Oleh: Syahril Syam *)
Seringkali kita menjumpai orang yang berkata, “Saya jadi begini karena dia”, atau “Kalau saja dia tidak menyakiti saya, saya tidak akan melakukan hal ini”. Pola pernyataan seperti itu pada dasarnya sama: berusaha membenarkan tindakan buruk dengan cara meletakkan kesalahan pada orang lain. Cara berpikir seperti ini membuat seolah-olah hidup kita sepenuhnya ditentukan oleh perlakuan orang lain, padahal tidak demikian. Memang, pengalaman disakiti bisa menimbulkan luka yang dalam, tetapi tetap ada ruang bagi setiap orang untuk memilih bagaimana meresponsnya. Ketika seseorang terus-menerus menyalahkan orang lain atas tindakannya, ia sebenarnya sedang menyerahkan kendali hidupnya kepada pihak luar, bukan mengambil tanggung jawab atas pilihan pribadinya. Dalam bahasa sederhana, itu sama saja dengan berkata, “Saya tidak punya pilihan”, padahal pilihan itu selalu ada – meski seringkali pilihan terbaik menuntut keberanian, kesabaran, atau usaha yang lebih besar.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari salah satu pesan mendalam yang disampaikan Al-Qur’an tentang penciptaan manusia dalam QS 90:4: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah/kepayahan (kabad).” Secara harfiah kabad bermakna kesulitan, kepayahan, perjuangan. Menurut penjelasan salah seorang ulama tafsir, kata kabad tidak sekadar bermakna penderitaan fisik atau rasa lelah jasmani, tetapi menunjuk pada kondisi eksistensial manusia yang memang selalu berada dalam ruang perjuangan. Hidup manusia digambarkan sebagai arena tarik-menarik yang terus-menerus antara dimensi materi dan ruhani, antara orientasi dunia dan kesadaran akhirat.
Jika diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari, kabad dapat dipahami sebagai dinamika batin yang membuat kita terus bergerak di antara pesimisme dan optimisme, putus asa dan harapan, kelemahan dan kekuatan. Inilah kodrat manusia: bukan sekadar hidup untuk nyaman, tetapi untuk terus berjuang menemukan keseimbangan, agar tidak terseret sepenuhnya oleh sisi gelap pesimisme dan keterikatan duniawi, melainkan mampu menumbuhkan optimisme, kesabaran, dan arah hidup yang lebih bermakna. Sejak awal penciptaannya, manusia memang ditakdirkan untuk menjalani hidup yang penuh dengan ketegangan, ujian, dan dinamika batin. Dan ini mencakup seluruh aspek keberadaan manusia – fisik, mental, emosional, hingga spiritual. Dengan kata lain, hidup manusia tidak pernah benar-benar statis atau sepenuhnya bebas dari tantangan; justru tantangan itu melekat sebagai bagian dari keberadaan kita.
Makna eksistensial menggambarkan bahwa perjuangan manusia adalah sesuatu yang berulang dan tidak pernah selesai. Namun, melalui proses perjuangan itulah manusia berkesempatan tumbuh, menemukan kedewasaan batin, serta mendekatkan diri kepada Sang Maha Sempurna. Kita tidak bisa hidup tanpa kesulitan, karena justru di sanalah jiwa ditempa. Artinya, perjuangan terberat manusia bukanlah menghadapi dunia luar, melainkan menghadapi dirinya sendiri. Dengan memahami kabad sebagai kondisi dasar hidup, penderitaan tidak lagi dipandang sekadar beban, melainkan sebagai proses internal yang membentuk manusia untuk mencapai kedamaian, kesejahteraan, dan kesadaran spiritual. Maka, kabad bisa dipahami sebagai jembatan: ia menuntun manusia melewati kehidupan untuk menemukan makna hidup yang lebih dalam.
Kabad adalah kesulitan yang melekat dalam diri manusia, sesuatu yang tidak bisa dihindari karena merupakan bagian dari kodrat hidup. Namun, kesulitan ini bukan sekadar beban, melainkan dapat dipahami sebagai stimulus atau pemicu bagi manusia untuk berkembang. Pertama, kabad mendorong manusia berjuang melawan gejolak batin – seperti nafsu, kecemasan, rasa takut, atau ambisi yang berlebihan – yang seringkali menjadi sumber penderitaan lebih besar daripada tantangan eksternal itu sendiri. Kedua, kabad memberi peluang bagi manusia untuk menemukan makna dalam penderitaan dan perjuangan, yakni menyadari bahwa setiap kesulitan membawa pelajaran dan arah bagi pertumbuhan batin. Ketiga, melalui pengalaman menghadapi kabad, manusia diajak mengembangkan kesadaran diri dan naik tingkat dalam perjalanan eksistensial maupun spiritualnya.
Dengan demikian, kabad bukanlah kondisi yang melemahkan, melainkan sebuah ruang latihan hidup yang, jika dijalani dengan kesadaran, akan memperkuat jiwa, menumbuhkan kematangan, serta mendekatkan manusia kepada tujuan hidup yang lebih tinggi dan transendental. Dalam bahasa psikologi, kabad dapat dipahami sebagai titik rawan atau titik kritis dalam diri manusia – sebuah persimpangan batin tempat kita dihadapkan pada pilihan penting. Di titik ini, manusia bisa jatuh ke dalam pesimisme atau justru bangkit dengan optimisme. Ia bisa memilih untuk menyalahkan orang lain atas perbuatan buruk yang dilakukannya, atau sebaliknya mengambil tanggung jawab penuh dengan sadar untuk tetap konsisten pada jalan yang benar dan baik.
Kabad juga hadir sebagai momen tarik-menarik: apakah seseorang akan tenggelam dalam jurang hawa nafsu atau justru naik menuju dimensi ruhaniah yang lebih tinggi; apakah ia larut dalam kemarahan yang membutakan atau mampu hadir dengan kesadaran yang melahirkan kebijaksanaan. Dengan demikian, kabad bukan hanya kondisi penderitaan, tetapi juga arena pilihan yang menentukan arah pertumbuhan manusia – apakah ia akan terperangkap dalam sisi gelap dirinya atau melangkah menuju kematangan, kedewasaan, dan kedekatan dengan Sang Maha Sempurna.
Secara filosofis-spiritual, kabad dapat dipahami sebagai sebuah “arena latihan” yang memang disiapkan bagi manusia untuk menumbuhkan dan menguatkan jiwanya. Kesulitan menjadi bagian yang inheren dalam hidup karena tanpa adanya tantangan, jiwa manusia tidak akan berkembang. Sama seperti otot yang membutuhkan beban untuk tumbuh lebih kuat, jiwa juga memerlukan tekanan hidup agar semakin matang. Kesulitan inilah yang membangkitkan kesadaran, melatih kesabaran, menumbuhkan kemampuan pengendalian diri, sekaligus mengajarkan pemaknaan yang lebih dalam terhadap hidup. Kabad bukan sekadar penderitaan yang harus dihindari, tetapi sarana Ilahi untuk menyiapkan manusia agar mampu melampaui dirinya sendiri – melawan ego, hawa nafsu, dan rasa putus asa – sehingga jiwanya dapat tumbuh menuju kesempurnaan.
Seseorang yang gagal dalam usahanya. Pada titik itu ia bisa berkata, “Hidup saya hancur, saya tidak sanggup lagi”, lalu berhenti dan menyerah. Itu pilihan yang lahir dari putus asa. Namun ia juga bisa memilih cara lain: melihat kegagalan itu sebagai pelajaran, mengevaluasi langkahnya, dan bangkit kembali dengan semangat baru. Inilah kabad sebagai panggung pilihan – antara menyerah atau melangkah maju dengan keyakinan. Contoh lain, ketika seseorang disakiti oleh orang terdekat. Ia bisa memilih terjebak dalam dendam dan kemarahan, atau justru menjadikan pengalaman itu sebagai kesempatan untuk belajar melepaskan, menguatkan hati, dan menemukan kebijaksanaan. Dalam momen itu, kabad hadir bukan sekadar sebagai penderitaan, tetapi sebagai latihan untuk menumbuhkan jiwa.
Jadi, kabad bukan sekadar penderitaan yang membuat manusia terpuruk, melainkan sebuah panggung pilihan. Di dalamnya, setiap orang dihadapkan pada pertanyaan eksistensial: apakah ia akan berhenti karena putus asa, atau justru melangkah maju dengan keyakinan bahwa perjuangan hidup ini memiliki makna. Dengan sudut pandang ini, kabad bisa dilihat sebagai undangan untuk bertumbuh – bukan alasan untuk menyerah. Ia mengajarkan bahwa setiap kesulitan menyimpan dua kemungkinan arah: jalan kemerosotan jika kita terjebak dalam keputusasaan, atau jalan pendewasaan jika kita mampu memaknainya dengan keyakinan dan kesadaran. Pada akhirnya, kabad adalah titik kritis yang menyingkap siapa kita sebenarnya, karena pilihan yang kita ambil di tengah kesulitanlah yang menentukan kualitas jiwa kita.
@pakarpemberdayaandiri








