Oleh: Syahril Syam *)
Self-rewiring adalah istilah populer yang mengacu pada proses yang secara ilmiah dikenal sebagai neuroplastisitas. Kata “self” artinya diri sendiri, yaitu kesadaran, niat, dan kehendak. Sedangkan Kata “rewiring” berarti menyusun ulang kabel, dalam konteks ini maksudnya: menyusun ulang koneksi antar sel saraf (neuron) di otak.
Neuroplastisitas adalah kemampuan sistem saraf, khususnya otak, untuk mengubah struktur dan fungsinya sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, dan aktivitas sadar maupun tak sadar. Ini merupakan proses sadar atau tidak sadar dimana seseorang mengubah cara berpikir, merasakan, dan bertindak, sehingga otaknya secara fisik dan fungsional membentuk atau menguatkan koneksi neural (jalur otak) yang baru. Artinya, otak terus berubah dan beradaptasi secara struktural dan fungsional sepanjang hidup.
Self-rewiring atau penyusunan ulang diri terjadi karena otak manusia memiliki kemampuan luar biasa, dimana struktur dan koneksi di dalam otak bisa berubah dan menyesuaikan diri sepanjang hidup, tergantung pada pengalaman, kebiasaan, dan cara berpikir kita. Ada tiga proses utama yang menjelaskan bagaimana hal ini bisa terjadi.
Pertama, synaptogenesis, yaitu proses dimana otak membentuk koneksi baru antar sel-sel saraf (neuron) ketika kita belajar hal baru atau mengalami sesuatu yang bermakna. Kedua, long-term potentiation, yaitu penguatan koneksi antar neuron karena pengulangan – seperti jalan setapak yang makin jelas karena sering dilalui. Semakin sering kita mengulangi suatu pikiran atau kebiasaan, semakin kuat jaringan di otak yang mendukungnya.
Ketiga, pruning, yaitu proses “pembersihan” atau penghapusan koneksi-koneksi lama yang sudah jarang atau tidak lagi digunakan, agar otak bisa bekerja lebih efisien. Jadi, self-rewiring terjadi karena otak secara aktif memperbaharui dan menyempurnakan jaringannya agar sesuai dengan apa yang sering kita pikirkan dan lakukan. Inilah mengapa perubahan kebiasaan, cara berpikir, atau pola hidup bisa benar-benar mengubah diri kita secara nyata – bukan hanya secara psikologis, tapi juga secara biologis.
Self-rewiring adalah kenyataan biologis yang terjadi secara alami dan terus-menerus dalam diri setiap manusia. Ini bukan sekadar istilah motivasi, melainkan cerminan dari bagaimana otak kita bekerja berdasarkan prinsip neuroplastisitas. Karena itu, self-rewiring memiliki dampak langsung terhadap perilaku kita: bagaimana kita bereaksi terhadap situasi, bagaimana kita melihat dunia, dan bagaimana kita memaknai hidup.
Lebih dari itu, proses ini juga memengaruhi kesehatan mental kita, seperti ketahanan terhadap stres, kecemasan, dan depresi. Bahkan, dalam konteks yang lebih dalam, self-rewiring dapat menyentuh aspek spiritualitas, karena perubahan pola pikir dan emosi yang lebih tenang dan penuh kesadaran dapat membuka ruang untuk pertumbuhan batin dan hubungan yang lebih utuh dengan diri sendiri dan dengan realitas yang lebih tinggi.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa proses self-rewiring terjadi setiap saat, bahkan saat kita tidak menyadarinya. Eric Kandel, peraih Nobel 2000, membuktikan bahwa bahkan pikiran dan pengalaman sederhana dapat mengubah sambungan antar neuron (sinapsis). Artinya, otak selalu berubah setiap kali kita berpikir, merasa, belajar, atau beraktivitas.
Banyak orang mengira rewiring hanya terjadi saat mereka sedang relaksasi, mengikuti terapi, atau melakukan latihan kesadaran diri. Padahal, pada kenyataannya, proses self-rewiring terjadi secara otomatis, bahkan tanpa kita sadari. Otak tidak membedakan apakah aktivitas itu disengaja atau tidak; selama ia berulang, ia akan memperkuat jalur tertentu. Misalnya, jika seseorang sering merasa khawatir, marah, atau cemas, maka otaknya secara otomatis akan membentuk dan menguatkan jalur saraf yang berkaitan dengan emosi-emosi itu.
Bahkan kebiasaan kecil sehari-hari seperti sering mengeluh, suka menunda pekerjaan, atau menyalahkan diri sendiri – meskipun tampak sepele – sebenarnya membentuk pola otomatis di otak yang makin lama makin kuat. Ini menjelaskan mengapa seseorang bisa merasa “terjebak” dalam pola pikir atau reaksi tertentu.
Penelitian oleh Zald dan Rauch (2006) memperkuat hal ini, menunjukkan bahwa pengalaman emosional yang berulang memperkuat aktivitas di sistem limbik (bagian otak yang mengatur emosi), sehingga otak cenderung mengulang pola reaksi yang sama.
Sementara itu, Carrasquillo dan Gereau (2007) menemukan bahwa stres emosional dapat mengubah koneksi di amigdala, yaitu pusat pengolah rasa takut dan kemarahan di otak. Artinya, rewiring tidak hanya terjadi saat kita berusaha berubah secara sadar, tapi juga saat seseorang terus-menerus terjebak dalam pola yang tidak sehat.
Studi neurosains membuktikan bahwa rewiring terjadi bahkan saat tidur atau merenung dalam keadaan tenang. Otak kita ternyata tetap aktif meski tubuh sedang beristirahat. Saat kita tidur, terutama dalam fase tidur dalam (deep sleep), otak melakukan proses yang disebut memory consolidation, yaitu menguatkan koneksi saraf yang sering digunakan di siang hari. Ini berarti apapun yang kita pikirkan, rasakan, atau pelajari sebelumnya akan diproses dan diperkuat secara otomatis saat kita tidur.
Penelitian dari Tononi dan Cirelli (2014) menunjukkan bahwa saat tidur, otak melakukan proses yang disebut global synaptic downscaling, yaitu membuang koneksi yang tidak penting dan memperkuat koneksi yang dianggap relevan. Ini adalah bentuk alami dari self-rewiring: tanpa kita sadari, otak sedang menyortir dan menyusun ulang struktur koneksi saraf kita.
Lebih menarik lagi, ketika kita sedang merenung dalam keadaan santai – misalnya saat melamun, berkhayal, atau duduk tenang tanpa aktivitas berat – otak memasuki apa yang disebut sebagai default mode network. Dalam kondisi ini, otak justru menyusun ulang berbagai ingatan, makna, nilai, dan hubungan antar pengalaman. Proses ini sangat penting dalam pembentukan identitas diri, pemahaman hidup, bahkan pergeseran pola pikir yang mendalam. Maka, rewiring tidak hanya terjadi saat kita sadar dan berusaha berubah, tetapi juga berlangsung saat kita tidur, beristirahat, atau sekadar termenung. Ini menjelaskan mengapa tidur yang cukup dan waktu untuk merenung sangat penting untuk kesehatan mental, pembelajaran, dan pertumbuhan pribadi.
Dalam konteks filsafat Hikmah, perubahan yang terjadi dalam otak manusia bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan juga cerminan dari gerak wujud jiwa. Jalur-jalur saraf yang terbentuk atau diperkuat melalui pikiran, emosi, dan pengalaman adalah pantulan nyata dari dinamika batin dan arah spiritual kita. Dengan kata lain, ketika kita mengalami perubahan mental atau spiritual, perubahan itu tidak hanya terasa secara psikologis, tetapi juga terukir secara fisik dalam otak kita – ia menjadi perubahan yang eksistensial.
Jika setiap pikiran dan emosi memang benar-benar mengubah jaringan otak – sebagaimana dibuktikan oleh ilmu neurosains modern – maka kebiasaan-kebiasaan spiritual seperti tafakkur (merenung), zikir (mengingat Sang Maha Sempurna), sabar, dan syukur bukan sekadar praktik menenangkan diri. Lebih dari itu, kebiasaan-kebiasaan ini secara harfiah membentuk ulang jalur-jalur saraf dan struktur kesadaran kita, memperhalus jiwa, dan menyusun kembali struktur keberadaan kita melalui proses self-rewiring.
Sebaliknya, emosi-emosi seperti kemarahan, iri hati, dan keputusasaan juga membentuk jalur rewiring – tetapi membawa jiwa menjauh dari fitrahnya yang bercahaya. Mereka menciptakan “pola gelap” dalam struktur kesadaran, yang dalam pandangan filsafat Hikmah berarti penyimpangan dari arah gerak kesempurnaan. Dengan demikian, perubahan spiritual sejati menurut filsafat Hikmah adalah transformasi wujud yang meresap sampai ke level paling konkret: struktur otak, arah kesadaran, dan bentuk batin seseorang itu sendiri. Inilah sebabnya mengapa kesadaran terhadap pikiran, perasaan, dan kebiasaan sehari-hari menjadi sangat penting dalam mengarahkan perubahan diri kita ke arah yang lebih sehat dan bermakna.
@pakarpemberdayaandiri






