Energi  

Kebahagiaan Intrinsik

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Kebanyakan dari kita seringkali melakukan Kesalahan Perkiraan Kebahagiaan (Affective Forecasting Bias), yaitu mengira bahwa kebahagiaan kita datang dari berbagai hal yang bersifat eksternal (di luar diri). Kesalahan perkiraan kebahagiaan adalah fenomena psikologis dimana seseorang salah memprediksi intensitas dan durasi kebahagiaan atau kesedihan di masa depan.

Ketika membayangkan hasil dari pencapaian eksternal (seperti kenaikan jabatan atau hubungan romantis), seseorang cenderung berpikir bahwa dampaknya terhadap kebahagiaannya akan jauh lebih besar dan lebih bertahan lama daripada yang sebenarnya. Misalnya, seseorang mungkin berpikir bahwa dengan mencapai gaji tinggi, ia akan merasa bahagia secara berkelanjutan, padahal kebahagiaan tersebut seringkali bersifat sementara. Mirip dengan menyukai makanan tertentu, namun jika dikonsumsi terlalu sering, maka bisa menjadi membosankan.

Banyak orang membayangkan bahwa mendapatkan rumah, mobil, atau pasangan sempurna akan membuatnya bahagia untuk waktu yang lama. Namun kenyataannya, kebahagiaan dari hal-hal ini seringkali hanya berlangsung sementara. Banyak budaya mengajarkan bahwa sukses, status, atau kekayaan adalah indikator kebahagiaan. Lingkungan keluarga, teman, dan masyarakat sering memberikan nilai tinggi pada pencapaian-pencapaian tersebut, yang membuat seseorang percaya bahwa memiliki hal-hal tersebut akan membawa kebahagiaan. Iklan dan media sosial juga memperkuat pesan ini dengan menampilkan hidup ideal yang penuh dengan barang mewah, liburan, dan hubungan romantis. Ini memicu asumsi bahwa kebahagiaan bisa diperoleh dari hal-hal yang bersifat eksternal.

Psikolog juga menemukan bahwa saat membayangkan masa depan, seseorang cenderung fokus pada satu aspek tertentu dan melebih-lebihkan dampaknya, sebuah fenomena yang disebut focusing illusion. Misalnya, ketika seseorang membayangkan memiliki pekerjaan bergaji tinggi, mereka sangat memusatkan perhatian pada enaknya memiliki uang yang banyak, tetapi mengabaikan hal-hal lain, seperti tekanan kerja yang tinggi atau kurangnya waktu untuk keluarga.

Efek fokus ini membuat seseorang percaya bahwa satu aspek eksternal ini adalah kunci kebahagiaan, padahal kehidupan nyata lebih kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Banyak orang menganggap bahwa kebahagiaan itu datang dari luar karena mereka belum mengembangkan atau tidak menyadari pentingnya kebahagiaan intrinsik, seperti rasa syukur, hubungan yang bermakna, dan pencapaian tujuan pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai kebaikan.

Banyak orang belum memahami bahwa kebahagiaan dapat lebih stabil ketika berasal dari dalam diri. Penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan intrinsik lebih bertahan lama daripada kekayaan atau status. Namun, karena hal-hal ini sulit diukur dan tidak selalu terlihat secara kasat mata, maka banyak orang cenderung mengabaikan kebahagiaan intrinsik ini.

Penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan yang bertahan lama seringkali berasal dari faktor-faktor intrinsik, yang tidak bergantung pada kondisi atau objek eksternal. Seseorang membeli mobil mewah karena menganggap bahwa hal tersebut akan memberikan kepuasan jangka panjang. Awalnya, mereka merasa sangat senang, tetapi seiring waktu, mereka mulai terbiasa dengan mobil tersebut, dan kebahagiaan yang dirasakan pun berkurang. Namun jika kita juga memiliki kebahagiaan intrinsik – misalnya, dengan menjaga hubungan keluarga yang bermakna atau mengembangkan rasa syukur, maka kita akan tetap merasa bahagia dan puas, terlepas dari apakah kita memiliki mobil baru atau tidak.

Mencari kebahagiaan dari hal-hal eksternal adalah hal yang umum, tetapi kebahagiaan sejati seringkali lebih mudah dicapai dari dalam diri. Dengan mengenali bahwa kebahagiaan internal lebih stabil dan berkelanjutan, kita dapat mulai memberi fokus pada hal-hal yang memberi makna dan kepuasan lebih dalam.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan yang datang dari dalam ini lebih mampu membuat kita merasa terpenuhi, karena tidak bergantung pada kondisi yang bisa berubah. Alih-alih bergantung pada pencapaian luar yang sangat cepat kehilangan dampak nikmatnya, kita bisa lebih fokus pada hal-hal yang secara konsisten memberi makna pada hidup kita, terlepas dari kondisi luar yang berfluktuasi. Tentu saja mesti dipahami bahwa kebahagiaan yang sejati berasal dari dalam diri, dan disaat yang sama juga memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Hal-hal eksternal seperti pekerjaan, hubungan sosial, dan pengalaman hidup dapat berperan sebagai pelengkap yang memperkaya kebahagiaan kita.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *