Oleh: Syahril Syam
Ada sebuah nasehat bijak yang disampaikan oleh Imam Ja‘far ash-Shadiq, “Barang siapa yang dua harinya sama, maka ia telah tertipu. Barang siapa yang harinya lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung. Dan barang siapa yang harinya lebih buruk dari kemarin, maka ia sungguh merugi.” Dua hari yang sama menggambarkan stagnasi dalam pertumbuhan spiritual, akhlak, atau amal. Lebih buruk dari kemarin menunjukkan kemunduran – baik dalam iman, amal, maupun akhlak – dan ini menunjukkan kelalaian atau keterjatuhan. Sedangkan Lebih baik dari kemarin adalah tanda orang yang sadar dan berkembang, baik secara ruhani maupun dalam amal saleh.
Filsafat Hikmah menyatakan bahwa tubuh bukanlah entitas yang terpisah dari jiwa, melainkan merupakan bentuk tampak dari jiwa itu sendiri – manifestasi jiwa pada tingkatan wujud yang lebih rendah. Artinya, tubuh secara terus-menerus dibentuk dan dipengaruhi oleh gerak substansial jiwa, yaitu perubahan batin yang mendalam dan berkelanjutan.
Dalam pandangan ini, jiwa tidaklah “mengisi” tubuh, tetapi aktif mencetak bentuk tubuh melalui alur geraknya. Menariknya, pandangan ini sejalan dengan pendekatan modern dalam ilmu saraf. Salah satu contoh paralelnya dapat dilihat dalam konsep neuroplastisitas, yakni kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi seiring waktu berdasarkan pengalaman dan kebiasaan mental. Misalnya, ketika seseorang membiasakan diri untuk bersabar, bersyukur, atau sebaliknya, mudah marah, maka kebiasaan mental ini akan memengaruhi pola koneksi antar sel saraf (sinaps) dalam otak.
Gerak jiwa menuju kebaikan atau sebaliknya, menjauh dari nilai-nilai Ilahi, secara nyata meninggalkan jejak dalam struktur biologis otak. Hal ini memperkuat gagasan bahwa jiwa tidak hanya bergerak secara metafisis, tetapi geraknya itu berdampak fisik – menorehkan pola dalam tubuh, terutama pada sistem saraf. Setiap hari adalah Evolusi Wujud. Artinya, setiap saat dalam hidup manusia adalah bagian dari proses perubahan yang mendalam dalam keberadaan dirinya. Tidak ada satu momen pun yang benar-benar netral. Filsafat Hikmah menjelaskan bahwa jiwa manusia selalu mengalami gerak substansial (al-harakah al-jawhariyyah), yakni perubahan inti atau hakikat wujud yang terus berlangsung dari dalam.
Jiwa tidak pernah diam, dan tidak pernah berada dalam keadaan tetap. Setiap pengalaman, pilihan, dan dorongan batin membentuk arah geraknya, baik itu ke atas – menuju kesempurnaan, kedewasaan, dan kedekatan dengan Sang Maha Sempurna – atau ke bawah, yaitu kemerosotan menuju kehinaan, keburukan, dan keterasingan dari nilai-nilai Ilahi.
Dengan kata lain, manusia tidak pernah hanya “berjalan di tempat”. Ia selalu sedang menjadi sesuatu, entah sadar atau tidak. Kesadaran atas hal ini mendorong kita untuk mengambil sikap dan arah hidup dengan penuh tanggung jawab. Sebab setiap hari, bahkan setiap pikiran dan perasaan, berkontribusi dalam membentuk siapa kita di level terdalam. Maka, mengenali bahwa hidup adalah perjalanan evolusi wujud menuntut kita untuk terus memilih pertumbuhan daripada keterpurukan, karena diam pun sebenarnya adalah gerak, hanya saja mungkin ke arah yang salah.
Saat dikatakan “dua harinya sama, maka ia telah tertipu” – ini bukan sekadar nasihat moral agar kita menjadi lebih rajin atau produktif, melainkan sebuah peringatan ontologis, yaitu peringatan tentang hakikat keberadaan manusia. Dalam pandangan Filsafat Hikmah, khususnya dalam kerangka gerak substansial, jiwa manusia tidak pernah benar-benar diam. Ia selalu bergerak, berubah, dan berkembang – entah menuju kebaikan atau sebaliknya. Maka ketika seseorang menjalani dua hari yang terlihat sama – melakukan aktivitas lahiriah yang serupa tanpa peningkatan kualitas batin seperti keikhlasan, kekhusyukan, atau kedekatan kepada Sang Maha Sempurna – sebenarnya ia sedang mengalami kemunduran.
Mengapa demikian? Karena stagnasi kesadaran tidak berarti jiwa diam di tempat. Justru karena jiwa itu selalu bergerak, maka tidak ada posisi netral. Jika arah geraknya tidak mendekat ke arah yang lebih luhur, maka ia bergerak menjauh. Jadi, ketika amal hanya diulang-ulang secara otomatis tanpa pertumbuhan makna batin, maka seseorang telah tertipu oleh rutinitas. Ia mengira dirinya tetap, padahal hakikat wujudnya justru mundur. Peringatan ini mengajak kita untuk terus mengasah kesadaran, memperdalam hubungan ruhani, dan memastikan bahwa setiap hari membawa kita sedikit lebih dekat kepada tujuan keberadaan yang sesungguhnya: penyempurnaan jiwa dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Apakah ini berarti kita harus selalu menambah amal baru? Tidak selalu demikian. Pertumbuhan spiritual tidak selalu diukur dari banyaknya bentuk ibadah atau aktivitas lahiriah yang berbeda. Yang jauh lebih penting adalah peningkatan kualitas dan kedalaman dari amal yang kita lakukan, meskipun bentuknya tetap sama. Dalam pandangan filsafat dan spiritualitas Islam, terutama dalam kerangka gerak substansial jiwa, yang dinilai bukan hanya “apa” yang dilakukan, tetapi “bagaimana” dan “dengan kesadaran seperti apa” amal itu dilakukan. Contohnya, zikir yang sama bisa menjadi sangat berbeda nilainya jika dilakukan dengan kehadiran hati yang lebih dalam dari sebelumnya.
Begitu pula sedekah yang jumlahnya sama, tetapi jika dilakukan dengan keikhlasan yang lebih murni dan benar-benar tanpa pamrih, maka bobot spiritualnya akan meningkat. Shalat pun demikian – bentuknya boleh jadi tetap, tetapi jika disertai pemahaman dan rasa tunduk yang lebih dalam, maka hakikatnya adalah shalat yang berbeda dan lebih tinggi nilainya. Jadi, bukan soal terus menambah “daftar amal”, melainkan memperdalam apa yang sudah kita lakukan. Ini sejalan dengan prinsip bahwa jiwa selalu bergerak – maka yang penting adalah memastikan gerak itu menuju kedalaman makna, bukan sekadar kuantitas tindakan.
Secara ontologis dan spiritual, ketika seseorang dikatakan “lebih buruk dari kemarin”, itu bukan hanya soal tampilan lahiriah – apakah ia sibuk, bekerja keras, atau terlihat produktif. Yang dimaksud adalah kondisi terdalam dari jiwanya yang sedang mengalami kemunduran, terutama dalam kesadaran dan kedekatannya kepada Sang Maha Sempurna. Jiwa yang menurun kualitasnya akan tampak dalam bentuk-bentuk seperti meningkatnya reaktivitas emosional, makin berkurangnya rasa hadir dalam ibadah, makin banyak keluh kesah dalam hati, atau aktivitas yang dijalani tanpa makna batin. Secara eksistensial, ini berarti jiwa sedang bergerak ke arah yang lebih gelap – menjauh dari cahaya Ilahi, walaupun tubuhnya tampak aktif.
Ketika arah gerak ini menjauh dari Sang Maha Sempurna, maka secara hakikat seseorang sedang meluncur keluar dari orbit rahmat-Nya. Mungkin ia tidak sadar, tetapi jika tidak segera menyadari dan memperbaiki arah batinnya, maka ia makin jauh dari pusat cahaya dan kasih sayang Sang Maha Sempurna. Ini adalah kemunduran eksistensial, bukan sekadar kemalasan moral.
Dalam sudut pandang ilmu otak, kondisi ini juga dapat dijelaskan secara ilmiah. Ketika seseorang lebih sering mengalami emosi negatif, seperti marah, malas, sedih berkepanjangan, atau terus mengulang pola pikir destruktif, maka jalur-jalur sinapsis di otak yang berkaitan dengan kebiasaan buruk itu akan makin diperkuat. Ini disebut long-term potentiation terhadap pola negatif. Akibatnya, otak akan semakin otomatis membawa seseorang pada pola reaktif, pikiran pesimis, atau perasaan putus asa.
Dengan demikian, meskipun secara lahiriah sebuah amal tampak sama – seperti membaca doa yang sama setiap pagi – pada hakikatnya, jiwa dan otak yang melakukannya tidak pernah berada dalam keadaan yang benar-benar identik dari hari ke hari. Ini karena manusia mengalami perubahan terus-menerus, baik secara batin maupun biologis. Maka, walaupun bentuk amalnya berulang, amal tersebut tetap membawa makna dan efek yang berbeda bila dilakukan dengan tingkat kesadaran, keikhlasan, kekhusyukan, atau penghayatan yang lebih dalam dari sebelumnya. Jiwa manusia senantiasa mengalami perubahan hakiki dalam keberadaannya. Artinya, “aku” yang melaksanakan amal hari ini secara ontologis bukan lagi “aku” yang sama seperti kemarin, meskipun aktivitasnya tampak serupa. Jiwa terus bergerak, dan setiap amal memperkuat arah gerak itu, baik menuju kesempurnaan maupun menjauh darinya.
Dalam ilmu otak, hal ini juga terbukti secara ilmiah, dimana terjadi penguatan hubungan antar sel saraf (sinapsis) setiap kali suatu aktivitas dilakukan berulang. Jika pengulangan itu disertai dengan niat yang kuat, emosi yang tulus, dan kontemplasi yang dalam, maka struktur otak benar-benar berubah dan bertumbuh.
Dengan kata lain, amal yang sama secara lahiriah, jika dilakukan dengan cinta, kesadaran, dan kehadiran batin yang lebih tinggi, bukanlah pengulangan yang sia-sia, melainkan langkah nyata menuju kemajuan – baik dari sisi spiritual maupun neurofisiologis. Amalan yang sejati bukan hanya apa yang dilakukan tangan dan lisan, tetapi apa yang dilakukan oleh gerak wujud jiwa menuju Sang Maha Sempurna.
Maka jangan biarkan hari ini sama seperti kemarin – bukan karena kurang amal baru, tapi karena kurang kehadiran cinta yang lebih tinggi. Setiap hari bukan hanya waktu yang berganti, tapi posisi jiwa yang berubah dalam peta cahaya atau kegelapan. Karena itu, penting bagi setiap manusia untuk menyadari arah gerak dirinya, bukan hanya secara fisik dan sosial, tetapi terutama secara batin dan kesadaran.
@pakarpemberdayaandiri






