Akan tetapi contoh ini disampaikan untuk mempermudah kita menyadari bahwa sesungguhnya setiap diri kita mampu untuk merenung dan terpaku yang konstruktif. Tak peduli itu laki-laki ataupun perempuan, ketika ia tertarik pada lawan jenisnya, maka ia cenderung akan tenggelam ke dalam pikiran internalnya dan terpaku dengan apa yang dipikirkan dan dikhayalkannya. Ia tenggelam ke dalam pikirannya sendiri dan isinya seringkali berupa: ia tampan/cantik, tubuhnya aduhai/seksi, dan berbagai hal yang sesungguhnya ia ciptakan sendiri di dalam pikirannya berdasarkan pada apa yang dilihatnya.

Semakin ia terpaku pada ciptaan pikirannya sendiri, maka semakin ia merasakan berbagai perasaan yang terkait dengan pikiran tersebut. Ia tiba-tiba merasa jatuh cinta, tertarik, bergairah, bersemangat, atau perpaduaan dari semua perasaan tersebut. Contoh ini menunjukkan kepada kita bahwa apa yang kita renungkan dan kemudian terpaku dengan renungan tersebut, akan melahirkan suatu perasaan yang dengan perasaan itu kita tersadar akan sesuatu. Dalam contoh di atas, tercipta kesadaran bahwa “ia sungguh mempesona” atau “saya ternyata sangat tertarik padanya”.

Dan kesadaran yang lahir itu bersifat menggerakkan. Kita tergerak untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan kesadaran baru yang muncul dari hasil renungan dan keterpakuan kita. Sayangnya, kebanyakan dari kita melakukan teknik ini hanya pada yang nampak dan yang menarik perhatian saja. Padahal kta bisa melakukan teknik ini untuk merenungi apa yang ada di balik penampakan lahiriah. Kita bisa melakukan teknik ini dengan merenung betapa pasangan kita telah melakukan banyak hal baik terhadap diri kita, yang selama ini luput dari perhatian sadar kita.

Kita bisa melakukan teknik ini pada orang tua, anak, sahabat, dan bahkan pada orang yang kita benci. Karena dengan merenungi hal-hal baik yang seringkali luput dari perhatian kita, dan kemudian kita tenggelam dan terpaku dengan renungan itu, maka akan lahir suatu perasaan konstruktif yang memicu hadirnya kesadaran baru: BAHWA IA BEGITU PENTING DAN BERHARGA BAGI SAYA. Dan semakin sering kita merenungi, tenggelam, dan terpaku pada hal konstruktif ini, kesadaran konstruktif kita pun akan semakin menguat intensitasnya. Hal ini akan menjadi tenaga penggerak bagi kita untuk kemudian merubah sikap dan perilaku kita menjadi lebih positif dan konstruktif terhadap mereka.

Teknik ini juga sangat ampuh digunakan dalam merenungi sesuatu yang berada di balik keindahan alam semesta ini. Semakin dalam kita merenungi adanya Eksistensi Yang Maha Agung dan Maha Suci di balik penampakan keindahan alam semesta, maka semakin kuat intensitas perasaan kita kepada Sang Maha Sempurna, dan semakin besar kesadaran kita hadir, yang kemudian menggerakkan kita untuk secara sadar menghamba kepada-Nya. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka (QS 3:191).

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *