Oleh Syahril Syam
Keyakinan pada diri kita mewujud ketika sebuah konsep berubah menjadi perasaan. Konsep adalah ide atau gagasan yang menggambarkan pemahaman umum tentang sesuatu, yang merujuk pada makna yang terkandung dalam kata atau frasa. “Hidup ini indah”, “hidup ini susah”, “hidup adalah tantangan”, “hidup ini tidak adil”, “semua laki-laki tidak bisa dipercaya”, “semua perempuan suka baper”, dan sebagainya adalah contoh-contoh dari konsep. Ketika konsep ini terpahami oleh akal kita, maka neurotransmiter otak akan memulai proses berpikir dalam otak untuk memproduksi pemahaman tentang konsep tersebut. Neuropeptida kita akan secara kimiawi memberikan sinyal pada tubuh dengan cara yang spesifik, sesuai dengan konsep yang terpahami tadi.
Jika konsep yang terpahami oleh akal kita adalah “hidup ini indah”, maka neuropeptida memicu hadirnya perasaan nyaman, tenang, dan bahagia. Kalau yang terpahami adalah konsep “hidup ini susah”, maka perasaan yang muncul adalah sedih, putus asa, dan ketidaknyamanan. Artinya perasaan yang muncul akan selalu sesuai dengan konsep apapun yang terpahami oleh akal kita. Semakin sering mengkonsumsi konsep-konsep yang destruktif, maka perasaan yang sering hadir juga bersifat destruktif. Takut, marah, sakit hati, kecewa, jengkel, sedih, khawatir, panik, cemas, dan putus asa, adalah perasaan yang akan selalu muncul ketika terlalu sering mengkonsumsi konsep-konsep destruktif.
Dan kebanyakan konsep-konsep destruktif ini ditanamkan oleh orang tua kepada anaknya di masa tumbuh kembangnya. Biasanya melalui teguran, imprint, ataupun perkataan-perkataan rutin yang disampaikan orang tua kepada anaknya. Ketika perasaan ini telah mengkristal, maka intensitasnya menjadi semakin kuat. Saat inilah telah terbentuk sebuah keyakinan. Dan karena perasaan adalah energi, maka cenderung mendorong seseorang untuk bertindak sesuai dengan perasaan yang dirasakannya. Sehingga seseorang kemudian akan bersikap, bertindak, dan berperilaku sesuai dengan konsep yang telah berubah menjadi perasaam tersebut.
Jika seseorang meyakini bahwa pekerjaan adalah beban, maka pada dasarnya ia akan bersikap dan bertindak sesuai dengan apa yang dirasakannya. Karena konsep “pekerjaan adalah beban” telah berubah menjadi perasaan. Sehingga perasaan yang muncul adalah “merasa bahwa pekerjaan adalah beban”. Akhirnya terbentuklah keyakinan yang berupa perasaan. “Merasa hidup ini indah”, “merasa hidup ini tidak adil”, “merasa semua laki-laki tidak bisa dipercaya”, dan berbagai perasaan-perasaan lainnya adalah berbagai contoh-contoh keyakinan yang dipegang oleh manusia.
Oleh sebab itu, untuk melakukan perubahan diri, kita mesti menyadari konsep-konsep destruktif apa saja yang menjadi landasan keyakinan kita. Kita mesti menyadari konsep-konsep apa saja yang sejak kecil telah kita konsumsi, baik dari orang tua, keluarga, teman, sekolah, dan lingkungan pergaulan. Karena setiap keyakinan yang kita pegang teguh akan selalu terasa benar bagi diri kita sendiri, maka kita mesti menyadari konsep apa saja yang melandasi keyakinan kita. Jika konsep-konsep dari keyakinan kita itu ternyata destruktif, maka segeralah menggantinya dengan konsep-konsep konstrutif. Kemudian perkuat perasaan yang muncul dari konsep konstruktif yang telah terpahami oleh akal kita.
*@pakarpemberdayaandiri












