Tanpa Sadar Selalu Ingin Diperhatikan Hingga Lansia

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Kebutuhan untuk dicintai dan diperhatikan adalah bagian alami dari diri manusia yang tidak hilang seiring bertambahnya usia. Meskipun sering diasumsikan bahwa hanya anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang, kenyataannya kebutuhan ini tetap ada bahkan hingga seseorang menjadi dewasa atau lanjut usia.

Dalam ilmu psikologi, kebutuhan akan afeksi dan pengakuan sosial merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia, seperti yang dijelaskan oleh Abraham Maslow dalam hierarki kebutuhannya. Artinya, meskipun seseorang sudah mandiri secara fisik dan ekonomi, ia tetap membutuhkan kehadiran emosional dari orang lain, seperti perhatian, empati, atau kasih sayang yang tulus. Ketiadaan hal ini bisa menimbulkan rasa kesepian, penolakan, atau bahkan gangguan emosi.

Namun, karena tuntutan norma sosial atau ketidaksadaran diri, kebutuhan ini sering tidak diungkapkan secara langsung. Sebaliknya, muncullah bentuk-bentuk pencarian perhatian yang lebih halus atau tersamar. Pertama, Suka Mengeluh Terus-Menerus. Keluhan yang berulang tentang kesehatan, tetangga, politik, anak, cucu, bahkan cuaca, seringkali bukan untuk mencari solusi nyata.

Secara psikologis, mengeluh bisa menjadi cara untuk menciptakan koneksi sosial dan menunjukkan bahwa mereka masih ada, masih perlu didengar, dan masih ingin dipedulikan. Ini adalah bentuk komunikasi emosional yang kadang menggantikan ungkapan langsung seperti “aku merasa sendiri” atau “aku butuh perhatian”.

Kedua, Membesar-besarkan Peran Diri di Masa Lalu. Banyak lansia yang senang menceritakan kisah kejayaan, pengorbanan, atau prestasi masa lampau. Ini bukan sekadar nostalgia, tapi sering menjadi cara halus untuk meminta pengakuan.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan kebutuhan akan self-worth (harga diri) dan legacy (warisan makna hidup), yaitu keinginan untuk merasa bahwa hidup mereka berarti dan dikenang. Ketiga, Menyudutkan Orang Lain untuk Menarik Simpati.

Bentuk ini tampak dalam narasi bahwa dirinya selalu disakiti, tidak dipahami, atau paling benar. Dalam banyak kasus, ini adalah mekanisme pertahanan diri untuk menjaga citra dan sekaligus cara tidak langsung untuk mendapatkan empati dari orang sekitar. Jika dibiarkan, pola ini bisa menimbulkan konflik dalam hubungan sosial.

Keempat, Over-sharing di Media Sosial. Unggahan berisi curhat, foto-foto pribadi yang terlalu detail, atau status yang penuh emosi bisa menjadi bentuk pencarian perhatian digital. Di balik setiap unggahan, mungkin tersembunyi keinginan untuk mendapatkan komentar, respons, atau setidaknya perasaan “dilihat” oleh dunia.

Fenomena ini kini semakin umum dan bisa terjadi pada siapa saja, tak terkecuali orang dewasa dan lansia. Kelima, Cenderung Dramatis atau Menyabotase Situasi. Beberapa individu mungkin menciptakan konflik kecil, marah tiba-tiba, atau “ngambek” ketika merasa diabaikan.

Kadang hal ini muncul saat mereka tidak diajak bicara, tidak dikunjungi, atau merasa tidak lagi menjadi pusat perhatian keluarga. Ini adalah bentuk komunikasi emosional yang tidak disadari, yang berusaha mengatakan: “Perhatikan aku. Aku masih di sini.”

Keenam, Over-Control, Terutama pada Anak atau Cucu. Sikap terlalu ikut campur dalam urusan anak atau cucu – seperti menasihati terus-menerus atau merasa “paling tahu” – bisa jadi bukan karena mereka lebih bijak, melainkan karena rasa takut kehilangan peran. Dengan tetap terlibat, mereka merasa masih dibutuhkan, masih relevan, dan belum ditinggalkan oleh zaman atau keluarga.

Semua bentuk tersebut bukanlah tanda kelemahan, melainkan isyarat bahwa manusia – dalam usia berapa pun – tetap memiliki kebutuhan dasar akan koneksi, kasih sayang, dan makna. Kesadaran akan bentuk-bentuk tersamar ini bisa membantu keluarga dan lingkungan sosial untuk merespons dengan lebih empatik, bukan dengan penolakan atau penghakiman. Sebab pada akhirnya, yang dibutuhkan hanyalah hadirnya cinta yang tidak bersyarat dan ruang untuk tetap merasa berarti.

Mengapa orang dewasa/lansia masih mencari perhatian? Karena kebutuhan akan perhatian tidak serta-merta hilang hanya karena seseorang telah dewasa atau menua. Banyak orang dewasa dan lansia sebenarnya masih membawa luka emosional dari masa kecil yang belum sembuh. Misalnya, jika sejak kecil mereka hanya mendapat cinta saat berprestasi, sedang sakit, atau bersikap baik, maka otak mereka belajar bahwa cinta itu bersyarat.

Pola ini membentuk keyakinan bawah sadar seperti “aku baru berarti kalau diperhatikan”. Akibatnya, meski usia bertambah, mereka tetap mencari cara agar diperhatikan – bukan karena manja, tapi karena bagian dalam diri mereka belum pernah benar-benar merasa dicintai tanpa syarat.

Di samping itu, banyak lansia mengalami perubahan peran sosial, seperti pensiun, kehilangan pasangan, atau anak-anak yang sibuk sendiri. Semua ini bisa menimbulkan rasa kesepian, perasaan tidak dianggap, dan kehilangan makna hidup.

Dalam kondisi seperti ini, perhatian dari orang lain menjadi semacam “pengisi” dari ruang emosional yang kosong. Mereka pun mencari validasi atau pengakuan, meskipun dalam bentuk-bentuk yang tidak selalu disadari. Validasi ini bisa mengisi kekosongan sementara, namun jika terus dikejar, justru bisa menambah rasa tidak puas. Inilah mengapa beberapa orang dewasa atau lansia tampak seperti terus “menuntut perhatian”, padahal yang mereka butuhkan sesungguhnya adalah pengakuan bahwa mereka masih dicintai, tanpa syarat.

Tapi, ketika cinta kepada Sang Maha Sempurna benar-benar dirasakan dan mengakar dalam hati, manusia tidak lagi hidup dengan rasa kekurangan atau haus akan perhatian dari luar. Ia tidak lagi menggantungkan nilai dirinya pada pengakuan, pujian, atau validasi dari orang lain. Sebaliknya, ia merasa utuh karena menyadari bahwa dirinya dicintai tanpa syarat oleh Sang Pencipta. Perasaan ini menciptakan ketenangan batin yang mendalam, dimana hati tidak lagi gelisah karena merasa tidak dianggap atau ditinggalkan.

Dalam kondisi spiritual seperti ini, manusia justru menjadi sosok yang lebih mampu memberi daripada sekadar mencari. Ia tidak lagi menjadi pengemis perhatian, tetapi menjadi sumber perhatian dan kasih bagi orang lain. Sebab cinta Ilahi yang memenuhi hatinya melimpah menjadi energi untuk menyayangi, mendengarkan, dan peduli tanpa motif tersembunyi.

@pakarpemberdayaandiri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *