JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan Indonesia memiliki stok beras yang aman meski situasi pangan global tengah menghadapi ketidakpastian. Ia mengungkapkan bahwa sebanyak 33 negara mulai menahan pasokan pangan guna memperkuat cadangan domestik mereka.
Amran menjelaskan, ketegangan geopolitik saat ini berpotensi besar mengganggu jalur distribusi pangan antarnegara. Kondisi tersebut memaksa sejumlah negara mengamankan persediaan masing-masing untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis pangan.
“Beberapa negara mengalami kesulitan. Sesuai dengan informasi yang ada, ada 33 negara yang menahan pangannya demi mempersiapkan stok di tengah kondisi geopolitik yang memanas. Dampaknya, distribusi menjadi sulit, angkutan terhambat, dan seterusnya,” ujar Amran dalam konferensi pers, Minggu (8/11/2026).
Di tengah tekanan global tersebut, Amran menyatakan bahwa persediaan beras di dalam negeri masih sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ia bahkan mengklaim Indonesia berhasil memasuki tahun kedua tanpa impor beras di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Indonesia masuk tahun kedua tidak impor beras. Sekali lagi, tahun kedua tidak impor beras. Di pemerintahan Bapak Presiden Prabowo, kita syukuri beras kita, stok kita aman,” tegas Amran.
Lebih lanjut, Mentan menegaskan bahwa ketersediaan pangan nasional harus dijaga secara konsisten mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, yakni mencapai sekitar 286 juta jiwa. Menurutnya, pemerintah wajib memastikan kebutuhan mendasar ini tetap terpenuhi di tengah tekanan pasokan global.
“Kita harus jaga Indonesia. Penduduk kita nomor empat di dunia, ada 286 juta orang. Ini yang harus kita jaga pangannya siang dan malam,” imbuhnya.
Kolaborasi Strategis dengan China
Untuk memperkuat ketahanan pangan jangka panjang, pemerintah Indonesia kini tengah menjajaki kerja sama strategis dengan Pemerintah China. Amran mengungkapkan dirinya baru saja kembali dari kunjungan kerja ke Beijing untuk menemui Menteri Pertanian China guna membahas kolaborasi di tengah ancaman krisis pangan dan energi global.
“Kami baru pulang dari Beijing, bertemu dengan Menteri Pertanian di sana dan berdiskusi panjang lebar. Kita akan bekerja sama ke depan untuk memperkuat pangan, karena dunia saat ini sedang menghadapi krisis pangan dan krisis energi,” ungkap Amran.
Amran menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik kedua negara, melainkan juga membuka peluang besar untuk mengekspor pangan ke negara-negara lain.
“Dari China, kemudian kita berkolaborasi. Dan itu bukan untuk kepentingan China dan Indonesia saja, tetapi hasilnya bisa diekspor ke negara lain. Jadi, itulah komitmen saya dengan Menteri Pertanian China,” pungkasnya.
[KE/Red]
Sumber: Warta Ekonomi.co.id












