Harapan Kepada Sang Maha Sempurna

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam

Dalam dunia olahraga, riset menunjukkan bahwa para atlet yang senantiasa berharap dan memercayakan performa mereka kepada Sang Maha Sempurna, ternyata mampu mengurangi kekhawatiran mereka. Russel H. Conwell mengatakan, “Meskipun seseorang sudah melakukan semua yang bisa dilakukannya, tetap saja ada sesuatu yang Maha Besar, sosok misterius yang lebih berkuasa yang dibutuhkannya untuk menjamin kesuksesan. Satu-satunya cara untuk mencapai sosok ini adalah dengan doa.”

Namun, ada satu hal yang cukup menggelitik. Jika ternyata harapan kepada Sang Maha Sempurna itu menimbulkan dampak konstruktif yang luar biasa, bukankah orang-orang yang beragama-lah yang lebih bisa menikmati dampak konstruktif ini? Bukankah agama mengajarkan kepada kita untuk meyakini dan menaruh harapan mutlak kepada Tuhan? Sepanjang yang bisa kita amati, ternyata sebagian orang yang beragama juga melakukan hal-hal yang justru destruktif. Mungkin karena inilah sebagian psikolog mengatakan bahwa agama itu sesungguhnya membuat orang bisa mengalami gangguan emosional.

Menurut Albert Ellis, “Agama yang dogmatis, ortodoks, dan saleh (atau apa saja yang disebut sebagai kesalehan) secara signifikan berkaitan dengan gangguan emosional. Kita umumnya mengganggu diri kita dengan percaya secara teguh pada keharusan yang absolut dan kebanyakan orang yang memercayai agama yakin pada kemutlakan yang merusak kesehatan ini. Orang yang sehat secara emosional bersifat fleksibel, terbuka, toleran, dan siap berubah, sedangkan orang yang sangat taat beragama cenderung tidak fleksibel, tertutup, tidak toleran, dan tidak mau berubah.”

Akan tetapi, ada hal menarik yang disampaikan oleh Gordon W. Allport dan J. Michael Ross (1967) dalam Personal Religious Orientation and Prejudice. Menurut Allport dan Ross, orientasi keberagamaan kita dibagi atas dua motivasi, yaitu orientasi ekstrinsik dan intrinsik. Orang-orang dengan orientasi keberagamaan ekstrinsik merujuk pada seseorang yang mempraktikkan agama lebih karena alasan luar, seperti untuk mendapatkan keuntungan sosial, status, atau untuk memenuhi kebutuhan emosional.

Bagi mereka, agama adalah alat untuk mencapai tujuan lain, seperti membangun relasi sosial atau mendapatkan dukungan komunitas, daripada sebagai tujuan hidup itu sendiri. Menggunakan pandangan agamanya untuk memperoleh rasa aman, ketentraman, status sosial, atau dukungan sosial untuk dirinya – agama bukan untuk agama itu sendiri, agama berfungsi untuk memenuhi kebutuhan lain, semata-mata dijalankan untuk dimanfaatkan. Jadi, agama dilakukan dengan tujuan untuk keamanan, kenyamanan, status, sosiabilitas, pembenaran, dan keuntungan dengan korbankan orang lain.

Sebaliknya, orang-orang yang orientasi keberagamaan intrinsik tidak bersifat instrumental. Mereka mempraktikkan agama karena benar-benar percaya dan mengalami keyakinan tersebut sebagai bagian integral dari hidup mereka. Bagi mereka, agama adalah tujuan akhir dan memengaruhi semua aspek kehidupan mereka.

Mereka beragama karena mereka merasa bahwa keyakinan agama mereka memberikan makna dan tujuan hidup. Semua kebutuhan ditundukkan pada komitmen keagamaan yang menyeluruh. Dalam meyakini keimanan agamanya, mereka juga sekaligus menginternalisasikan nilai kerendahan hati, kasih sayang, dan cinta kepada sesama. Dalam kehidupan seperti itu (ketika agama menjadi nilai intrinsik dan dominan) tidak ada tempat bagi penolakan, penghinaan, atau perendahan martabat sesama manusia.

Allport dan Ross menemukan bahwa orientasi keberagamaan intrinsik seringkali dikaitkan dengan toleransi dan kurangnya prasangka, sementara orientasi ekstrinsik lebih sering berhubungan dengan prasangka dan sikap negatif terhadap kelompok lain. Harapan kepada Sang Maha Sempurna adalah mutlak untuk kita lakukan, karena bukankah keberadaan diri kita ini pun sepenuhnya hanya dan hanya bergantung mutlak kepada Sang Maha Sempurna? Jika eksistensi diri kita bergantung sepenuhnya kepada Sang Maha Sempurna, maka adakah urusan baik yang tak sepenuhnya bergantung kepada Sang Maha Sempurna? Kita membutuhkan Sang Maha Sempurna lebih daripada sekadar kebutuhan akan diri kita sendiri. Oleh sebab itu, berharap kepada Sang Maha Sempurna meniscayakan suatu tindakan yang logis dalam mencapai tujuan.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *